Kasman masih saja rajin ke mushola di samping rumahnya. Tiap malam ia datang ke tadarusan yang diadakan mushola Darussalam. Meski tiap ke sana ia tak pernah ikut membaca, tapi ia rajin datang untuk sekadar mendengarkan tetangganya membaca Alquran. 

Para tetangganya kadang menawarinya untuk membaca, tapi ia selalu menolaknya. Sering kali ia akan menolaknya dengan alasan tidak lancar membaca Alquran.

Kasman pernah merantau ke Malaysia, menjadi Tenaga Kerja Indonesia atau yang lazim disingkat TKI, selama puluhan tahun. Di sana, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Bahkan ia pernah bercerita bahwa menara kembar Petronas adalah hasil kerja ia dan kawan kawanya.

Rumah yang ia tempati adalah hasil jerih payahnya dari malaysia. Setiap kali pulang ke rumah penampilan dan tingkah laku Kasman memang sangat religius. Ia tak pernah lepas peci dan lima waktunya pun tertib. Entah apa yang mendasarinya seperti itu.

"Sangat sulit untuk hidup religius di sana. Kita sering lupa pegangan hidup saat di kongsi," ujarnya suatu ketika.

Di negeri jiran sana, sebagaimana pernah diceritakan lelaki kampungku yang pernah merantau ke sana, hidup sangat bebas. Mau apa apa tak ada yang melarang atau mengingatkan. Semua sibuk dengan urusan masing masing. 

Banyak yang melakukan maksiat di sana dan hampir tak punya malu lagi karena tak ada tetangga yang tahu. Atau kalaupun ada tetangga,  biasanya mereka masih seirama gaya hidupnya.

"Terkadang hidup begitu bebas, luar biasa bebas sampai lupa kalau kita punya anak istri yang menanti hasil kerja kita," ujar Rufin, temanku yang hampir lima tahun kerja di sana.

Kasman pernah bercerita padaku selama di Malaysia ia sering menjadi saksi pernikahan temannya. Sedangkan ia mengetahui bahwa temannya itu sudah punya anak istri di kampungnya. 

Hidup yang sulit di tengah suasana kerja yang kadang penuh ketegangan membuat orang sering mencari hiburan yang macam macam.

"Bahkan tak jarang uang gajian habis dipakai untuk foya foya; judi, minum, dan main perempuan," cerita Kasman suatu waktu.

"Apa mereka nggak ingat jika mereka merantau itu untuk mencukupi kebutuhan hidup anak istrinya di rumah?" tanyaku pada Kasman saat ia bercerita panjang lebar tentang gaya hidup orang orang yang menjadi TKI di Malaysia.

"Saat seseorang merasa bebas, kealpaan itu menjadi biasa, Mas," elaknya sambil tersenyum simpul menjawab pertanyaanku.

Di mushola malam itu, Aku lebih banyak menyimak cerita Kasman daripada menyimak tadarusan. Mumpung belum giliranku ngaji, aku serius mengikuti kisah yang diceritakan Kasman. Lumayan seru juga bagiku menikmati kisah orang orang desa kami yang hidup di perantauan.

Lama sebelum aku lulus SMA aku sering membayangkan menjadi TKI di Malaysia. Pulang bisa membangun rumah dan hidup berkecukupan. Dan yang paling menggiurkan adalah bisa cepat kawin.

Lelaki kampungku yang merantau ke Malaysia memang menjadi idaman para ibu ibu yang punya anak perawan di kampung kami. Setelah dua tahun merantau, begitu pulang pasti banyak tetangga yang menanyakan ke rumahnya. Ya, tentunya menanyakan ke orang tua pemusa itu apakah sudah punya calon atau belum.

Banyak gadis gadis cantik di kampung kami beristrikan para lelaki yang menjadi TKI di Malaysia. Jaminan masa depan yang menjanjikan karena pekerjaan yang bergaji besar. Ringgit memang lebih mentereng dibandingkan rupiah.

Seperti halnya Kasman ini, meski wajahnya tak seberapa ganteng untuk ukuran lelaki kampung, tapi statusnya sebagai lelaki malaysianan, Istilah kampung kami untuk orang yang menjadi TKI di Malaysia,  membuatnya sering dapat tamu yang menginginkan agar anaknya dipinang olehnya.

Meski sudah uzur, lebih dari empat puluh tahun Kasman lebih suka membujang. Entah dengan alasan apa,  tapi setiap kali ditanya oleh tetangganya,  ia sering hanya menjawabnya dengan tersenyum saja.

Ia sudah punya rumah sendiri. Hidup hanya dengan ibunya yang sudah tua. Ibunya pun sering mengeluh tentang Kasman yang tak kunjung mau menikah.

"Man, aku sudah tua, bisa saja aku mati besok, kapan kau beri ibu cucu, lekaslah kau menikah. Apa yang kau tunggu?" tanya ibunya suatu ketika.

"Menikah itu soal waktu, kalau sudah gilirannya, kan aku pasti menikah, bu," jawabnya enteng.

"Ah kamu ini seperti tahu takdirmu, Man,"

Kasman hanya tersenyum jika ibunya mengajak berdebat. Tak jarang ia langsung ke mushola ngobrol dengan kami.

Pernah sambil tergopoh gopoh ia langsung rebahan di teras mushola sambil berujar, "Daripada suntuk ditanya kapan kawin, mending ngobrol dengan kalian."

Pagi itu, saat shalat subuh orang orang ramai karena yang jadi imam shalat adalah Kasman. Ia yang selama ini hanya mendengar saat ada tadarus kini tiba tiba jadi imam.

Bacaannya pun fasih dan tenang. Pagi itu jamaah shalat subuh di mushola kami pun ramai.

"Hemmm, bakat jadi Kyai, Man," ujar Hamim salah satu muazin mushola.

"Belajar, tapi jangan terus terusan, itu tadi terpaksa menggantikan imam yang sedang berhalangan,"

"Aku malu. Aku jauh dari sosok yang patut dijadikan imam Shalat." ,tuturnya sambil ngeluyur meninggalkan kami yang keheranan dengan sikapnya.