"Ibu, kita akan melihat matahari bersama. Tetap melihat dunia dan bercerita bersama, dan aku akan terus akan menjadi anak gadismu. Kita akan terus berjuang bersama. Kita akan bertahan bersama."

Begitu tulisan sebuah status di media sosial yang di-post oleh salah seorang sahabat, Dhian di Jakarta yang ibunya lagi sakit, bermasalah di bagian kesehatan, mata. Aku turut sedih namun bahagia, melihat Dhian yang  sebagai seorang anak yang berbakti akan selalu menyupport ibunya. 

Bukan cuma Dhian, beberapa teman, dan sanak keluarga, termasuk aku sendiri, lagi menghadapi permasalahan yang sama, ibu yang sakit dan sudah tua, lanjut usia (lansia).

Walau mungkin, jenis penyakitnya yang berbeda. Namun, permasalahan orang tua yang sudah lansia tidak bisa dipandang sebelah mata. Dan akan selalu "seksi" untuk dibahas.

Ibumu seseksi gimana?

Aku memang mau membahas ibu yang lagi "seksi" di usia senjanya, 72 tahun bukan ayah yang masih terlihat "garang" di usia 71 tahunnya. Mungkin benar kata orang-orang, laki-laki bisa jadi ABG (Anak Baru Gede) dua kali selama hidupnya alias tua-tua keladi, semakin tua semakin menjadi (ngertilah').

Ibuku seksi banget, beliau jadi kurus, awet muda, manja, dan kekanak-kanakan. Aku yang hidup bersama beliau setiap hari diantara sedih dan bahagia. Sedih, karena melihat ibu yang sudah berpikir tentang akhir hidupnya; dia akan kemana, antara surga dan neraka. Bagaimana bertemu Tuhan. Dan jangan bertengkar dengan saudara-saudarimu ketika aku pergi.

Dan yang membuat bahagia, alias tertawa adalah ketika ibuku berpikir yang aneh-aneh yaitu melihatku melakukan banyak swafoto dengan kamera hape. Kata beliau, aura mukamu akan hilang jika terlalu sering kena cahaya. Belum lagi, ketika aku mengoleskan banyak skin care, kata beliau, paras mukamu berubah, kamu tidak secantik dulu lagi, terlalu macam-macam yang kamu aplikasikan ke mukamu. 

Beliau juga merasa tidak punya kekuatan, jadi, ketika makan harus diambilkan padahal beliau dulu adalah seorang yang "pelayan", yang melayani semua keluarga anak, dan suaminya. Beliau tidak mau periksa ke dokter, karena merasa tak punya penyakit. Dan alhamdulillah, kolesterolnya memang sudah sembuh. Cuma tekanan darah tingginya yang biasa naik ketika mendengar cerita yang tidak mengenakkan, misalnya, kakak lagi sakit di Jawa tengah.

Lain ibuku, lain juga model seksinya alias lansianya seorang ibu, ibunya kakak sepupu. Ibunya kakak sepupu lebih lucu lagi. Ketika ibunya salat, ibunya sambil tidur. Ketika ibunya makan, ibunya sambil tidur. Ketika ibunya tidur, ibunya sambil tidur. Ya, iyalah, buat kalimat yang terakhir.  Maksudnya, ibunya kakak sepupu, kerjaannya tidur mulu. 

Belum lagi cerita pikunnya. Ibunya kadang lupa jika sudah salat. Dia bertanya lagi, apakah aku sudah salat? atau setelah sudah disuap ketika makan. Dia bertanya juga, apakah aku sudah makan?

Ada juga cerita ibu seorang teman, ibunya tidak mau ditinggal pergi-pergi, hanya ingin melihat anaknya di rumah. Padahal, teman ini mempunyai pekerjaan berkantor setiap hari. 

Oh iya, jika cerita laki-laki yang seksi contohnya seperti ini:

Ada juga kakek seorang teman yang berumur panjang, termasuk seorang pejuang veteran. Kata teman, kakeknya suka sekali meneriakkan kata "Perjuangan", "Kemerdekaan", dan "Semangat". Dan aku melihatnya sendiri, ketika kakek mulai bicara sendiri, dan mulai keluar rumah berpikir untuk berperang. Temanku dan keluarganya akan membawahnya ke kamarnya.

Apakah ketika Lansia seseorang akan menjadi aneh? Dan tidak produktif lagi?

Bagaimana Produktif Di Usia Senja?

