'"Bak, saya mau pinjam uang. 1 Juta saja. Kalau ndak ada 500 ribu juga tak masalah"

Sebut saja namanya Nom Pathor, salah satu suami dari sodara semi-jauh yang juga usianya ndak jauh beda dengan saya. Nom Pathor ini ketahuan memakai uang kantor sebesar 1.5 Juta. Dan karena itu dia dipaksa resign setelah melunasi dulu uang yang dia pakai sebagai syarat kalau mau mendapatkan surat referensi kerja sebagai sales counter pulsa.


Perasaan saya amat sangat campur aduk membaca pesannya. Bayangin, CUMA 1.5 Juta! Dipaksa resign. Saya bukan mau membela Nom Pathor ini. Tapi kok ya nominalnya berasa ndak setimpal dengan hukumannya. Kemudian pikiran saya melayang ke beberapa waktu lalu. Pas denger Bapak saya cerita kondisi Nom Pathor ini.

Nom Pathor yang hanya lulusan SMU, dulunya bekerja sebagai admin di sebuah bimbel. Di situlah dia bertemu dengan Nyanyah saya, dan kemudian mereka menikah. Mungkin karena dirasa gaji admin bimbel ndak seberapa ketika kebutuhan setelah menikah makin meningkat, dia pindah kerja jadi sales makanan ringan. Itupun setelah beberapa tahun usaha sendiri.

Dengan modal patungan bersama teman-temanya Nom Pathor buka usaha jadi distributor makanan ringan. Dalam selang waktu kurang dari dua tahun mengalami kebangkrutan hingga gulung tikar. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Eh ketambahan tanggungan buat balikin modal ke beberapa temannya total senilai 200 juta. Modyaaar.. uang dari mana buat bayar?

***

Akhirnya berkumpullah keluarga besar Nom Pathor dan Nyah Tus. Keluarga besar Nom Pathor angkat tangan. Malah terkesan jadi memutuskan hubungan keluarga. Dan untunglah Nyah Tus punya tiga kakak, yang walau kondisi ekonomi kebat-kebit mau juga membantu meringankan beban Nom Pathor dan Nyah Tus. Walau ndak bisa total 200 juta tapi mau bantu 100 juta bertiga dengan akad membeli jatah tanah warisan si Nyah Tus.

“Loh bantuin dimananya? Wong akad beli gitu?”. Jadi gini kakaknya Nyah Tus itu sudah pada punya keluarga. Tanah itu sebagai bentuk jaminan dan tanggung jawab moral ke keluarga masing-masing.

Apakah selesai sampai situ. Tentu saja tidak. Dan ternyata sampai beberapa tahun kedepan hingga sekarang. Si Nom Pathor masih kondisi tertatih untuk merangkak dalam memulihkan kondisi ekonomi keluarga. Dengan cara kerja jadi sales pulsa di konter. Bayangin gaji sales berapa. Dan tentu saja pendapatan bulanan yang didapat sekarang kurang cukup memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sehingga gali lobang tutup lobang dengan meminjam kesana kemari jadi solusinya.

***

Pas saya diceritain kondisinya sama bapak saya gemas. Apalagi bukan pertama kali Nom Pathor ini mengirim pesan ke saya. Dan saya sebenernya juga jadi ikutan kesal dibuatnya. Yang ada dipikiran saya itu, "Kenapa sih dulu sebelum memutuskan untuk usaha ndak menyiapkan dana darurat dulu?". "Kenapa sik ga menurunkan standart hidup saja", "Mbok hidup sesuai penghasilan". "Kenapa juga dulunya ga pakai uang dingin? Jadi ga menyusahkan orang banyak gini". Kenapa dengan penuh prejudice.


Yah, yang ada di mindset saya sekarang adalah mindset-mindset ala financial planner. Siapkan dulu dana darurat. Agar terhindar dari hutang maka pendapatan harus lebih besar dari pengeluaran. Kalau pengeluaran sampai over maka saatnya menurunkan standart gaya hidup dan cari side hussle/sampingan. Belum lagi teori dana darurat sekian kali budget pengeluaran rutin bulanan tergantung status single/menikah.

Dan untuk kondisi Nom Pathor apakah segampang itu menerapkan mindset ala finansial planner? Saya, bahkan anda kadang suka lupa. Bahwa di negara kita masih terjadi ketimpangan akses dan ketimpangan kesempatan. Hanya karena kita dan anda punya akses dan kesempatan bukan berarti hal ini berlaku ke Nom Pathor dan orang lain di kondisi sama kan? Latar belakang Pendidikan juga mungkin bisa jadi salah satunya.

