Pasca menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren, saya memutuskan untuk tidak menggunakan pakaian ala-ala santri, yakni berjubah besar dan panjang dan berkerudung lebar menutupi dada dan lengan. Di tahun-tahun pertama ”perubahan” penampilan saya, tidak sedikit yang memberi stigma dan label negatif, katanya pakaian saya tidak syar’i.

Di sisi yang lain, teman saya yang menggunakan pakaian besar dan kerudung lebar, bahkan lebih lebar dari sebelumnya, karena tuntutan pekerjaan, yakni karena mengajar di lembaga "Islam". Katanya, "alhamdulillah telah hijrah."

Pengalaman saya mungkin juga dialami oleh banyak perempuan di Indonesia. Fenomena hijrah artis menjadi semacam pop culture untuk perempuan Indonesia dari yang muda hingga yang tua, dari kelas miskin hingga kelas sosialita. Sehingga masyarakat dengan sadar ”memaksa” dirinya dan orang lain untuk mengikuti gaya hidup ”artis” dengan memberi batasan dua kategori pada pakaian, yaitu syar’ie dan tidak syar’i, halal, dan tidak halal.

Tulisan ini ingin menjawab fenomena hijrah dalam perspektif tasawuf menurut Kiai Jadul Maula ketika wartawan Tempo (Shinta Maharani) mewawancarai beliau di Pondok Pesantren Kaliopak Yogyakarta (Mei 2019). Bedanya dengan liputan Tempo, tulisan ini fokus pada analisa kritis tasawuf melihat fenomena hijrah.

Hijrah dalam Konsep Tasawuf 

Slogan ”Yuk Hijrah” makin membumi manakala masuk ke lembaga-lembaga Islam dan kegiatan keagamaan lainnya. Kita bisa lihat pada ”sebagian” pengajian majelis taklim di kota-kota besar misalnya yang menurut saya lebih merupakan kumpulan ibu-ibu untuk memamerkan jubah besar dan kerudung lebar hingga lutut dengan tas bermerk di tangan. 

Akibatnya, substansi majelis taklim mengalami pergeseran makna dari yang mulanya untuk belajar Islam menjadi ajang pamer aksesori berkesan ”agama”.

Menurut Kiai Jadul Maula, bahwa dalam konsep tasawuf, hijrah bermakna taubat. Taubat merupakan gerak orientasi semata-mata untuk kembali ke sumber hati yang paling inti (qalb) untuk selalu bersama Tuhan dalam gerak lisan, pikiran dan perasaan. Taubat menjadi alat intropeksi diri untuk selalu berada dalam pengawasan Tuhan.

Sehingga ketika orang selesai salat, ia tidak sombong dan tidak mudah menghakimi orang lain yang berbeda baik pandangan politik, pendapat maupun agama. Karena Tuhan termanifestasi dalam hembusan nafas, dalam lubuk hati, dan dalam detak jantung manusia yang terimplementasi dalam laku hidup sehari-hari. 

Adalah sebuah kebohongan besar manakala Tuhan ”hanya” dilihat lewat lidah dengan teriakan ”Allahu Akbar” dijalan-jalan.

Realitas kini, ketika orang berhijrah, ia dengan mudah menuding orang lain yang berbeda dengan "kelompoknya" sebagai yang kafir, sesat, dan masuk neraka. Seolah-olah ia adalah manusia yang paling benar dengan "wahyu" menjadi tentara Tuhan dan merasa memiliki sertifikat kapling surga.  

Sejatinya, hijrah adalah merespons sesuatu dengan tidak mengubah penampilan, sebagaimana kutipan cerita dari Kiai Jadul Maula.

Ada seorang artis datang kepada seorang kiai kampung. Dia datang karena gelisah dengan pengalaman hidupnya dan ingin berhijrah. Kepada kiai, dia sampaikan keinginannya itu.

Artis: Apakah saya perlu mengubah penampilan baju saya ini dengan menutup aurat?

