Waktu itu saya sedang makan siang bersama seorang teman di sebuah rumah makan. Sambil menunggu pesanan datang, kami sibuk dengan ponsel masing-masing. Biasa, media sosial adalah tujuan utamanya. 

Ketika saya membuka beberapa notifikasi yang masuk, tiba-tiba mak deg, ternyata dari beberapa grup di media sosial saya telah beredar gambar-gambar dan video kecelakaan yang baru saja terjadi.

Kebetulan gambar dan video di media sosial saya telah saya setting non aktif pada media auto download. Jadi saya tidak bisa langsung melihat gambar maupun videonya kalau tidak saya klik.

“Wih, ada kecelakaan, Bro.” Tiba-tiba teman saya itu  mengabari kalau telah terjadi kecelakaan maut di sebelah pom bensin Cangkring. Ya, tempat kejadian dengan tempat kami makan hanya berjarak setengah kilo meter. 

Ini berarti kabar kecelakaan maut telah menyebar kemana-kemana. Nyatanya teman saya juga telah mendapat kabar.

Minuman yang kami pesan telah datang. Teman saya menyeruputnya sambil terus memandangi ponselnya, melanjutkan menyaksikan video kecelakaan maut itu. Saya melihat ekspresinya yang dengan santai tanpa beban apa-apa.

Dia serasa tengah menyaksikan semacam hiburan biasa. Malah dia mengabarkan pada saya kalau ada seorang pengendara motor tergencet mobil box. 

Beberapa korban terbaring di tengah jalan raya. Saya yang mendengar ceritanya saja sudah miris. Apalagi menyaksikan foto-foto dan video yang beredar itu.

Bukannya saya ketakutan untuk menyaksikan gambar-gambar dan video itu. Tetapi bagi saya, harus ada rasa empati yang kita berikan dengan tanpa menyaksikan foto-foto dan video itu. Apalagi membagikan sampai viral pada teman-teman di grup media sosial.

Saya tidak membuka gambar-gambar dan video kecelakaan maut itu. Saya hanya sekilas membaca komentar dari beberapa teman yang ada di grup. 

Selanjutnya saya menghapus semua gambar dan video itu. Saya tak ingin melihatnya. Mengetahui kejadian itu sudah cukup bagi saya. Tidak perlu tahu bagaimana kejadiannya. Saya juga tidak ingin mengetahui berapa jumlah korban dan siapa yang harus disalahkan.

Rasanya moment makan siang saya jadi terganggu gara-gara berita kecelakaan maut itu. Apalagi melihat teman saya yang malah menikmati video kecelakaan itu.

***

Ya. Kita saat ini memang tengah hidup di era empat point nol yang memang begitu gegap gempita dengan serangkaian berita. Kita terus digempur habis-habisan tiada henti dengan beragam informasi yang paling aktual.

Kita dengan leluasa bisa mengakses berita apapun sambil menikmati es kelapa muda dan menu makan siang, misalnya. Semua berita adalah hiburan, entah itu berita politik, ekonomi, sosial, budaya atau berita kecelakaan.

Kita pun bisa begitu fleksibel mengaksesnya. Kapanpun dan dimanapun, selama kita menyempatkan waktu membuka ponsel, maka banjir bandang informasi itu langsung menyerang kita tanpa ampun.

Kita dengan santai bisa menyaksikan video kecelakaan maut yang merenggut beberapa nyawa, misalnya. Ironisnya, kita bisa mengakses berita itu sambil menikmati makanan dengan tanpa beban apapun. 

Kita sepertinya sudah melupakan apa itu rasa empati. Yang ada malah kita merasa bangga bila ada kejadian apa saja dan kitalah orang yang pertama kali mengunggah kejadian itu agar dikonsumsi banyak orang.

Tidak peduli apakah kejadian itu berdampak psikologis kepada keluarga yang diberitakan, seperti kecelakaan itu. Saya membayangkan bagaimana perasaan keluarga ketika tahu orang yang dicintainya itu pulang hanya dengan membawa nama. 

