Siapa yang tidak geram mendengar dan melihat kasus Novel Baswedan yang pada akhirnya berulang tahun? Novel Baswedan, penyidik KPK, menjadi korban penyiraman air keras pada 11 April 2017 silam hingga akhirnya menjalankan beberapa pengobatan di dalam dan di luar negeri.

Meskipun dibebaskan dari biaya pengobatan dan perawatan, rasa sakit itu pasti tidak akan hilang, bukan rasa sakit fisik, melainkan -- lebih dari itu -- rasa sakit hati karena keadilan belum ditegakkan di negeri yang katanya menjunjung tinggi nilai HAM. Tersangka penyiraman itu pun masih bisa bernapas lega, merasakan masakan lezat, berlibur ke sana-kemari, sedangkan masyarakat menantikan tertangkapnya tersangka itu sampai dibuat kesal.

Pertanyaannya adalah sebegitu sulitkah mencari tersangka dan bukti penyiraman air keras itu? CCTV ada dan saksi mata juga ada. Atau memang kasus tersebut layaknya kasus yang dilakukan oleh orang jenius seperti dalam serial Detective Conan atau Sherlock Holmes sehingga membuat polisi dibuat kesulitan oleh pelaku meskipun ada CCTV dan saksi mata. Ataukah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan?

Anehnya, kasus maling motor, pembunuhan misterius, dan kasus lainnya yang rumit mudah sekali dipecahkan oleh kepolisian kita. Kasus kopi sianida yang menewaskan Mirna -- contohnya -- berulang kali tayang di layar kaca karena korban dan tersangka tidak mempunyai kekuasaan tinggi dalam pemerintahan.

Lain halnya dengan kasus Novel yang mana melibatkan aktor penting yang mempunyai kekuasaan tinggi, maka tak heran jika penyelidikan tersebut tak sedetail waktu penyelidikan kasus kopi sianida dulu. Novel sendiri pernah mengatakan bahwa ada jenderal atau petinggi lainnya yang ikut terlibat dalam kasus penyiraman yang menyebabkan matanya harus dioperasi.

Menurut Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), terjadi banyak kejanggalan dalam penyelidikan kasus Novel. Pertama, tidak ditemukannya sidik jari pada gagang cangkir yang diduga digunakan untuk menyiram air keras.

Kedua, ada 38 kamera pengawas, namun hanya dua yang diselidiki, padahal kemungkinan besar ada banyak bukti di dalamnya. Ketiga, dilepaskannya tiga terduga pelaku lantaran GPS dalam ponsel mereka membuktikan tidak sedang berada di TKP waktu penyerangan terjadi. Keempat, diduga ada rahasia lain yang tidak dibeberkan polisi ke publik.

Tak heran jika Novel mendapatkan ketidakadilan lantaran keberadaannya dianggap sebagai ancaman bagi pelaku mega korupsi dari kalangan atas. Kiprah Novel dalam KPK berhasil menyeret siapa saja tanpa pandang bulu, beberapa di antaranya: pertama, berhasil menjerat Kepala Korps Lalu Lintas Inspektur Jenderal Djoko Susilo dalam kasus mega korupsi pengadaan simulator kemudi kendaraan.

Kedua, menangani kasus suap Ketua MK, Akil Mochtar. Dan yang paling fenomenal adalah menanggani kasus mega korupsi E-KTP hingga disebut-sebut sebagai penyebab disiramnya Novel dengan air keras.

Lamanya kasus Novel yang belum terungkap membuat saya jadi teringkat drama Korea berjudul Signal. Ceritanya pun hampir sama, sebuah kasus yang seolah-olah ditutupi oleh kepolisian. Drama Korea itu, dalam sebuah adegannya, menceritakan di mana ada kasus mega korupsi yang melibatkan petinggi dalam pemerintahan.

Kemudian orang-orang yang memiliki kekuasaan itu berkongkalikong dengan beberapa polisi. Polisi itu pun mendapatkan tawaran kenaikan pangkat, namun ada satu polisi yang jujur dan berusaha mengungkapkan kasus mega korupsi itu.

Nahasnya, polisi jujur itu justru dibunuh oleh polisi lainnya yang sudah mendapatkan pangkat tinggi karena berhasil menutupi kasus mega korupsi. Namun akhirnya kasus itu berhasil diungkapkan karena ada polisi jujur lainnya yang ikut membantu dalam penyelidikan berbahaya itu.

