Walaupun teknologi sinematografi relatif muda umurnya jika dibandingkan usia dengan sastra dan budaya literasi naratif, ia menjadi ujung tombak kepopuleran budaya literasi naratif. Banyak karya literasi cetak yang sudah diadaptasi ke layar lebar dengan teknologi sinematografi. 

Film bisu The Birth of a Nation (1915) yang disutradarai oleh D. W. Griffith merupakan debut adaptasi karya literasi cetak ke layar lebar dari novel berjudul The Clansman. Setelahnya, adaptasi seperti itu berkembang pesat hingga kini. John Harrington, dalam bukunya: Film And/As Literature pada 1977 saja sudah memperkirakan sepertiga dari semua film yang pernah dibuat adalah bentuk adaptasi dari novel.

Bukan hanya novel, karya literasi cetak lainnya seperti cerita rakyat (folklore) ikut ambil bagian dengan memanfaatkan teknologi sinematografi sebagai ujung tombak kepopulerannya. Termasuk usaha Rumah Produksi Orion Pictures mengembangkan adaptasi cerita rakyat Gretel-Hansel dari Jerman yang terkenal itu. Cerita rakyat ini sudah berkali-kali diadaptasi dengan versi yang berbeda-beda.

Cerita dongeng terkenal dari Jerman ini ditulis oleh Grimm Bersaudara dan terbit pada 1812. Inti cerita dongeng Gretel-Hansel adalah kakak beradik muda yang diculik oleh seorang penyihir kanibal yang tinggal di hutan, dalam sebuah rumah yang terbuat dari kue, manisan, permen dan beberapa makanan lainnya yang tak lebih dari sebuah khayalan hingga dua anak tersebut kabur dengan selamat. 

Kisah tersebut sudah sering diadaptasi ke berbagai media. Pertama kali diadaptasi dalam bentuk karya opera Hänsel und Gretel (1893) karya Engelbert Humperdinck.

Film adaptasi Gretel-Hansel (2020) ini bergenre horor fantasi disutradarai Oz Perkins, ditulis Rob Hayes dan rilis pada Januari 2020 lalu. 

Walaupun adaptasi karya literasi cetak ke layar lebar sesuatu yang legal, namun tetap harus memperhatikan kesetiaan isi cerita (fidelity) pada sumber adaptasi serta kontekstualitas-intertekstualitas sumber adaptasi. Karena sifat kolektifnya, model adaptasi cerita rakyat ini tak lekang waktu karena dituturkan secara turun-temurun dan tersebar di berbagai belahan dunia.

Dongeng cerita rakyat pada dasarnya telah lama diadaptasi, diubah dan didaur ulang, dan dengan demikian memiliki sejarah yang mencakup ratusan tahun. 

Folklor adalah kebudayaan kolektif yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk tulisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. (Danandjaja, 1997: 2)

Dongeng (folklore) awalnya berbentuk lisan hingga direkam dalam tulisan sebagai cerita sastra di zaman yang lebih modern, termasuk adaptasi film. 

Gretel-Hansel (2020) dibintangi oleh Sophia Lillis sebagai Gretel, seorang gadis berumur 16 tahun, saudara Hensel. Kemudian ada debut Sam Leakey sebagai Hansel, Adik Gretel yang berumur 8 tahun dan Alice Krige sebagai Holda Sang Penyihir Jahat yang kerjanya menculik anak-anak dengan cara memberi hadiah-hadiah dan kenikmatan semu seperti Pilkada.

Sebagaimana film-film lain yang mengadaptasi cerita rakyat Gretel-Hansel, film Gretel-Hansel (2020) juga berkisah tak jauh dari inti cerita rakyat tersebut. Misi cerita membawa pemirsa untuk memahami tentang baik dan buruk yang diwakili oleh karakter masing-masing. 

Ketika pembaca literasi cetak cerita rakyat Gretel-Hansel mengenal dan mengidentifikasi karakter lewat teks; apa yang mereka rasakan, yang mereka utarakan, dan lainnya yang bersifat verbal, maka dalam layar lebar, penonton dapat melihat mimik, gestur, ekspresi karakter secara eksplisit dan hidup.

Teknik sinematografi film ini sudah cukup bagus. Pertama, teknik one shot atau biasa juga disebut long take yang merupakan teknik pengambilan gambar dalam film untuk menimbulkan kesan bahwa seluruh adegan diambil tanpa jeda atau terpotong dapat dinikmati pada beberapa bagian dalam film ini.

One shot ini dapat dinikmati semisal saat perjalanan di hutan lebat, di mana Gretel dan Hansel meninggalkan rumahnya diusir ibunya.

Jadi, saat proses syuting, kamera akan terus-menerus mengikuti pergerakan tokoh utama tanpa jeda alias hanya satu kali take. Penggunaan teknik one shot ini dapat membuat penonton seolah-olah menjadi bagian dari film dan ikut merasakan emosi yang dialami pemeran utamanya.

Teknik pengambilan gambar lainnya pada film ini adalah dolly zoom atau sering juga disebut sebagai vertigo effect. Teknik ini bisa menimbulkan ilusi atau kesan pusing pada penonton layaknya sedang mengalami kondisi vertigo. 

Dolly zoom merupakan teknik pengambilan gambar dengan menggerakkan kamera maju atau menjauh dari objek sambil melakukan zoom atau memperbesar gambar ke arah yang berlawanan dari gerak kamera. Dalam film ini, teknik dolly zoom dapat dinikmati pada adegan saat Gretel dan Hansel keracunan makan jamur liar di hutan saat kelaparan. 

Plot film ini juga cukup rapi, dengan awalan kisah seorang bayi perempuan di sebuah desa jatuh sakit dan diperkirakan tidak akan selamat. Sang ayah membawa anak itu untuk menemui seorang penyihir wanita, yang menghilangkan penyakitnya dengan segala efek negatifnya sebagai tagihan sebuah “tumbal”.

Kemiskinan dan penderitaan membuat keduanya gampang menerima hadiah dan kebaikan yang berkedok seperti Pilkada.

Inilah yang menjadi pelajaran moral film ini. Sebagaimana sebuah Pilkada yang sering meminta tumbal-tumbal kebebasan. Memberi hadiah dan janji, namun sering zonk di belakang hari. Sebagaimana quotes dalam film ini, “Kindness is its own reward”. 

So, Jangan mudah dan gumunan tentang "hadiah".