Lelaki berperawakan kurus itu membawa perempuan paruh baya yang berjalan terpincang-pincang menuju instalasi gawat darurat. Tanpa digandeng dibiarkannya perempuan itu terseok-seok menyeret langkahnya mengikuti lelaki yang selama ini memperoleh predikat suami bagi si perempuan yang sudah dinikahinya hampir tiga puluh tahun lamanya.

Entah apa yang menyebabkan pak Mitro pada waktu itu memutuskan untuk menikahi perempuan yang baru saja menerima SK penempatan guru yang berstatus sebagai pegawai negeri sipil. Secara fisik perempuan yang kini dipanggil bu Mitro di lingkungan RT tempat tinggalnya itu tidak jelek-jelek amat sebenarnya, postur tubuh tinggi semampai bak peragawati. Mungkin hanya karena kulitnya yang sedikit eksotis membuat pak Mitro selalu membandingkan istrinya itu dengan murid yang pernah diincarnya dulu.

Bu Nana seperti mencium gelagat absurd dari suaminya. Entah hanya bermaksud canda-canda ringan tetapi semakin dirasa semakin menyakitkan. Sakit itu dipendam sendiri. Membujur dan mengakar lalu menyebar di seantero lekuk peredaran darahnya. Lebih karena psikis. Tidak ada luka yang tampak seiring waktu berjalan.

Pak Mitro sering blak-blakan berbicara di depan kolega guru dan staf dengan menyebut bu Nana sudah tidak menarik lagi, tidak bisa meningkatkan libido dan hasrat kejantanannya sehingga membuatnya malas untuk tidur seranjang seperti masa awal pernikahan. Gurauannya sering memojokkan kekurangan bu Nana yang fisiknya tak lagi menggairahkan.

"Punya bojo anyar enak sepertinya ya, yang cantiknya kayak bu Vina yang baru saja mutasi itu," ucapan pak Mitro suatu ketika didengar bu Nana.

"Apa, Pak? Gak salah apa yang kudengar tadi. Bapak mau cari istri lagi. Mau menukar diriku yang sudah kayak tong bekas minyak, tak lagi kayak gitar Spanyol? Emangnya Bapak berani membiayai perempuan cantik?" tantang bu Nana sambil melepas salah satu sepatunya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.

Pak Mitro tak berkutik, tak berani menyerang balik hingga semua rekan kerja yang ada di ruangan itu terkikik melihat tingkah pak Mitro yang tersudut dan tak mampu menyahut.

Perang dingin dimulai. Sedingin air yang beku di malam hujan.

Pak Mitro mencuci bajunya sendiri lalu menjemur dan mengangkatnya ketika sudah kering. Milik bu Nana dibiarkan tergantung di tali jemuran meski hujan mengguyur deras.

Sebuah ikatan cinta yang aneh.

Hidup serumah tetapi bagai sesama penghuni kamar indekos. Tidak saling kenal. Tidak ada simpul batin yang mengikat. Bu Nana hidup sesuai tataran istri yang mengabdi dengan melakukan rutinitas dari memasak hingga bersih-bersih rumah. Entah masakannya disantap atau tidak oleh sang suami. Memang ada beda selera dan rasa sejak penyakit degeneratif itu menyerangnya.

Pak Mitro semakin tak peduli meski bu Nana sudah menyuntik insulin ke tubuh sendiri. Dia masih sering meninggalkan bu Nana di tempat kerja dan dibiarkannya naik angkot sendiri. Istilah gula darah naik atau turun tidak ada di dalam kamusnya. Yang dia tahu bu Nana bisa pulang sendiri.

Jadwal WFO dan WFH di masa pandemi pun pak Mitro tak mau disandingkan berdua dengan bu Nana. "Tak bebas menggoda bu Vina," dalihnya. Sementara pihak sekolah hanya melihat efektivitas kedatangan dan kepulangan para guru. Disatukannya suami dan istri agar mereka dapat berangkat pulang bersama dengan kendaraan pribadi yang tentu akan mengurangi penyebaran virus covid-19.

Pak Mitro mendadak pergi di menit terakhir jadwal WFO berakhir, meninggalkan bu Nana yang didera luka karena bakteri gangreng menggerogoti kelingking kakinya. Gula darah yang tinggi memicu lukanya tak kunjung sembuh. Kakinya mulai membengkak. Sepatu tak lagi muat. Sandal saja yang kini dikenakannya.

Bu Nana dilingkupi kejengkelan.  Segera diraih tas di meja setelah presensi online berhasil dilakukan di ponselnya.

"Bu, Bu, aku 'kan tadi cuma pergi sebentar. Kenapa tidak menungguku," ucap pak Mitro begitu tiba di rumah.

"Aku sudah telepon berkali-kali. Tidak ada jawaban. Gak pa pa. Aku juga bisa pulang sendiri. Sana urusi saja perempuan-perempuan kawan lamamu itu," kata bu Nana berang. Dibersihkannya luka di atas luka. Luka karena serangan gangreng yang belum kering kini terluka lagi karena tertancap paku di halaman belakang rumah tadi. Belum selesai membalut lukanya bu Nana tiba-tiba menggigil.

