Era digital merupakan era hasil dari kemajuan teknologi yang sedang kita alami saat ini. Berbagai macam media ada di era ini seperti media cetak dan media online. Salah satu media yang sangat populer saat ini adalah media online seperti sosial media.

Manusia di tuntut untuk bijak dalam menggunakan sosial media apapun. Bagaimana jika terjadi penyalahgunaan sosial media? Akibatnya adalah akan sering terjadi ujaran-ujaran kebencian yang dilontarkan oleh haters kepada salah satu pihak, bahkan kepada pemerintahan suatu negara.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) terhadap perilaku pengguna internet di Indonesia pada tahun 2016, menghasilkan 97,4% masyarakat Indonesia menggunakan sosial media sebagai konten yang sering di akses.

sumber : wwww.umkmcilacap.com

Sosial media memiliki kedudukan tertinggi di antara konten hiburan dan konten berita. Penggunaan sosial media yang berlebihan memiliki dampak positif dan negatif bagi pengguna atau pun pembacanya.

Dari banyaknya pengguna sosial media di Indonesia, maka tak jarang ada sebuah ujaran kebencian melalui sosial media. Hal ini merupakan salah satu dampak negatif dari sosial media.

Ujaran Kebencian Itu Apa?

Menurut wikipedia bahwa ujaran kebencian atau sering disebut dengan hate speech adalah tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek seperti ras, warna kulit, etnis, gender, cacat, orientasi seksual, kewarganegaraan, agama, dan lain-lain.

Ujaran kebencian ini dapat memicu suatu tindakan yang keras atau pun hanya sekedar tujuan promosi dan popularitas.

“Alangkah baiknya kita selalu beretika dalam menggunakan jejaring sosial, dan harus cerdas memanfaatkan media sosial.”

Cokorda Rai Widiarsa (Kadiskominfo Gianyar)

Di Indonesia sendiri sudah ada pasal yang mengatur tindakan tentang Ujaran Kebencian (Hate Speech) terhadap seseorang, kelompok ataupun lembaga berdasarkan Surat Edaran Kapolri No: SE/06/X/2015 terdapat di dalam Pasal 156, Pasal 157, Pasal 310, Pasal 311, kemudian Pasal 28 jis.

Pasal 45 ayat (2) UU No 11 tahun 2008 tentang informasi & transaksi elektronik dan Pasal 16 UU No. 40 Tahun 2008 tentang penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Adanya undang-undang tersebut, diharapkan masyarakat lebih bijak dan lebih hati-hati dalam menggunakan sosial media. Penyalahgunaan media hanya akan mengakibatkan seseorang berurusan dengan hukum karena telah melakukan penyebaran berita yang salah atau pun melakukan kejanggalan lain yang tidak menggunakan etika.

Ujaran kebencian sangat erat sekali kaitannya dengan sosial media, karena melalui sosial media lah segala informasi bisa di akses secara cepat dan real time.

"Bangsa Indonesia pada umumnya senang menjadi nomor satu. Jadi, kalau melemparkan isu ingin dianggap yang pertama. Buktinya, kirim lewat WA, Facebook, Twitter, dan sebagainya."

Rudiantara (Menteri Komunikasi dan Informatika)

Ujaran kebencian erat kaitannya dengan berita hoax, yaitu berita palsu. Para pelaku penyebaran berita tersebut bisa dikenakan sanksi hukuman sesuai UU yang berlaku tentang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik).

Penolakan Keberagaman

Belum lama ini, telah terjadi penyerangan terhadap pastor dan jemaat di gereja St. Lidwina Yogyakarta. Motif dari penyerangan tersebut belum diketahui secara pasti, tetapi sebelum pelaku melakukan aksinya, pelaku sempat mengucapkan kalimat takbir beberapa kali dengan sangat lantang sehingga mengganggu kekhusukan jemaat yang sedang melakukan ibadah.

Dari kasus penyerangan gereja tersebut, banyak sekali anggapan bahwa motif pelaku adalah melakukan jihad dan tidak  menerima adanya perbedaan.

Bukankah semboyan negara Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika yang memiliki arti bahwa berbeda-beda tetapi tetap satu jua? Hal yang harus ditanamkan dalam diri kita adalah bahwa kita hidup di dalam ikatan yang memiliki rasa tanggung jawab untuk memelihara sebuah kerukunan dan persatuan yang ada.