Hidup tidak semudah drama Korea, begitulah ungkapan dari beberapa penikmat drama Korea. Namun sejatinya banyak hikmah yang bisa dipetik dalam drama yang menggambarkan situasi betapa sulitnya menegakkan keadilan di dunia ini, meski sulit keadilan tetap harus ditegakkan.

Sama halnya dengan kasus Novel, di mana penegak keadilan justru mendapatkan ancaman sampai-sampai kasunya berlarut-larut layaknya drama Korea yang berepisode dan lama tamatnya.

Keadilan menjadi sesuatu yang kurang berharga bahkan sampai digadaikan dengan harta dan tahta. Seseorang yang belum tentu bersalah akan sullit mencari keadilan dan seseorang yang jelas-jelas bersalah juga masih bisa berkeliaran bebas menikmati keadilan semu. Keadilan susah digapai.

Bukan menjadi rahasia umum lagi jika ada kasus yang melibatkan petinggi dalam pemerintahan atau kepolisian maka kasus tersebut akan sulit (dibuat sulit) untuk dipecahkan. Seolah-olah ada banyak fakta yang disembunyikan seperti kasus Munir dan beberapa kasus dingin lainnya.

Akan tetapi di era digital ini membuat masyarakat kita mudah mengakses informasi. Jadi sangat sulit melakukan tindakan kriminal serupa Munir. Semua orang bisa memberikan opini atau bisa juga memberikan kesaksian lantaran ada ponsel pintar yang siap merekam jika terdapat kejanggalan.

Tapi era digital tidak juga menjamin seratus persen akan terciptanya keadilan. Seberapa pun banyaknya opini dan bukti akan kejanggalan terhadap sebuah kasus namun jika penguasa dan petinggi dalam pemerintahan pandai mengiring opini maka seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Begitu pentingnya image bagi semua orang. Kita tentu akan lebih suka disebut penegak keadilan, memecahkan kasus ini dan itu, pelindung masyarakat dan sebutan baik lainnya ketimbang disebut sebagai penyembunyi fakta, melindungi tersangka dari jeratan hukum atau image buruk lainnya.

Maka dari itu media sangatlah krusial dalam membuat image. Tapi bersyukurlah kita hidup di sebuah negara demokrasi sehingga pemerintah atau rezim tidak bisa membatasi kebebasan berpendapat di media atau publik. Lantas bagaimana dengan kasus Novel? Image mana yang lebih disukai masyarakat kita?

Satu sisi masyarakat kagum dengan image mengenai kinerja kepolisian yang berhasil memecahkan kasus kriminal rumit. Namun, di sisi lain tak sedikit pula masyarakat yang semakin kecewa terhadap image institusi pelindung masyarakat itu.

Hal tersebut tentu akan menurunkan kredibilitas dan kepercayaan masyarakat terhadap kepolisian. Tapi bayangkan saja jika semua media dikendalikan pemerintah maka semua orang pasti akan diam melihat ketidakadilan terus terjadi.

Negara kita membutuhkan orang-orang jujur seperti dalam drama Korea. Meskipun hanya tokoh semu setidaknya orang-orang jujur itulah yang akan menyelamatkan keadilan. Berapapun harta yang disodorkan atau setinggi apapun jabatan atau kekuasaan yang ditawarkan akan tidak mempan pada orang-orang yang jujur.

Negara kita juga membutuhkan orang-orang berani seperti Novel yang tidak pandang bulu dalam menanggani kasus korupsi. Meskipun memiliki resiko yang mengancam jiwanya, itu bukan menjadi masalah asalkan keadilan bisa ditegakkan. Sayangnya, hukum bagi pelaku korupsi tidak sebanding dengan maling ayam yang mudah ditangkap.

Bisa saja pelaku korupsi memainkan hukum lantaran mempunyai uang yang banyak untuk suap sana-sini, mengiring opini sana-sini sampai membeli keadilan. Akan tetapi, ingatlah pengadilan Tuhan tidak bisa dibeli. Bisa saja pelaku korupsi mendapatkan hukuman yang ringan atau malah bebas dari tuduhan lantaran berhasil menyuap hakim/jaksa/siapapun namun ingatlah penjara Tuhan tetap akan berlaku.

Mari kita tunggu, akankah kasus Novel berhasil terungkap? Ataukah seperti drama Korea yang mana banyak drama terjadi di dalamnya sehingga lama tamatnya?