Kiai: Jangan mengubah penampilan, tetaplah menjadi dirimu yang sekarang

Cuplikan kisah di atas memberi pesan bahwa kesadaran akan kehadiran Tuhan ada dalam diri manusia, dan kedekatan antara manusia dengan Tuhan tidak terpamerkan dalam bentuk "wujud" apa pun. 

Agama Bukan Aksesori 

Mengutip pendapat Kiai Jadul Maula, agama memiliki tiga esensi. Pertama adalah akidah. Akidah berkaitan dengan keimanan seorang muslim; dan jika tidak beriman, maka baginya disebut kafir sehingga dipersepsikan sebagai yang sesat. Kedua adalah syariat. Syari’at dipahami sebagai konsep hukum dalam fikih, yaitu halal dan haram. Ketiga adalah tasawuf. Tasawuf melihat jauh ke dalam diri.

Dalam arti yang lain, akidah dan syariat akan melahirkan konsep agama secara artifisial seperti kerudung syar’i, bank syar’i, sampo halal, makanan halal, travel halal, hingga hotel atau wisata syariah. Sedangkan tasawuf dapat diartikan bahwa manusia sebelum menilai orang lain, maka baginya harus melihat diri sendiri terlebih dahulu.    

Konsep tasawuf yang demikian inilah yang terlupakan oleh manusia, padahal tasawuf adalah esensi kemanusiaan manusia. Sehingga realitas yang ada adalah umat manusia lebih melihat agama sebagai casing atau aksesori semata dengan menafikan esensi agama jauh ke dalam diri yang terdalam.

Dengan makna yang lain, manusia kini lebih "tertarik" menilai atau melihat perempuan "salehah" manakala ia menggunakan jubah besar melilit ke lantai dan berkerudung lebar hingga sampai ke lutut, dengan menggunakan bahasa obrolan ke arab-araban, yang mulanya bicara alakadabra berubah menjadi Subhanallah/masyaAllah, atau mengubah kosmetik dari Mustika Ratu ke Wardah.

Atau yang lebih ekstrem lagi adalah menganggap bahwa perempuan yang menggunakan cadar adalah lebih baik daripada yang tidak bercadar. Perempuan yang berhijab menganggap diri lebih baik dari perempuan tak berjilbab. Atau perempuan yang menutup aurat merasa lebih baik dari perempuan yang berpakain mini. Konsep monopoli kebenaran (truth claim) inilah yang salah kaprah.

Agama sejatinya adalah pakaian bagi orang-orang mulia, tetapi kini agama dijadikan sebagai instrumen dalam brand "syariah/halal" lalu menyusup ke dalam mesin produksi kapitalisme. Tidak diragukan lagi, agama yang mulanya untuk menyucikan manusia, menjadi komoditas para elit kapitalis.

Di sini kemudian terdapat kontradiksi antara nilai yang diperjuangkan oleh mereka yang "menjual" agama dengan nilai yang diperjuangkan oleh para Nabi. Secara sederhana, telah terjadi "lompatan" dari syariah langsung ke bisnis.

Lalu pertanyaanya adalah, siapakah yang bertanggung jawab atas penyesatan komodifikasi simbol-simbol agama?

Yang bertanggung jawab adalah para ustaz dan ustazah yang baru belajar Islam dan belum selesai, tetapi sudah merasa paham Islam. Mengutip julukan dari Gus Mus, mereka inilah yang disebut dengan OPB (Orang Pinter Baru).

OPB inilah yang kemudian mensyi’arkan kepada umat manusia, sehingga dakwahnya di dengar publik, mampu mengubah paradigma berpikir umat manusia dari yang mulanya agama termanifestasi di dalam "hati" tetapi bergeser agama terimplementasi dalam bentuk pamer "aksesori" seperti pakaian, jubah, sorban, dan lain sebagainya.

Padahal belajar agama itu sepanjang hayat. Sepanjang nafas masih dikandung badan, proses belajar akan terus berjalan dan tiada henti. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad: Carilah ilmu dari buaian lahir hingga ke liang lahat.