Ada sebuah bacaan menarik dari majalah Warnasari, edisi, No. 216 Januari 1997 artikel berjudul, Resep-resep Produktif di Usia Senja.

"Kematangan selalu diukur dari usia. Semakin tua usia seseorang, biasanya diiringi dengan menurunnya kekuatan fisik. Mereka menjadi tidak produktif, dan tergolong kelompok pesakitan (dalam tanda kutip), menanti uluran tangan dan belas kasih keluarga atau kerabat dekat."

Masih dari Warnasari, beberapa contoh figur berikut yang menjadi sumber tokoh lansia yang sangat produktif di usia tua, (di tahun itu) seperti berikut:

1. Sayidiman Suryohadiprojo (Mantan Gubernur Lemhanas)

Beliau di usia tuanya, masih aktif membuat karya, makalah, dan menuangkan gagasannya dalam bentuk buku untuk diselesaikan sehingga menuntutnya aktif bertahan berjam-jam di depan komputer (hal: 154-155).

Menurutnya, orang tua melarutkan diri dalam kekosongan waktu, membuat otaknya tidak bekerja. Kalau otak tidak bekerja, fisik pun tidak lagi bergerak. Saat itulah awal dari penyakit akan timbul. Ia pun menjadi orang tua yang lemah, tidak berdaya, dan hidup menanti belas kasihan orang lain sampai ajal menjemputnya (hal: 154-155).

2. Rosihan Anwar (Wartawan Kawakan)

Bagi beliau, faktor utama yang menunjang kesehatan tubuh dan jiwa adalah iman. "Karena saya seorang Muslim, tentunya iman yang saya implementasikan dalam hidup tentu saja sesuai dengan nilai-nilai Islam." (Hal: 157).

Beliau melakukan zikir. Selain itu, berjalan kaki, dan berdiskusi dengan generasi muda, sehingga gaya berpikir tetap muda, memberikan kesegaran (hal: 157).

3. K.H. Ali Yafie (Ulama dari Makassar dan Dosen UI)

Kiat beliau dalam menjaga kesehatan di usia senja adalah dengan cara sederhana, yakni memberi keseimbangan pada perut. "Kata Rasulullah, sumber penyakit adanya di perut. Jadi, kita harus pandai-pandai menjaga fungsi perut." (Hal: 159).

Menurut beliau, dengan fisik yang sehat, akal pun menjadi sehat. Tapi, untuk memberi kesehatan jiwa, kiai ini juga mendisplinkan diri untuk membaca tidak kurang dari 100 ayat Al Quran. Dan membaca buku, juga menjadi agenda rutinnya ( hal: 160).

4. Surasti Karma atau S. K. Trimutri (Wartawati tiga zaman).

Beliau memfungsikan kerja otaknya lewat membaca dan menulis. Setiap bulan Trimutri mengagendakan buku-buku apa saja yang harus dibacanya. Diskusi atau seminar mana yang harus diikutinya. Dampaknya, bukan hanya fisiknya yang tetap sehat, tetapi wawasan dan pengetahuannya terus bertambah. Beliau pun tidak menjadi orang tua yang ketinggalan zaman pada usianya yang sudah 84 tahun (hal: 161).

Soal produktivitasnya, Trimurti masih tetap menulis dan menulis. "Mengukir warisan sejarah buat anak cucu." (Hal: 163).

5. Amartiwi Saleh (Advokat nomor wahid Indonesia). 

Menurut perempuan yang berumur 73 tahun ini, produktivitas dan ketegaran tidak tergantung pada usia, tapi semangat dan tekad yang sangat menentukan (hal: 164).

Menurut beliau kata kuncinya, "Tidak Ngoyo." Dan mensyukuri rahmat Tuhan dengan berbuat baik kepada orang lain, dan berbuat sesuatu yang dapat mensejahterahkan orang lain. Dengan filosofi itu, maka ada rasa puas batin dalam jiwa, ada ketenangan, dan ada kedamaian (hal:164).

Aku puas sekali membaca artikel ini. Semoga, bisa kuterapkan pada ibuku, ummiku biar semangat dalam hidup dan bisa produktif kembali. Minimal produktif dengan mendengarkan aku berbicara padanya, dan dia dengan mengaji. I luv U, Mom.

Referensi:

Warnasari Mewarnai Hidup Anda, "Resep-resep Produktif di Usia Senja." Majalah Bulanan, No. 216 Januari 1997.