Akhir-akhir ini, saya sering melihat iklan tentang bimbingan belajar online, yaitu Ruang Guru. Mungkin hampir seluruh channel TV sudah diambil alih pihak Ruang Guru. 

Di channel A ada Ruang Guru, ganti channel B ada Ruang Guru lagi, pindah lagi ke channel C masih terpampang Ruang Guru. Bahkan, tak tanggung-tanggung artis papan atas menjadi pengisi acara dan ambassador mereka. Bukan main, demi menarik peminat untuk mengunduh aplikasinya dan menarik untuk berlangganan. 

Jauh sebelum Ruang Guru, pemain lain yang telah masuk ke lapangan lebih dulu ada Zenius Education dan Quipper. Bimbingan belajar online tersebut merupakan bukti dari fenomena disrupsi yang melanda di dunia pendidikan. 

Berdasarkan redarjember.jawapos.com, disrupsi merupakan fenomena yang mana ketika aktivitas pada awalnya dilakukan di dunia nyata beralih ke dunia maya. Hal ini pun tentu didukung dengan adanya teknologi digital yang dapat memudahkan segala aktivitas masyarakat.

Munculnya bimbel online menjadi salah satu sumbangan besar dalam setiap persoalan generasi milenial. Bila dirasa masih belum paham dengan materi dan sulit mengerjakan soal maka tinggal mengakses video tutorial di handphone atau leptop.

Untuk memperoleh kemudahan itu tentu siswa akan diminta untuk mengunduh aplikasi bimbel dan mulai untuk berlangganan. Harga yang ditawarkan pun bervariasi tergantung pada jenis jenjang pendidikan dan paket yang dibutuhkan entah hanya sebulan atau hingga setahun.

Ribuan video materi dilengakapi animasi, kumpulan soal-soal sebagai bahan uji kemampuan siswa dilengakapi pambahasan yang cepat dan akurat, serta fitur-fitur menarik lainnya bisa dinikamati. Tentu hal tersebut bisa dicapi apabila kita sudah mengunduh dan berlangganan.

Tidak bisa dimungkiri, konten yang dikemas sangat apik dan sesuai dengan gaya para remaja masa kini, bimbel online menjadi alternatif bagi para siswa yang membutuhkan materi lebih dan mudah dipahami. Mulai dari tentor-tentornya yang ciamik dalam menjelaskan materi, konsep video yang menampilkan animasi sehingga jauh dari kata membosankan, serta barangkali tentor yang good looking dapat membelalakkan mata siswa berjam-jam tanpa kedip dalam menyimak penjelasannya. Segitunya.

Kalau sudah begitu, barangkali ruang kelas fisik akan tergeser posisinya dengan kelas maya. Seolah-olah peran sekolah dalam mendidik siswa telah hilang. Lalu, bagaimana dengan peran guru sebenarnya di kelas dalam menyampaikan materi? Apakah hanya menuntut siswa untuk memiliki skor tertinggi? Jika demikian, tentu tidak menjadi heran bila kelas fisik akan terdisrupsi oleh kelas maya.

Tidak bisa dielak bahwa saat ini sekolah tak lagi menjadi tempat pembelajaran yang ideal serta keberhasilan yang diukur berdasarkan angka tertinggi yang dimiliki. Misalnya saja dalam menentukan masuk PTN maka harus lulus dengan nilai yang ditetapkan. Hal tersebut tentu menjadi celah masuknya bimbel online dan kita tidak dapat menolaknya.

Tentu menjadi sebuah pertanyaan tentang bagaimana pelayanan dari sekolah itu sendiri sehingga para siswa mebutuhkan tambahan belajar melalui bimbingan online. Bukankah seharusnya sekolah memiliki semua layanan yang dibutuhkan untuk keberlangsungan para siswa?

Berdasarkan observasi yang saya lakukan pada sejumlah pelajar, sembilan dari sepuluh siswa menganggap belajar di kelas terkesan kaku dan monoton. Bagaimana tidak datang ke sekolah, duduk dan mendengarkan berjam-jam kemudian mengerjakan tugas dan mendapat hukuman ketika tidak mengerjakan begitu seterusnya tanpa adanya variasi belajar yang lain. 

Tidak hanya itu, jumlah murid yang cukup banyak dalam ruang kelas menjadi kendala materi yang didapat hanya sekedar masuk saja di telinga kiri dan keluar telinga kanan. Efektifas belajar menjadi berkurang. 

Akhirnya, nilai dari proses pembelajaran itu menjadi tidak ada artinya. Semua hanya tertuju pada nilai, sehingga hanya terfokus pada latihan dan pemecahan soal saja. 

Tidak heran, peran bimbel online menjadi efektif tatkala bimbel online yang memiliki basic sebagai solusi dalam memecahkan berbagai soal. Namun demikian, jika dilihat dari segi peran dalam membentuk karakter siswa tentu guru-guru virtual dalam video tidak tahu menahu daripada guru dalam dunia nyata.

Mengutip dari perkataan Anis Baswedan dalam acara pameran dan konferensi edukasi “GESS 2018 Indonesia” yang berlangsung pada tanggal 26-28 September 2018 bahwa guru tidak dapat digantikan oleh teknologi. Tentu hal itu dapat dikatakan benar, pasalnya dalam menciptakan dan melatih karakter pada siswa disamping proses transfer ilmu pengetahuan tentu perlu adanya campur tangan guru.

Apakah guru-guru virtual dalam video bisa membentuk karakter? Tidak, bahkan mereka tidak mengetahui siapa dan bagaimana karakter siswa yang mereka ajar. 

Menurut saya, proses pembelajaran yang baik dapat tercipta jika terdapat interaksi antara guru dan murid. Maka akan memudahkan guru menemui setiap karakteritik siswa sehingga proses pembelajaran dan pembentukkan karakter bisa diaplikasikan dengan mudah.

Sekarang ini memang guru dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman, jika tidak adaptif maka disrupsi teknologi menjadi balasan. Kreatif dan kritis menjadi tuntutan guru untuk menciptakan pembelajaran yang menarik, kelas yang hidup, dinamis, dan penuh dengan ide para siswanya.

Dari paparan di atas, keberadaan adanya bimbel online yang mulai menguasai insan siswa zaman now, akan seperti apa karakter yang terbentuk?