"Bu. Kamu tu kenapa juga pakai acara nyari daun pisang. Mau buat apa to?"

Bu Nana hanya menatap suaminya.  Dalam hatinya dia berkata ,"Aku akan memasak pepes kesukaanmu kalau kamu mau tahu." Namun kekesalannya sudah memuncak. Dia mengunci bibirnya rapat-rapat seperti hendak menyembunyikan segala lara dan kepedihan.

Pak Mitro mencoba memegang dahi bu Nana, hal yang hampir tak pernah dilakukan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini.

"Panas. Kamu panas sekali, Bu,"

Kali ini pak Mitro dihinggapi kecemasan.

Bu Nana bergeming.

"Kita harus ke rumah sakit, Bu. Jangan-jangan gula darahmu naik. Atau jangan-jangan. Waduh. Aku harus cuci tangan. Aku sudah menyentuhmu tadi,"

Hati bu Nana semakin tertusuk.

"Eh, Bu kamu masih punya duit 'kan. Kita periksa pakai duitmu. Duitku nanti untuk beli bensin. 'Kan yang sakit kamu ya periksanya pakai duitmu,"

Baca Juga: Peluang Terakhir

Bu Nana sudah tak bisa berkata lagi.

"Maaf sebelum pemeriksaan lebih lanjut Ibu harus diperiksa dulu di lab untuk memastikan ibu bebas covid terlebih dahulu,"

Seorang nakes berpakaian APD lengkap menyambut bu Nana dan menyorongkan kursi roda kepadanya.

Pak Mitro menoleh ke kanan dan ke kiri. "Sebentar Pak. Saya mau bicara dengan istri saya dulu," katanya kepada nakes yang akan membawa bu Nana ke laboratorium.

"Silakan,"

Nakes itu meninggalkan bu Nana bercakap-cakap dengan suaminya.

"Bu, duit yang di dompetmu cukup 'kan untuk biaya periksa macam-macam di rumah sakit," bisiknya penuh harap.

Bu Nana mengangsurkan tas tentengnya ke suaminya. "Nih, pegang tasku. Ada duit lima juta di situ," katanya ketus.

"La... Bagus kalau begitu. Jadi aku tidak perlu repot menggesek di ATM. Bener. Aku bawa saja tasnya biar tidak mengganggu proses pemeriksaannya,"

Bu Nana merengut. "Sudah, Pak?" tanya nakes itu sopan.

"Iya pak," jawab Mitro menyilakan nakes itu membawa istrinya pergi dari hadapannya.

Sejam dua jam pak Mitro mondar mandir mengitari ruang tunggu yang bersebelahan dengan kantin. Perutnya terasa melilit. Sejak bu Nana sakit tidak ada makanan tersedia di rumah. Dia juga tidak berinisiatif membeli sekadar pengganjal perut setidaknya untuk saat sekarang ini. Keroncong mulai mengudara di bilik perutnya yang kosong. Hoho dinginnya AC menimpali, rasa melilit kian menjadi.

Bu Nana terlihat muncul dari balik pintu laboratorium diiringkan seorang nakes.

Pak Mitro segera menyongsong. "Berapa Pak," katanya sambil mengeluarkan dompet dari tas bu Nana.

"Nanti silakan ke kasir Pak, untuk pembayaran. Ada hal penting yang harus kami sampaikan. Untuk sementara hasil pemeriksaan istri Bapak adalah reaktif. Istri Bapak harus menjalani isolasi mandiri. Artinya tidak boleh kemana-mana. Di rumah terus selama dua minggu. Termasuk Bapak," jelas salah seorang dokter.

"Saya juga, Pak? Duh kalau saya tidak absen nanti tunjangan kinerja saya bisa hilang. Bapak tidak adil kalau begitu. Istri saya juga. Tunjangan itu jutaan lo Pak. Masak kami berdua harus kehilangan duit jutaan yang menjadi hak kami. Jangan begitu-lah Pak,"

"Bapak jangan egois. Bapak bisa membahayakan banyak orang. Istri Bapak setelah dua minggu isman harus melakukan tes swab. Bayangkan bila hasilnya positif dan istri Bapak sudah kemana-mana. Artinya Bapak sudah menjadi pelaku kejahatan dengan menyebarkan virus kemana-mana,"

"Tolonglah Pak. Uang kami sudah habis untuk membayar kredit rumah dan kendaraan. Hanya tunjangan itu satu-satunya penyambung ekonomi keluarga kami," pak Mitro semakin menghiba.

Dokter menatap pak Mitro, mencoba menembus batas pikiran dan angan-angan lelaki kurus di hadapannya.

Pak Mitro menunduk. Sibuk mengirim pesan pada petugas sekolah untuk menyetel jadwal WFO dua hari ke depan untuk dirinya dan istrinya!

Baca Juga: Heksalogi Edi