“Jogja terbuat dari rindu, pulang dan angkringan,” begitulah Joko Pinurbo menafsirkan bagaimana pendapatnya mengenai kota istimewa itu.

Saya pribadi pernah sewaktu-waktu berkesempatan menanyakan langsung kepada penyair yang akrab disapa Jokpin itu tentang apa sebenarnya maksud dari kata-kata yang begitu banyak dikutip oleh orang-orang itu. Kemudian beliau menjawab dengan jawaban yang sangat sederhana, “nanti kamu juga pasti merasakan itu kok.”

Dan benar saja, apa yang Jokpin ucapkan itu benar-benar terbukti. Berbulan-bulan terpisah dari Jogja menyebabkan saya mengidap kerinduan yang sangat berat. Dari jarak beribu-ribu kilometer, ingin rasanya saya menyampaikan kepada Yogyakarta bahwa betapa kuatnya rindu yang bahkan tak bisa didefinisikan dengan kata-kata dan perumpamaan apa pun.

Bagi siapa pun yang pernah, ataupun saat ini tinggal di kota istimewa itu, pasti sepakat bahwa Jogja memang pantas untuk dirindukan. Bahkan bagi para turis dan wisatawan yang hanya beberapa saat singgah di Jogja, mereka pasti ingin kembali menapakkan kaki di kota penuh nostalgia itu. Sebab ada beberapa keistimewaan yang akan membuat hati dan pikiran Anda nyaman dan seketika bisa membuat Anda jatuh cinta padanya.

Salah satu yang menyebabkan hal demikian adalah tersematnya istilah “Istimewa” pada nama resmi provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bagi orang-orang yang belum pernah mengunjungi Yogyakarta, pasti sedikit bertanya-tanya seistimewa apa sih Yogyakarta itu. Apakah hanya status otomoni khusus yang dimiliki olehnya, ataukah ada hal lain yang menyebabkan nama Jogja begitu masyhur di mata orang-orang?

Berangkat dari pertanyaan tersebut, saya bisa membagikan sedikit pandangan saya tentang Yogyakarta berdasarkan apa yang saya alami dan rasakan sendiri. Bagi saya, sejak kecil Jogja bukanlah tempat yang asing dalam kehidupan saya pribadi. Karena sejak lama, saya sudah beberapa kali mondar-mandir singgah di kota istimewa.

Namun pandangan saya tentang Jogja sedikit berubah ketika saya mulai menimba Ilmu di sana. Dari yang tadinya biasa-biasa saja menjadi sangat luar biasa.

Bayangkan saja, orang-orang di Yogyakarta begitu ramah menyapa siapa pun orang-orang yang ditemuinya. Tutur kata yang halus dan sapaan akrab senantiasa menghampiri Anda ketika Anda mencoba bertegus sapa dengan mereka sekalipun Anda tidak mengenalinya.

Untuk mereka yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Jogja, pasti benih-benih cinta akan mulai bersemi di hati anda. Asalkan Anda tidak coba-coba mencari masalah dengan orang-orang Jogja.

Selain itu, Jogja juga terkenal sebagai surganya para pecinta kuliner. Bagi Anda yang suka bepergian ke mana-mana dengan persiapan yang bisa dikatakan low budget, Anda tidak perlu risau. Karena untuk urusan konsumsi, Jogja adalah jaminan untuk Anda yang ingin tetap menyantap makanan-makanan lezat tanpa harus menguras begitu besar isi dompet Anda. Anda akan tercengang dengan menu dan harga yang bisa dikatakan “waw” dan belum pernah Anda temui sebelumnya.

Yang paling terkenal dari segala macam keistimewaan Jogja adalah predikat yang orang-orang sematkan kepadanya sebagai kota pelajar. Hal ini jelas tiada duanya dan masih belum bisa ditandingi oleh kota mana pun menurut saya, karena jumlah kampus, baik itu yang negeri ataupun swasta, begitu banyak menjamur di Yogyakarta.

Bayangkan saja, kurang lebih 136 instansi berada di kota istimewa itu. Bahkan beberapa merupakan kampus-kampus top dan terbaik di Indonesia.

