Pandemi Covid-19 ini telah banyak membuat orang depresi dan stres. Perubahan banyak hal dan adaptasi dengan hal-hal baru adalah kondisi yang membuat banyak orang tidak siap. Bahwa ada sebagian orang yang berusaha bijak, dengan berkata wabah ini membuat kita makin dekat dengan keluarga, makin banyak waktu berkualitas dengan keluarga.

Percayalah bahwa hal tersebut adalah upaya menghibur diri agar level stresnya tidak makin akut. Saya termasuk orang yang berusaha agar punya aktivitas yang menyenangkan di rumah. Baik dengan keluarga atau dengan teman-teman.

Dalam satu kesempatan, terjadi sebuah obrolan di WhatsApp Group (WAG) dengan beberapa teman masa kuliah dulu. Sebuah perbincangan ngalor-ngidul (tidak tentu arah) orang Surabaya menyebutnya. Hal tersebut bagian dari mencari hiburan.

Dalam WAG tersebut, hampir semuanya laki-laki, maka pembicaraannya tidak jarang terkait hal-hal yang berbau seks. Obrolan-obrolan yang menurut saya cukup menghibur di tengah info Covid-19 yang masih saja menjadi teror.

Dalam obrolan tersebut, ada beberapa teman yang sampai hari ini belum menikah. Tentunya bagi teman-teman lain yang sudah menikah adalah kesempatan untuk bully mereka yang belum menikah. Dari urusan siapa yang menemani ketika kerja dari rumah sampai urusan kebutuhan seks mereka.

Obrolan saling ejek pun terjadi. Sampai pada pembahasan siapa yang bakal memenuhi kebutuhan seks mereka. Agak terkesan tabu sih perbincangan terbuka tentang seks di budaya kita. Tapi obrolan tentang itu setidaknya yang mendorong saya menulis cerita ini.

Dalam obrolan tersebut, ada satu teman yang memang terkenal apa adanya, cablak (ngomongya suka spontan) dan seperti sudah membuang jauh-jauh rasa gengsinya. Sebut saja si Fulan namanya, di usianya yang relatif matang, dia tidak juga memutuskan untuk menikah. Saya tidak tahu apa yang membuat tidak segera menikah dan andaipun saya tahu, saya juga tidak akan menceritakannya disini.

Ketika teman-teman secara bertubi-tubi menyerangnya terkait apa aktivitas dia ketika dia harus di rumah kontrakannya di masa pandemi begini. Dengan santai dia menjawab, "ya gimana lagi wong gak punya istri, ya kalau lagi pingin ya lihat bokep atau kencan di aplikasi chating…. ha…ha…"

Group makin menjadi-jadi. Ada yang makin semangat mem-bully, ada pula yang dengan gaya bijaknya menasihati. Bagi kebanyakan orang, pembicaraan tentang seks memang dianggap tidak patut dibicarakan di ruang publik. Hal tersebut dianggap tidak sopan dan jorok. Tapi hal tersebut tidak berlaku untuk teman saya tadi.

Bagi dia, mungkin itu salah satu aktivitas yang menolongnya dan menghiburnya di masa pandemi ini. Pembicaraan tentang seks bagi kebanyakan orang masih dianggap perbuatan yang tidak patut dibicarakan dengan banyak orang. Jangankan banyak orang, berdua dengan pasangannya saja terkadang agak canggung.

Aktivitas cyber sex tentunya sudah tidak asing lagi bagi generasi milenial atau generasi di bawahnya. Hal tersebut ada karena ruang cyber (cyber-space) menyediakan layanan tersebut. Bagi generasi pra-internet, aktivitas tersebut pastilah asing karena mereka besar dan tumbuh tidak di era internet.

Salah satu anasir dari cyber-sex adalah fantasi seks yang dilakukan oleh partisipan dengan melukiskan tindakannya dan menanggapi lawan berbincang yang kebanyakan dalam bentuk tertulis dan dirancang untuk stimulasi seks maupun fantasi (Harley, 1996).

