Horor selalu bersembunyi di dasar dunia magis, dan segala sesuatu yang 'suci' selalu bercampur dengan horor.

Dalam sebuah salinan karya Ernst Schertel, Magic: History, Theory and Practice, kalimat tersebut digarisbawahi oleh seorang politikus Jerman yang sedang naik daun pada 1920-an. Politikus itu adalah Adolf Hitler, yang nantinya akan “menyihir” publik Jerman lewat pidato-pidato populisnya.

Pada saat itu, orang-orang yang terpesona oleh keyakinan Hitler tentang superioritas Arya pasti melihatnya sebagai sosok mesias bagi Jerman yang sedang terpuruk; sementara mereka yang takut merasakan plot jahat yang sedang bersemayam di dalam dirinya.

Hal ini wajar, karena Hitler, bagaimanapun, telah berhasil melakukan pendakian politik yang mustahil—dari seorang serdadu tak dikenal di Perang Dunia I sampai menjadi ketua Partai Nazi. Prestasinya berlanjut ketika demagog kecil ini menjadi kepala negara Jerman dengan gelar Führer und Reichskanzler pada 1934.

Serangan kilatnya ke Polandia, rangkaian kemenangannya terhadap Prancis dan Inggris selama Perang Dunia II, dan invasinya ke wilayah Uni Soviet pada 1941 makin menambah keheranan sekaligus ketakjuban publik padanya. 

Tentu saja, semua peristiwa luar biasa ini menuntut penjelasan yang sama-sama luar biasa pula.

Hitler dan Tombak Takdir

Pada 1973, seorang penulis Inggris bernama Trevor Ravenscroft menawarkan sebuah teori di mana kesuksesan Adolf Hitler terkait erat dengan praktik okultisme.

Lebih lanjut, Ravenscroft menganggap kalau ketertarikan Hitler terhadap Tombak Takdir telah memperjelas visinya dan memberikan kesuksesan pada kampanye militernya. Memang, sudah menjadi rahasia umum kalau beberapa perwira tinggi Nazi—termasuk Hitler—memiliki kepercayaan terhadap okultisme. 

Nazi, khususnya Heinrich Himmler dan Ahnenerbe, memang terkait dengan penelitian terhadap mitos-mitos seperti Hyperborea-Thule dan masyarakat Vril demi mengungkap asal-usul ras Arya, “ras super” yang diyakini sebagai leluhur mereka.

Dalam bukunya, The Spear of Destiny: the occult power behind the spear which pierced the side of Christ, Trevor Ravenscroft menceritakan kisah Hitler saat ia masih menjadi seorang seniman miskin di Wina. Menurut Ravenscroft, pada saat itu Hitler muda terpikat oleh kisah Tombak Takdir yang diceritakan oleh seorang pemandu wisata.

Menurut beberapa versi, dikatakan kalau Tombak Takdir digunakan oleh legiun Romawi bernama Longinus untuk menusuk lambung Yesus Kristus pada saat penyaliban-Nya. Oleh karena itu, tombak ini dikenal juga sebagai Tombak Longinus.

Tombak emas ini, kata si pemandu, pernah dibawa oleh para penguasa Eropa seperti kaisar Romawi, Constantine yang Agung; pemimpin bangsa Visigoth yang pernah merampok Kota Roma, Alaric; panglima perang Franka yang mengalahkan pasukan Muslim di Pertempuran Tours, Charles Martel; dan pendiri Kekaisaran Romawi Suci, Charlemagne yang Agung.

Jelas sekali kalau mitos ini telah menarik perhatian para pemimpin ambisius yang ingin menaklukkan Eropa dan membuat pasukannya tak terkalahkan; Hitler bukanlah satu-satunya orang yang pernah mencari tombak itu. 

Menurut Ravenscroft, Tombak Takdir juga pernah dicari oleh Napoleon Bonaparte setelah dirinya berhasil memenangkan Pertempuran Austerlitz. Namun sayang, tombak itu berhasil dipindahkan ke tempat yang aman sebelum Napoleon berhasil mendapatkannya.