Bagaimana rasa shok dan ketidakpercayaan keluarganya karena mengetahui ketika si korban berpamitan keluar rumah dalam keadaan baik-baik saja. Tiba-tiba dia pulang diantar mobil ambulans dalam keadaan terbujur kaku.

Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana bila keluarganya tahu kalau kecelakaan yang merenggut nyawa orang yang dicintainya itu telah beredar luas. Sementara gambar-gambar dan video korban dengan tanpa sensor disaksikan banyak orang. Saya juga tidak bisa membayangkan, apa yang ada di otak orang yang menyempatkan mengambil gambar dan video itu kemudian mengunggahnya ke media sosial.

Harusnya, dengan menyaksikan insiden kecelakaan maut itu bisa dijadikan momentum untuk perenungan, introspeksi diri, bahwa kita setiap hari hidup di jalanan. Tentunya maut sewaktu-waktu bisa merenggut kita semua. Dengan begitu ketika kita melewati jalan raya, kita  selalu mematuhi peraturan lalu lintas dan tidak ugal-ugalan di perjalanan.

Wong kita sudah hati-hati saja kadang masih mendapat celaka. Bagaimana kalau ugal-ugalan menjadi kebiasaan di jalan raya coba. Tentunya kita jangan mengandalkan pemantauan petugas kepolisian. 

Kita harus menyadari jumlah polisi di Indonesia tak sebanding dengan jumlah pengguna jalan raya. Tentunya polisi juga tidak hanya bertugas di jalanan saja.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat bahwa di Indonesia, setiap satu jam sampai dengan saat ini jumlah orang yang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas untuk semua kasus yang terjadi, baik melibatkan kendaraan umum maupun sepeda motor, yang terutama yang paling banyak itu antara 2-3 orang yang meninggal dunia.  

Dengan demikian dibutuhkan kerja sama seluruh pihak termasuk masyarakat agar penanganan dan keselamatan bertransportasi dapat menjadi lebih baik ke depannya. Kita tentu memaklumi, saat ini jumlah kendaraan, baik motor maupun mobil makin hari makin meningkat.

Dulu satu keluarga memiliki satu  motor saja sudah bagus. Tapi sekarang, setiap anggota keluarga memiliki satu unit motor. Bayangkan bagaimana kepadatan lalu lintas jalan raya saat ini.

Dengan rata-rata 2-3 orang yang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas, hal ini menunjukkan angka kecelakaan begitu tinggi di jalan raya. Bisa jadi kelalaian pengendara itu sendiri ataupun kondisi kendaraan yang tidak layak jalan yang menjadi penyebabnya. Sebagai pengguna jalan, tentunya kita sebagai pengendara wajib memiliki tanggung jawab atas keselamatan diri sendiri dan orang lain di sekitarnya.

Untuk menanggulangi berbagai hal tersebut, ada baiknya kita selalu mengutamakan safety driving ketika berkendara, baik itu menggunakan perlengkapan berkendara yang sesuai aturan, mematuhi peraturan lalu lintas hingga wajib memiliki surat izin mengemudi. Tapi, di negara plus enam dua ini, masih saja banyak yang lalai dan menganggap enteng berbagai hal tersebut sehingga tidak jarang terjadi kecelakaan lalu lintas.

Coba saja kita lihat tiap pagi dan sore di jalan raya. Orang-orang berdesakan berebut jalan untuk perjalanan, baik berangkat maupun pulang kerja. Saking padatnya, kalau tidak hati-hati, kecelakaan sewaktu-waktu bisa terjadi.

Sangat disayangkan bila masih ada orang yang menyempatkan diri memotret dan memvideo kecelakaan hanya demi konten. Sangat memalukan dan tidak berperikemanusiaan.

----

Moch Taufiqurrohman, S.Ag adalah ASN Kementerian Agama Kabupaten Kendal. Suka menulis dan melukis.