Sejak kecil saya sudah terbiasa mendengarkan informasi dari mulut ke mulut. Orang-orang di lingkungan saya pun begitu antusiasnya mengabarkan informasi hanya berdasarkan “kata orang”, apalagi di kalangan ibu-ibu, hingga muncullah istilah gosip. 

Dan, sampai saya dewasa pun, ternyata kabar berdasarkan “kata orang” itu justru makin sering saya temui di tengah masyarakat meskipun tentu saja mediumnya sudah berbeda. Jika dulu dari mulut ke mulut, sekarang penyebarannya dari satu akun medsos ke akun medsos yang lain.

Tapi jangan diremehkan, kabar berdasarkan “kata orang” itu bak sabda yang sangat “diimani” oleh hampir semua kalangan. Baik yang berpendidikan ataupun yang tidak, mereka begitu memercayai kabar yang hanya berdasarkan “kata orang,” maka tak mengherankan jika kabar burung itu justru sering kali lebih dipercaya oleh masyarakat daripada jurnal ilmiah, buku maupun informasi dari akademisi profesional sekalipun. 

Pertanyaannya, mungkinkah kita sudah nyaman hidup berdasarkan “kata orang?” Hingga sampai kepada sikap bahwa apa pun kabar yang disampaikan oleh masyarakat itu tak perlu diragukan.

***

Anda mungkin masih ingat, beberapa hari lalu, sempat ramai di beranda media sosial; baik di Instagram, Twitter, dan Facebook, sebuah gambar berlatar klepon dengan dibubuhkan tulisan "Klepon tidak Islami". Gambar itu ramai sekali dibagikan oleh orang-orang bahkan sempat menjadi trending di Twitter. Banyak orang yang membulinya, begitu juga saya sempat membahas itu di akun Facebook saya. 

Namun, tak lama kemudian, banyak yang menganggap kalau gambar itu hanyalah hoaks belaka. Terbukti tidak ditemukannya nama akun medsos seperti yang tertera di gambar itu.

Kejadian itu mempertegas dugaan saya. Kita sering kali nyaman menyebarkan dan memercayai apa pun itu walau masih berdasarkan "katanya orang". Seperti soal gambar klepon itu, saya, misalnya, turut menyebarkan dan meramaikannya tanpa perlu mengkroscek benar-tidaknya gambar tersebut. Padahal, dengan sikap seperti itu, bukankah kita telah ikut bersumbangsih membuat kabar yang belum jelas itu makin meluas?

Tentunya, menyebarkan berita hanya berdasarkan "katanya orang" tidak akan menjadi masalah jika berita yang tersebar itu benar adanya. Hanya saja, akan menjadi masalah besar jika ternyata berita itu salah. 

Akibatnya, jika berita yang salah telah menyebar luas di masyarakat, maka seperti dalam teknik propaganda Nazi, bahwa kebohongan (baca: hoaks) yang diulang terus-menerus dan sistematis pada akhirnya akan dipercaya sebagai suatu kebenaran. Contoh nyatanya, soal hoaks corona yang dianggap sebagai ladang bisnis rumah sakit. Itu sudah dipercaya oleh hampir semua kalangan.

"Beneran, di kotaku itu, kata pakdeku, ada keluarga pasien yang disuruh mengaku Covid, padahal sakitnya itu sudah lama. Soalnya, kalau ada pasien Covid, RS-nya akan cair insentif Rp300 juta. Biasanya 50 juta dikasih ke keluarga pasien, sisanya buat RS," kata seorang pengguna Twitter (dengan suntingan).

"Kemarin-kemarin ada yang kayak gitu di daerah aku. Dia meninggal bukan gara-gara Covid tapi ditulisnya karena Covid. Katanya biar dananya cair (jadi kalau dianggap gara-gara Covid itu katanya bakal turun bantuan dana dari pemerintah)," kata pengguna Twitter yang lain.

Dua cuitan itu saya kutip dari Tirto. Namun, gambaran cuitan itu betul-betul saya temui sendiri di tengah masyarakat. Seakan kabar itu sudah dipercaya sebagai kebenaran umum. Saya sebagai orang kampung menjadi saksi hidup dan menyaksikan sendiri bagaimana kabar soal corona sebagai ladang bisnis rumah sakit sepertinya sudah "diamini" oleh semua kalangan.

Meskipun berita itu sudah dibantah berkali-kali oleh perwakilan IDI, namun bantahan itu bak alarm pagi hari yang bunyinya nyaring, tapi diabaikan bahkan sering kali dimatikan. Sebuah gambaran bagaimana bantahan IDI tidak didengarkan dalam melawan hoaks yang sudah dipercaya oleh banyak kalangan. 

