2 tahun lalu · 536 view · 3 menit baca · Agama 1900123_268110306687047_150561539_n.jpg
www.facebook.com

Ketika Habib 'Ali Mencintai Yahudi

Beberapa minggu yang lalu, seorang dosen Filsafat Skolastik yang pernah mengajar di kelas saya, di laman facebooknya menulis demikian:

"Habib 'Ali Jufri mengunjungi Baitul Maqdis yang sedang dikausai oleh Israel. Dan dalam sebuah forum resmi ia berkata: Aku Mencintai Yahudi!" Demikian kurang lebih.

Sebagian dari anda mungkin terjelengar menyimak pernyataan ini. Tapi, bagi saya, pernyataan tersebut sungguh tak mengundang pertanyaan sama sekali.

Bagi orang yang bisanya hanya memperuncing rasa buruk sangka kepada sesama Muslim, pastilah pernyataan tersebut akan menuai kata-kata sesat-terlaknat dan langsung diledakan bak bom granat sampai yang bersangkutan sekarat. Apalagi kalau itu jatuh ke tangan orang Wahabi dan sejenisnya yang suka mengobral kata sesat.  

Bisa-bisa kepala Habib Ali dipenggal seperti kurban sapi sampai mati karena dituduh pro-Yahudi. Belum lagi yang mengatakannya dikenal sebagai seorang sufi, yang selama ini menjadi musuh bebuyutan Wahabi.

Pastilah Habib 'Ali segera dilucuti. Darahnya halal, sosoknya pun pasti langsung dikuliti sampai habis di televisi dan berbagai media sosial yang kini kita nikmati setiap hari.

Berhubung dosen saya bukan Wahabi, tentu seruan-seruan provokatif itu tak ditemukan sama sekali.

Saya sendiri tak tahu pasti, apakah benar bahwa statemen itu dikemukakan langsung oleh Habib 'Ali. Namun, sekalipun benar, bagi saya tak ada secuilpun persoalan sama sekali.

Sekarang kita akan bertanya: Betulkah Habib 'Ali mencintai Yahudi? Oke. Jawabannya begini:

Dalam salah satu tulisan lepas, saya pernah menyinggung bahwa kaidah terpenting yang harus dipahami dengan baik dalam konteks menalar "kegilaan" para Sufi itu ialah kaidah yang berbunyi begini: "kullu ma siwallah maujudun bihi, idz la wujuda ma'ahu" (segala yang ada bisa ada karena adanya Yang Ada dan tak ada yang ada bersama yang ada kecuali Yang Ada).

Dengan demikian—bagi seorang Sufi sejati—tak ada yang ada dari yang ada kecuali Yang Ada. Yang ada bisa ada dari tiada. Dan yang ada dari tiada bagi mereka adalah tiada, karena yang benar-benar ada hanyalah Yang Ada. Keadaan yang ada hanya diadakan oleh Yang Ada. Tanpa adanya Yang Ada, yang ada tak akan pernah ada dan selamanya akan tiada.

Berlandas-tumpu pada kaidah di atas, pernyataan Habib 'Ali itu bisa ditafsirkan dengan pemaknaan demikian:

"Yahudi bisa ada menjadi Yahudi karena diadakan oleh Yang Menciptakan Yahudi. Tanpa adanya Yang Menciptakan Yahudi, Yahudi tak akan pernah menjelma menjadi Yahudi. Yahudi itu ada dari tiada, dan yang ada dari tiada adalah tiada, karena yang sebenar-benarnya ada dari yang ada hanyalah Yang Ada.

Dengan demikian, karena Yahudi itu ada dari tiada dan yang ada dari tiada adalah tiada, maka Yahudi itu tiada, dan yang ada hanyalah Yang Ada yang tak pernah tiada.

Jadi, ketika melihat Yahudi, seorang Sufi itu sedang menyaksikan Yang Mencipatakan Yahudi, bukan Yahudi itu sendiri.

Itu sebabnya, Yahudi—ataupun selain Yahudi, baik itu orang Atheis, Kristen dan lain-lain—versi sufi memiliki dua dimensi: Satu, Dimensi Ilahi (al-Bu'd al-Ilahiy). Dua, Dimensi Insani (al-Bu'd al-Insaniy).

Dari sudut dimensi yang pertama, Yahudi itu adalah makhluk yang diciptakan oleh Yang MahaSuci. Karena ia diciptakan oleh yang Yang MahaSuci, maka ia suci dan harus dicintai.

Sedangkan dari sudut dimensi yang kedua: Yahudi itulah adalah makhluk seperti makhluk-makhluk lainnya yang tak suci. Bisa taat setiap saat, bisa juga berdosa setiap hari.

Nah, pada tataran inilah kita bisa membenci dan mengutuk (perbuatan) Yahudi, yakni pada tataran kemanusiaannya yang tak suci sehingga perbuatannya pun tak harus—bahkan tak boleh—dicintai.

Tapi apakah Yahudinya dicintai? Jelas! Yahudinya dicintai, karena dia diciptakan oleh Yang MahaSuci, tapi perbuatannya tentu tak akan pernah direstui sama sekali, baik oleh Habib 'Ali maupun selain Habib 'Ali.

Dengan demikian, jika ditemukan sebuah pertanyaan apakah Habib 'Ali mencintai Yahudi? Sebagai seorang sufi sejati, saya yakin, Habib 'Ali pasti mencintai Yahudi, tapi tak akan pernah secuilpun sudi dengan perbuatan orang-orang Yahudi. Lihatlah kejernihan cara pandang seorang Sufi.  

Terus terang. Saya bukan seorang Sufi. Dan rasanya tak akan pernah pantas disebut sebagai Sufi sejati. Tapi, atas nama objektivitas—sebelum mengatasnamakan embel-embel ukhuwah dan sejenisnya—kita tak boleh menghukumi sesuatu kecuali dengan kacamata sesuatu yang kita hukumi itu sendiri.

Nah, inilah yang menarik dari cara berpikir para sufi; selalu mengedepankan rasa berbaik sangka kepada sesama umat Nabi, dan dalam saat yang sama, selalu berburuk sangka kepada diri sendiri.

Saya yakinkan seratus persen. Ajaran semacam ini tak akan pernah anda temukan dalam ajaran orang-orang Wahabi! Merayakan maulid Nabi yang jelas-jelas dilakukan oleh orang Islam saja dilarang, apalagi menyimak perkataan seorang Sufi yang mencintai Yahudi.

Habib 'Ali, aku bersaksi bahwa kau tak "pro-Yahudi" karena kau, bagiku, adalah Sufi sejati. Harapanku, Habib 'Ali, semoga kelak kau bisa hidup bersama Nabi di surga-Nya nanti, bukan bersama orang-orang Yahudi.