Jika rasa tanggung jawab tersebut ada dalam setiap masyarakat Indonesia, maka ujaran-ujaran kebencian dengan tendensi atas nama agama di sosial media pun tidak akan ada.

Berkaitan dengan kasus tersebut, beberapa mahasiswa yang tergabung dalam UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang bergerak di bidang paduan suara di salah satu kampus Islam di Yogyakarta, membawa misi dan pesan damai kepada seluruh masyarakat Indonesia dengan cara bernyanyi bersama di gereja St. Lidwina.

Lagu yang dibawakan pun adalah lagu umum dengan tema kedamaian, ini adalah sebuah cara yang dilakukan mahasiswa tersebut sebagai bentuk menghargai keberagaman dan diharapkan tidak akan ada lagi kekerasan antar umat beragama.

Tetapi apa yang terjadi? Setelah video penampilan kelompok mahasiswa tersebut viral di sosial media, banyak sekali ujaran kebencian tentang kegiatan tersebut. Intoleransi memang menjadi isu yang sangat sensitif dan hangat di Indonesia. Lalu, apakah kita harus diam saja? Atau kah harus mengikuti salah satu golongan?.

Bukankah sejarah hidup Indonesia yang sudah terjadi amat sangat panjang ini telah mengajarkan kita untuk dapat menghargai adanya perbedaan yang ada. Menghargai adanya perbedaan dan menjunjung tinggi kerukunan antar suku, agama, ras, dan antar golongan harus kita tegakkan demi kesatuan negeri ini.

Politik dalam Sosial Media

Di lain kasus, pemberitaan yang sedang hangat saat ini adalah pemberitaan mengenai kemenangan PERSIJA dalam Piala Presiden dan terjadi hal yang sangat menyita perhatian masyarakat, yaitu mengenai Gubernur DKI Jakarta yang tidak diperbolehkan naik ke podium dan di hadang oleh PASPAMPRES.

Banyak netizen yang beranggapan bahwa kejadian tersebut merupakan permainan politik. Mengapa demikian? Karena anggapan masyarakat adalah hal yang sangat wajar ketika akan mendekati PEMILU yang akan berlangsung pada 2019 mendatang.

Lontaran-lontaran kebencian pun banyak tersebar di berbagai sosial media antara pendukung golongan satu dengan pendukung golongan lain. Beberapa ujaran kebencian tersebut adalah salah satu modus kampanye terselubung.

Ekstremisme adalah bentuk penyalahgunaan kegiatan berpolitik yang memanfaatkan kelompok atau organisasi minoritas,"

PM Cameron.

Ujaran kebencian terjadi karena adanya perbedaan pandangan sosial seseorang seperti iri dan dengki, bahkan demi memenangkan sebuah persaingan. Bisa jadi seseorang yang melontarkan kebencian tersebut belum siap dengan keberadaan sosial media.

Indikasi dari ujaran kebencian juga dapat menjatuhkan salah satu pihak dan meresahkan masyarakat.

Efek dari ujaran kebencian yang paling parah adalah menambah konflik, bahkan memperkeruh suasana. Ujaran kebencian yang terjadi di dunia maya secara terus-menerus dapat berimbas kepada dunia nyata. Sehingga, akan terjadi bentrok antar suku, agama, ras, dan antar golongan.

Lalu, bagaimana cara menanggapi keberadaan sosial media? Apakah harus mengikuti arus? Banyak cara positif dan cara terbaik yang dapat kita lakukan dalam menanggapi sosial media tanpa harus membawa intoleransi dan ekstremisme.

Membiasakan diri menggunakan kata-kata yang lebih bijak dalam berkomentar. Apabila  ingin berkomentar menanggapi sebuah masalah, gunakan sebuah kalimat yang membangun bukan menjatuhkan pihak lain.

Carilah kebenaran dari berbagai sumber yang jelas, memperdalam makna yang terkandung dalam dasar negara, dan menempatkan diri dari berbagai macam sudut pandang adalah cara terbaik untuk menghargai adanya keberagaman.


Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Ucapan_kebencian

https://kominfo.go.id/content/detail/11832/cerdas-manfaatkan-medsos/0/sorotan_media