Saya dan anda mungkin bisa kepikiran buat google bagaimana cara mencari usaha sampingan. Tapi tidak dengan Nom Pathor, dikondisi sekarang boro-boro bisa berpikir bagaimana cara mencari usaha sampingan. Pikiran buat ngegoogle pun tak ada. Bisa bertahan hidup dari hari sekarang ke besok tanpa dihantui hutang yang belum lunas sudah lebih dari cukup.

Ndak perlu Nom Pathor dengan ketimpangan pendidikan, akses dan kesempatan, salah satu kakak saya saja masih suka bingung kalau mau beli barang yang ndak tahu namanya. Misal mau cari cangkul. Dia ndak tahu namanya cangkul. Jadi begitu disuruh cari di internet dia blank. Sedang saya dan mungkin anda yang setiap hari sudah terbiasa online tinggal cari saja : alat untuk bertani, alat untuk bercocok tanam, alat untuk mengolah tanah dan berbagai kata kunci lain yang ada dipikiran kita sampai kemudian ketemu namanya. Apalagi kalau ada gambarnya kita tinggal search di google image dan google lens.

***

Finansial literasi adalah pengetahuan dan kecakapan dalam mengolah uang. Dimulai dari budgeting harian/bulanan, pencatatan dan evaluasi ditiap akhir hari/bulan atau istilah awamnya cara memitigasi resiko sebelum mengalami kebangkrutan.

Iya, semua bahasannya sebelum bukan sesudah. Padahal untuk orang-orang seperti Nom Pathor itu yang dibutuhkan adalah tindak kongkrit gimana agar bisa bayar hutang dengan cepat dan kehidupan tidak nelangsa-nelangsa amat.

Saya juga baru mengenal istilah literasi finansial adalah ketika saya iseng googling gimana caranya ngelunasin hutang. Dan dari browsing sana-sini saya terdampar di akun-akun financial planner.

Yang ada waktu itu saya julid. Karena contoh kasusnya adalah orang-orang dengan gaji diluar bayangan saya, tapi usianya sesaya dan gaya hidup jelas bak langit dan bumi dengan saya. Sambil mbatin-mbatin astaga orang-orang ini gaji segini jebul masih ga cukup.

Kembali ke kasus Nom Pathor tadi, gimana mau nyiapin dana darurat, ketika jauh sebelum shit happen pun dia buta literasi keuangan. Saya saja, yang sok melek infromasi teknologi saja baru melek literasi keuangan 3 tahunan terakhiran. Itupun baru setahun dua tahun ini mencoba menerapkan. 

Kenapa? Karena ya yang jadi contoh kasus adalah orang-orang dengan penghasilan tinggi dua digit. Boro-boro mau nerapin terkait dana darurat wong di setiap bulan minggu terakhir ga makan mie saja wes untung. Bahkan saya pun pas awal kerja ya pernah ngalamin akhir bulan hidup dengan duit kricikan sisa kembalian yang dikumpulkan di botol aqua.

Semua teori finansial selalu berkutat sisikan penghasilan dulu untuk dana darurat. Habis itu investasi pakai uang dingin. Kalau semua kondisi sesuai itu. Pinjol ya ga perlu ada kan?

***
Atau kisah temen saya lain lagi. Dia juga kejebak hutang ratusan juta. Karena shit happen juga. Mobil yang dia salesin dibawa kabur pembeli. Yang pasti temen saya ketanggungan ganti rugi.

Apa yang terjadi? Sayangnya temen saya ini ndak seberuntung Nom Pathor yang sodaranya mau urunan bantuin lunasin hutang. Satu-satunya pilihan adalah dipenjara karena ndak bisa bayarin hutang ke perusahaan.

Ninggalin istrinya yang lagi hamil. Terus pas ketika butuh sambat malah dikomen “Life is unfair so deal with it!” Padahal ya buat yang kejebak hutang hidup bukan perkara deal/no deal. Kalau ndak deal ya wes bunuh diri to ya.

Dan begitu mau mengakhiri tulisan ini saya keinget lagi pas setelah saya googling cara melunasin hutang, linknya saya share kek kakak. Dan balesannya : wes ndak bantu (dengan minjemin) malah sok kakean cangkem!. (Chop)