Maka jangan heran apabila banyak sekali calon-calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studinya di Yogyakarta. Suasana dan kehangatan yang terdapat di sana sangat mendukung bagi para pelajar yang ingin menimba ilmu di sana. Berbagai tipe mahasiswa pun ada dan bisa Anda temukan di sini. Mahasiswa yang belajar di Jogja begitu beragam karena mereka datang dari berbagai penjuru wilayah di Indonesia, bahkan dari mancanegara pun ada.

Bisa dikatakan bahwa Jogja adalah miniatur Indonesia berdasarkan pelajar ataupun mahasiswa yang menetap di sana. Unsur kebinekaan begitu terasa di setiap sudut wilayahnya.

Yang tak kalah menarik yang tidak boleh dilupakan adalah jumlah tempat wisata yang terdapat di bumi Ngayogyakarta Hadiningrat itu begitu beragam dan cocok untuk semua kalangan. Saya bisa jamin, ketika Anda pertama kali melangkahkan kaki di Jogja, keinginan kuat untuk berkelana menyisiri setiap sudut dan tempat wisata yang ada keluar dari benak Anda.

Mulai dari wisata bahari seperti pantai-pantai indah, sampai tempat wisata yang penuh nilai sejarahnya menjamur di Yogyakarta. Bukan hanya Malioboro ataupun keraton saja yang harus Anda tuju, tetapi setidaknya Anda harus menambahkan pilihan destinasi wisata yang hari ini jumlahnya makin bertambah banyak.

Jadi, kalau saya perkirakan, kalau Anda ingin benar-benar puas menikmati Jogja, paling tidak seminggu adalah durasi waktu yang akan Anda habiskan. Itu pun saya katakan masih kurang, karena seperti kata kebanyakan orang yaitu “Yogyakarta, setiap saat kau di sana adalah cinta dan setiap sudut yang terdapat di dalamnya penuh makna, berpisah dengannya hanya akan membuatmu rindu yang bahkan sulit untuk dipadamkan dan tak akan hilang dalam ingatan.”

Kalau Anda tidak percaya, silakan buktikan sendiri. Tapi hal itu harus ditahan dulu karena sampai detik ini pandemi Covid-19 masih melanda ibu pertiwi.

Bagi para penikmat senja dan kaum-kaum indie, Jogja adalah surga dunia yang tuhan anugerahkan kepada mereka. Karena segala macam unsur apa pun yang terdapat di kota istimewa itu merupakan paket lengkap bagi mereka untuk melakukan ritualnya.

Kalau boleh saya katakan, tidak ada kata-kata apa pun yang benar-benar bisa mendefinisikan tentang keistimewaan yang ada dalam kota itu. Lagi-lagi Anda sendiri yang harus membuktikan apa yang saya ucapkan ini.

Bahkan bagi Anda-Anda sekalian yang tidak memiliki jiwa-jiwa keindie-an dalam dirinya, saya jamin jiwa-jiwa itu akan otomatis muncul dan seketika meronta-ronta merengek dari lubuk hati Anda. Apalagi bagi mereka yang kebetulan pada waktu itu sedang mengalami masalah yang cukup serius dalam urusan percintaan. Dan cocok sekali apabila Anda memilih Jogja sebagai destinasi pelipur lara, kehangatan suasana Malioboro bisa menjadi obat dari kegelisahanAnda.

Maka jangan heran kalau sering sekali sinetron-sinetron FTV sering menjadikan Jogja sebagai setting tempat untuk pengambilan syutingnya. Bukan hanya karena status Yogyakarta sebagai kota pariwisata yang bahkan sudah diakui oleh turis-turis dari berbagai belahan dunia, tetapi yang paling penting adalah ketika Anda merasakan suasana dan kehangatan Jogja, akan ada rasa cinta yang sulit diungkapkan dengan kata-kata dan isyarat apa pun yang menyebabkan rindu berkepanjangan ketika Anda terpisah jauh darinya.

Terlepas dari apa pun yang saya katakan di atas, yang bisa terucap dan terlintas selalu dalam benak ini adalah “Wahai kota seribu angkringan, sudah lelah aku dibuat rindu oleh kenangan-kenangan bersamamu, semoga keadaan yang tak menentu ini bisa segera berlalu, agar khayalan kembali ke pelukanmu menikmati kehangatanmu ini benar-benar menjadi kenyataan."