Yu Sri, tetangga kampung kami, seorang ibu beranak satu, berkunjung ke rumah kami di malam minggu itu. Wajahnya tampak sembab. Sepertinya dia telah melewati malam-malam yang begitu berat.

Saya waktu itu sedang bercengkerama dengan istri saya di teras rumah. Melihat kedatangannya, kami menyambutnya, mempersilakan masuk dan duduk di kursi tamu.

Yu Sri duduk terdiam sejenak, tidak keluar sepatah kata pun, namun kemudian menutup wajahnya sesenggukan. Kami terdiam menanti Yu Sri tenang. Kami tahu tentang desas-desus rumah tangga Yu Sri dari para tetangga. Setelah sekian tahun hidup berumah tangga, permasalahan Yu Sri bukan dengan istri ataupun anaknya, tetapi dengan ibu kandungnya sendiri, nenek dari seorang putri lucunya yang baru berumur 1,5 tahun. Yu Sri memulai kisahnya.

"Pak, Bu, maaf mengganggu. Saya tidak kuat lagi dengan perlakuan ibu saya. Bertahun-tahun saya sudah mengabdikan diri untuk ibu saya, hidup dengannya. Namun mengapa ibu selalu menyakiti hati saya?"

Air mata mulai meneter di pipinya, dan kami tetap diam mematung mendengarkan, sambil menarik napas dalam-dalam menyiapkan diri mendengar kisah langsung dari Yu Sri.

"Ketika ibu saya pergi belanja untuk mengisi tokonya, saya sudah menyiapkan berbagai hal untuknya. Membersihkan rumah, memasak, hingga membersihkan cucian piring yang menumpuk. Namun semua tidak pernah dianggap sebuah pekerjaan. Ibu datang dari pasar dengan penuh keributan, mempersoalkan debu yang dia buat sendiri kala menata barang dagangan. Menganggap saya anak pemalas nan durhaka."

"Hmmmm ..." Saya hanya mampu membalasnya dengan kata itu. Apa lagi?

"Setelah itu, ibu saya dengan 'seenaknya' salat duha, dengan salat yang panjang, doa yang teramat panjang hingga masuk waktu salat dzuhur. Sedangkan saya menjaga tokonya, menuntaskan pekerjaan lapak dagangnya yang masih menumpuk, mengurus anak saya. Untuk makan sendiri pun saya tidak sempat."

"Ok lah, Pak. Ibu saya semacam itu, enggak apa-apa. Silahkanlah ibadah sepanjang yang dia bisa, tetapi mengapa dia masih memarahi saya? Selalu mencari kekurangan saya dari pada melihat segala hal yang sudah saya kerjakan untuknya dan untuk keluarga saya." Saya dan istri saya masih terdiam.

"Pernah suatu saat, dia sakit hingga menyulitkannya untuk berjalan. Saya lah yang menitahnya ke kamar mandi, menyekanya saat dia terlihat risih dengan badannya. Iya, saya dan suami saya yang melakukan segalanya. Saya tidak mengharap apa-apa. Namun, setelah ibu saya mendapat kunjungan dari teman-temannya pengajian, saya mendapatkan perkataan yang nggak masuk akal. Dan itu sangat menusuk hati saya."

"Memang, apa yang dia katakan?" tanya saya.

"Kayak gini kalau saya mati, nanti yang mengurus jenazah saya adalah jamaah masjid, jamaah pengajian. Bukan anak-cucuku!" Yu Sri terisak kembali, menghentikan ceritanya.

"Belum lagi, apa yang dikatakan ibu saya kepada cucunya, dia dengan teganya menganggap cucunya adalah anak setan. Dia begitu karena sudah bisa membela saya yang hampir setiap hari dicaci-maki. Dia merasa malu menggendong cucunya, seakan dia adalah aib baginya."

Mendengar ceritanya, saya ingin tidak percaya, mirip dengan kisah-kisah yang saya dengar dari film. Tapi ini saya dengar dengan telinga saya sendiri, korbannya pun berkisah tepat di depan mata saya.

Yu Sri melanjutkan kisahnya, "Puncaknya ialah kemarin, Pak, Bu. Saat ibu yang mengandung saya sendiri pun bilang, saya lebih baik rumah yang bersih tanpa cucu, daripada harus bersama cucu, namun keadaan rumah yang kotor, seperti ini."

"Bagi saya, itu adalah pengusiran, Pak. Saya tidak sanggup lagi."

Yu Sri tidak sanggup menahan sakit psikisnya lagi, tangisnya menjadi-jadi. Istri saya langsung mendekatinya dan memeluknya. Menenangkannya dengan baik.

Saya hanya terdiam, berangan-angan apa yang ingin saya nasihatkan kepada Yu Sri. Ingin sekali saya menasihatkan kesabaran, tapi, begitu melihat posisinya, saya menyadari tingkat kesabaran Yu Sri jauh lebih tinggi daripada saya. Akhirnya saya mengurungkannya.

Kemudian saya berfikir untuk mengusulkan kontrak rumah, tapi saya tahu, posisi Yu Sri sebagai anak bungsu, ditambah keadaan ekonomi yang sulit. Lagi-lagi saya harus mengurungkan usulan itu.

Saya mencoba menyelami berbagai petunjuk agama yang pernah saya dapatkan di pesantren, dan di bangku kuliah. Hasilnya nihil. Yang saya temukan adalah berbagai kewajiban anak kepada orang tua, berbakti, menyayangi, berkata yang baik, tidak boleh mengatakan ah, dan lain sebagainya.

Seorang anak memang dituntut untuk itu. Bagaimana agama menuntut orang tua? Bukankah orang tua malah wajib mengajarkan kepada anaknya, dan sang anak wajib mematuhinya. Ah, stuck.

Agama masih meninggalkan ruang kosong dalam problem ini. Problem bergaul dengan orang tua toxic. Seolah seluruh orang tua pasti menyayangi anaknya menjadi aksioma yang harus diterima semua orang.

Saya jadi membayangkan ketika ibunya Yu Sri mengikuti pengajian dan kebetulan temanya adalah birrul walidain (berbakti kepada orangtua). Tentu itu malah akan menjadi amunisi baru Sang Ibu untuk menyerang anaknya. Saya tidak mau membanyangkannya.

Saya kembali merenungkan kembali apa yang seharusnya aku perbuat. Saya pergi ke kamar meninggalkan istri saya dan Yu Sri yang sedang dirudung masalah yang pelik. Saya mondar-mandir cukup lama. Akhirnya saya ambil segenggam garam dapur kemudian saya bungkus dengan plastik. Bismillah.

Saya kembali ke ruang tamu, mata istri saya ikut sembab. Saya berikan bungkusan garam dapur itu. "Yu, ini, campurkan ke dalam bumbu dapurmu. Semoga ibumu berubah."

Yu Sri terlihat tersenyum, sangat berterima kasih, dan kemudian pamit undur diri. Istri saya sepertinya penasaran dengan apa yang saya berikan. "Itu hanya garam dapur, masalah berhasil dan tidaknya saya tidak tahu. Tapi, bukankah membuat orang lain bisa lebih terhibur adalah sebuah pahala?"

Saya dipeluk oleh istri saya masih dalam tangisnya tiba-tiba dia berkata, "Mas, ayo ngontrak rumah."