Fantasi adalah sebuah ruang privat dalam diri kita dan itu merupakan tempat yang paling jujur. Dalam ruang fantasi tersebut, kita bisa membayangkan apa saja yang kita sukai dan nikmati, Namanya saja fantasi.

Mungkinkah Jadi Solusi?

Kebiasaan memanfaatkan situs porno atau aplikasi chatting sebagai bagian dari cyber-sex di masa pandemi ternyata meningkat lumayan signifikan. Hal tersebut didorong oleh anjuran atau larangan untuk stay at home dalam rangka menghambat laju virus. Dan peningkatan tersebut juga diikuti sisi buruk yakni pelecehan terhadap perempuan melalui daring.

Sebagaimana dikatakan Komnas Perempuan dan LBH APIK, Iqraa dan Mazuma dalam Magdalene (24/4/2020) yang berasumsi bahwa pelaku merasa bosan di tengah karantina sehingga timbul niat jahat untuk melecehkan perempuan.

Yang ingin saya ulas bukan terkait hal tersebut tetapi bagaimana aktivitas sexual di dunia cyber dan mungkinkah bisa menjadi solusi untuk para lajang tanpa harus melecehkan atau merugikan siapa pun?

Ada beberapa poin pembicaraan yang menarik untuk saya ulas dalam obrolan di WAG tadi. Ketika banyak teman-teman mem-bully si Fulan tadi, dia spontan melakukan pembelaan. Dengan obrolan yang makin tidak menentu, dia berseloroh, “Mending aktivitas di internet bos, tidak menyebabkan hamil di luar nikah dan gak kena penyakit HIV, ha…ha…”.

Jika kita mau jujur, ungkapan tersebut ada benarnya. Dalam kondisi nyata, masyarakat kita kerap mengalami persoalan hubungan seks bebas yang tidak sehat dalam hal fisik maupun psikologi, seperti penularan penyakit kelamin, kehamilan, aborsi, dan perasaan terluka ditinggalkan pasangan.

Meski terkesan bercanda, ungkapan itu benar adanya bahwa cyber sex dianggap aman karena mampu menjauhkan dari sejumlah perkara di dunia nyata yang kerap dikaitkan dengan seks yang berpenyakit.

Hal di atas seperti yang diungkapkan Arthur Kroker ketika menjelaskan karakteristik cyber sex dalam sebuah frasa yang menarik: “sex without secretions” (disitir dalam Bell: 2000, Irawanto: 2017). Yakni aktivitas seks tanpa pertukaran cairan tubuh tetapi pelakunya bisa menikmati seperti berhubungan secara langsung.

Gambaran atas aktivitas seksual dan justifikasinya di atas yang mendorong saya untuk mengajukan pertanyaan. Mungkinkan cyber-sex bisa menjadi solusi di tengah kebosanan? Solusi bagi populasi lajang yang belum siap untuk menikah.

Terdengar agak ngawur tetapi faktanya, si Fulan tadi mengakui itu. Alih-alih menghindari penyakit kelamin atau persoalan lain, dia bisa jadi mewakili banyak orang di luar sana yang tidak siap untuk menikah. Mengingat menikah bukan hanya persoalan seks saja.

Bagi si Fulan, cyber-sex menyelamatkannya. Meski konsekuensinya jelas dianggap bertentangan dengan ajaran agama, budaya bahkan negara. Praktik cyber-sex menjadi tantangan bagi agama dan budaya kita.

Kecepatan teknologi harus dibarengi dengan kemampuan membangun justifikasi yang otoritatif atas perilaku seks di dunia cyber. Tujuannya adalah agar agama dan budaya tidak mengalami kegagapan menghadapi masa depan (shock future) yang terus memunculkan praktik-praktik baru.

Tidak cukup menghalau perubahan hanya dengan menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak. Kegagapan atas realitas banyak dicontohkan negara melalui Menkominfo, yang seolah tidak ada solusi lain selain sensor dan blokir situs atau akun.

Padahal menghadapi hal tersebut, generasi hari ini lebih cerdik. Dengan sebuah program yang tidak terlalu mahal pun blokir bisa ditembus. Jadi mending hadapi perubahan ini dengan tangan terbuka dan pahami kondisinya.