Diketahui kalau tombak itu telah lama disimpan oleh wangsa Habsburg dan menjadi Reichskleinodien (Artefak Kekaisaran) mereka. Artefak ini akhirnya disimpan di Museum Hofburg pada 1912 sehingga disebut Tombak Hofburg.

Pada 14 Maret 1938, Adolf Hitler menganeksasi Austria dan memerintahkan agar Tombak Takdir, bersama dengan semua regalia milik wangsa Habsburg, dikirim ke Kota Nürnberg (Nuremberg), Jerman. Di sana, ia disimpan di dalam Gereja St. Catherine.

Banyak yang percaya kalau tombak itu telah memberikan kesuksesan terhadap kampanye militer Hitler selama Perang Dunia II.

Spear of Destiny dan klaim okultisme Hitler yang mengawang-ngawang

Meskipun penjelasannya terdengar meragukan, nyatanya Ravenscroft cukup dipercaya oleh orang awam yang membaca bukunya. Sebagai sumber dari kisahnya, Ravenscroft mengeklaim kalau ia mendapatkannya dari penulis okultisme asal Wina, Walter Johannes Stein.

Ravenscroft menyebutkan kalau Hitler menarik perhatian Stein ketika mereka sedang mencari salinan Parzival, sebuah epos karya Wolfram von Eschenbach, di sebuah toko buku bekas. Melihat ketertarikan yang sama terhadap okultisme, keduanya pun menjadi teman, tidak lama setelah pertemuan tersebut.

Lalu, apakah Tombak Hofburg yang memikat Hitler benar-benar Tombak Takdir yang dijelaskan secara tersirat dalam Alkitab?

Setidaknya, ada empat artefak yang diklaim sebagai Tombak Takdir atau bagian darinya—versi Roma, Wina, Echmiadzin, dan Antiokhia. Tombak Takdir yang pernah dibawa oleh Hitler—dan penguasa hebat lainnya yang telah disebutkan di atas—adalah versi yang ada di Kota Wina dan pada hari ini disimpan di Imperial Treasury, Wina.

Rudolf Distelberger dan Manfred Leithe-Jasper dalam bukunya, The Kunsthistorisches Museum Vienna, menegaskan kalau tombak yang berada di Imperial Treasury berasal dari abad ke-8. Sedangkan tes independen yang dilakukan pada 2003 menyatakan kalau tombak tersebut berasal dari abad ke-7.

Entah versi mana yang benar, nyatanya tombak itu terlalu “modern” untuk dicocokkan dengan mitologinya. Jadi, bisa disimpulkan kalau Tombak Takdir yang berada di Wina adalah palsu.

Hitler mungkin akan naik pitam jika ia mengetahui kalau tombak tersebut palsu. Namun terlepas dari hal itu, beredar juga mitos tentang kutukan yang menyelimuti Tombak Takdir. Dikatakan bahwa siapa saja yang "memakai" kemudian "membuang" Tombak Takdir, maka mereka akan mati tidak lama setelahnya.

Pada Oktober 1944, setelah alur Perang Dunia II mulai bergeser ke pihak Sekutu, Tombak Takdir dipindahkan oleh Hitler dari Gereja St. Catherine ke brankas di Historischer Kunstbunker, sebuah bunker di bawah Kastil Nürnberg yang khusus dibangun untuk melindungi tombak tersebut dari pemboman besar-besaran. 

Pada 30 April 1945, pasukan Amerika berhasil menguasai Nürnberg dan menemukan brankas yang menyimpan tombak tersebut di dalamnya. Tak lama kemudian, Adolf Hitler bunuh diri di dalam Führerbunker, tempat persembunyian terakhirnya di Berlin.

Namun, apakah semua cocoklogi antara mitos dan peristiwa sejarah ini benar adanya? Ataukah hanya kebetulan semata? Betul kalau Hitler memang tertarik pada okultisme, walau sayangnya ia hanya menggunakannya sebagai alat politik untuk mengikat publik Jerman pada saat itu.