Maka jika kembali ke dugaan saya yang awal tadi, lagi-lagi ini memperkuat statement bahwa masyarakat kita sudah sangat menikmati hidup berdasarkan "katanya orang."

Masih banyak contoh yang lain. Pada saat awal-awal wabah corona hingga sekarang, sering kali saya temui orang-orang yang percaya begitu saja apa “kata orang”. Misalnya, makan bawang putih bisa mencegah infeksi virus corona, virus corona menyebar dari barang produk Cina, campuran garam dan air hangat mampu hilangkan virus corona.

Hingga yang terbaru thermo gun (alat pengukur suhu berbentuk pistol yang ditembakkan ke dahi) disebut bisa merusak otak, dan juga soal informasi bahwa Indonesia dijadikan kelinci percobaan vaksin corona. Semua kabar ini sangat dipercaya oleh banyak kalangan walau hanya berdasarkan “kata orang”.

Meskipun demikian, saya juga menyadari betul, mereka bersikap seperti ini bukan murni karena satu faktor saja, namun ada faktor yang lain. Pengaruh efek psikologis karena himpitan ekonomi di tengah wabah kadang membuat orang tidak bisa berpikir logis. Misalnya, merebaknya angka kejahatan seperti kasus pencurian yang makin meluas, juga merupakan salah satu faktor efek psikologis seseorang yang tertekan hingga bersikap tidak waras.

Pengaruh efek psikologis yang lain yang telah membuat orang tidak bisa berpikir logis ialah keadaan di tengah masyarakat yang sepertinya mereka ingin menciptakan rasa aman dengan cara mengabaikan semua anjuran kesehatan, walaupun ternyata itu hanyalah false sense of security (rasa aman yang palsu). 

Konsekuensi dampak lanjutannya, rasa aman yang palsu ini sering kali menciptakan sebuah sikap mencari "kambing hitam" yang kira-kira patut disalahkan untuk membuat hatinya tenang. Muncullah teori konspirasi dengan sangat dipercaya sekedar untuk menghibur diri agar hatinya tenteram.

Satu contoh, di suatu kampung, saya pernah mendengar sendiri ada orang mengatakan bahwa corona hanyalah buatan Barat untuk menghancurkan agama dan aliran tertentu. Dia mengatakan seperti itu karena melihat waktu itu saya memakai masker. 

Saya hanya diam saja. Saya merasa percuma menyampaikan bantahan kepada orang yang sudah nyaman memercayai "katanya orang". Namun, saya melihat hal unik. Teori konspirasi yang disebarkannya membuatnya makin pede untuk beribadah tanpa protokol kesehatan. Seakan-akan teori konspirasi itu menciptakan rasa tenang bagi jiwanya.

***

Bukan hanya baru-baru ini saja kita mudah percaya apa “kata orang”. Dahulu informasinya lebih seram lagi. Biasanya disertai dengan ancaman. Mungkin kita masih ingat waktu masih belum zamannya medsos, ada serangkaian sms soal cerita mimpi juru kunci Masjidil Haram, dengan dibumbui ancaman, “Jika tidak menyebarkan berita ini ke 40 orang yang lain maka kita akan dapat celaka.” 

Anehnya, dulu saya sangat mempercayainya, hingga beberapa kali saya harus isi pulsa karena harus menyebarkan sms itu. Hahaha…

Tidakkah semua ini membuktikan bahwa kita nyaman hidup berdasarkan “kata orang?” Konsekwensinya, jika kebiasaan ini tetap dijaga, tidak mengherankan jika hoaks begitu mudahnya menyebar di kalangan masyarakat. Dampak lanjutannya, orang-orang akan mudah digiring dan dimanfaatkan oleh kepentingan elite tertentu yang memainkan hoaks untuk kepentingan politiknya.

Maka, saya rasa ada baiknya kita mulai membiasakan MERAGUKAN informasi-informasi “katanya orang” yang beredar di masyarakat, sampai ada bukti konkret soal informasi tersebut dan sudah berdasarkan keilmuan melalui penelitian yang ketat seperti dari jurnal ilmiah internasional ataupun sudah diberitakan di media berita nasional yang sudah terverifikasi Dewan Pers. Atau sesederhana, cukup kita menunggu informasi itu dari pendapat ahli di bidangnya.

Untuk membiasakannya, kita bisa mulai dari hal sederhana saja, bagaimana pendapat Anda mengenai klaim-klaim Hadi Pranoto dalam video di channel YouTube musisi Anji? Jika Anda langsung memercayai klaim-klaimnya, terbukti kita masih nyaman hidup berdasarkan “kata orang”.