Hitler memang menjarah Tombak Takdir dari “brankas” wangsa Habsburg dan membawanya ke Nürnberg. Namun kembali lagi, dia melakukannya dengan maksud untuk memperkuat kekuatan simbolisnya ketimbang percaya akan potensi magisnya.

Tentu saja, hubungan historis antara tombak tersebut dengan kemuliaan Kekaisaran Romawi Suci akan memberikan otoritas pada “kekaisaran” barunya, Reich Ketiga atau Reich Jerman Raya. Perlu diketahui kalau relokasi tombak tersebut dari Austria ke Nürnberg juga dipengaruhi oleh keputusan pribadi Hitler.

Hitler memilih Kota Nürnberg bukan agar ia dapat menyalurkan energi okultisme yang terpendam dari Tombak Takdir, tetapi karena kota tersebut pernah menjadi bagian dari Kekaisaran Romawi Suci. Perlu diingat juga kalau itu semua menjadi bagian dari propaganda pan-Jermanisme yang digaungkan Hitler.

Selain itu, Hitler juga sangat membenci wangsa Habsburg, yang ia anggap sebagai “racun” yang telah membunuh Kekaisaran Romawi Suci dan menjadi beban bagi Kekaisaran Jerman selama Perang Dunia I berkecamuk.

Kebenciannya tertulis dengan jelas pada Mein Kampf, ketika ia menceritakan kehidupan remajanya di Wina yang saat itu menjadi bagian dari Kerajaan Austria-Hongaria yang dipimpin oleh wangsa Habsburg.

Jadi, meskipun kita menggunakan klaim dari Trevor Ravenscroft, tidak ada bukti sejarah yang kuat untuk mendukung gagasan kalau Hitler memiliki ketertarikan supranatural—sekecil apa pun—pada Tombak Takdir, apalagi menggunakannya dalam ritual okultisme.

Sejarawan Sean Munger, yang juga menjadi produser podcast Second Decade di iTunes, mengatakan bahwa Tombak Hofburg (Tombak Takdir) jelas merupakan artefak yang menarik dan signifikan secara historis.

Namun, tambahnya, minat publik terhadap Tombak Takdir banyak yang berasal dari miskonsepsi sejarah yang merusak, yang sayangnya justru menjadi sangat populer (hubungan Tombak Takdir dengan mitos sihir hitam atau okultisme Nazi, misalnya).

Perlu kita ingat kalau teori okultisme tidak pernah didukung oleh catatan sejarah yang kredibel. Jadi, klaim yang menyebutkan kalau Hitler terobsesi untuk menemukan Tombak Takdir agar dapat menguasai benua Eropa adalah salah satu miskonsepsi sejarah yang sangat menyesatkan.

Ravenscroft sendiri akhirnya meninggal pada 1989. Setelah kematiannya, meskipun kurangnya bukti, hubungan okultisme antara Hitler dengan Tombak Takdir dalam Spear of Destiny masih bertahan dalam imajinasi publik. 

Baru-baru ini, tepatnya pada 27 Juni 2017, surat kabar asal Inggris, Daily Star, dengan gembira menerbitkan artikel berjudul Is this the REAL reason Hitler started WW2? Nazis obsessed with ‘weapon that killed Jesus'.

Sementara itu, pada April 2017, musim kedua dari serial superhero DC Comics, Legends of Tomorrow, menceritakan kalau Tombak Takdir yang dicuri dari Wina dipakai oleh Legion of Doom untuk tujuan yang jahat.

Baik dalam fiksi maupun bentuk budaya populer lainnya, tampaknya kaitan antara Tombak Takdir dengan kejayaan Nazi Jerman sangatlah besar. Jelas sekali kalau dalam buku Spear of Destiny ada perbedaan yang besar, yakni antara bukti sejarah yang kredibel dengan teknik pemasaran semata, di mana buku ini hanya memakai yang kedua.

Hal ini, tentunya, adalah suatu upaya yang agak menyedihkan, khususnya yang digunakan oleh oknum ahistoris untuk menghubungkan kengerian dari peristiwa nyata dengan imajinasi supernatural daripada mencari kompleksitas sebab yang mendasari peristiwa tersebut.