Pandemi Covid-19 telah melipatgandakan penderitaan perempuan yang selama ini sudah cukup menderita. Meskipun jumlah laki-laki yang meninggal karena virus corona lebih banyak, tetapi dampak terhadap kesehatan mental yang dirasakan oleh perempuan lebih besar dibanding laki-laki.

Dalam kultur patriarki, sebagai subordinat laki-laki, perempuan kurang mampu melakukan kontrol atas kehidupan mereka sendiri, bahkan dihancurkan tubuh dan martabat kemanusiaannya dengan kekerasan fisik, psikis, verbal, hingga kekerasan seksual. 

Kekerasan terhadap perempuan terjadi secara sistematis, mewujud dalam berbagai kebijakan dan produk perundang-undangan yang mengatur ranah publik dan privat, sikap politik, norma sosial, sistem kemasyarakatan, sistem bahasa, sistem pengetahuan, sistem ekonomi, hingga sistem teknologi yang berkembang maju saat ini. 

Nyaris dalam seluruh system dalam kehidupan ini. Aspek-aspek itu dilanggengkan melalui cara-cara manipulatif, berulang, konsiten, tidak pernah berhenti.

Dalam kondisi yang demikian, multiflayer efek pandemi Covid-19 kemudian menghantam kehidupan perempuan lebih keras lagi. Dalam berbagai aspek, tidak hanya ekonomi. 

Ketika tanggung jawab layanan sosial dasar oleh negara dialihkan kepada keluarga, budaya patriarki yang masih mengakar kuat di negeri ini “memaksa” perempuan menanggung risiko lebih berat dibanding laki-laki. Penutupan sekolah-sekolah, misalnya, menambah beban kerja perawatan dan pengasuhan tak berbayar bagi perempuan.

Di tengah makin luas dan populernya penggunaan media sosial, ternyata juga menghadirkan bentuk-bentuk baru Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang mengancam anak-anak perempuan, termasuk ancaman kekerasan seksual. Mulai dari kategori cyber grooming (memperdaya korban korban menuruti kemauan pelaku), malicious distribution (ancaman untuk menyebarluaskan foto atau video pribadi yang mereka miliki), hingga porn revenge yang memiliki unsur balas dendam.

Baik cyber grooming, malicious distribution hingga porn revenge, merupakan bentuk baru kekerasan seksual berbasis gender online yang ditangani lembaga tempat penulis bergabung, pada situasi pandemi Covid-19. 

Pun ketika seluruh sistem dan tenaga kesehatan difokuskan untuk penanganan Covid-19, pelayanan kesehatan reproduksi terabaikan dan perempuan kesulitan mengakses layanan kontrasepsi modern. Akibatnya, terjadi peningkatan kehamilan yang tidak direncanakan dan berisiko pada kematian ibu melahirkan. Menambah lagi beban domestik dan penderitaan (mental) perempuan. Masyarakat patriarki menertawakan situasi ini, dengan candaan “Covid-nya negatif, istrinya positif”. Betapa miris.

Pandemi Covid-19 telah memperparah ketidaksetaraan gender dan meningkatkan kerentanan perempuan (dan anak) terhadap kekerasan berbasis gender termasuk eksploitasi dan penganiayaan seksual. Perempuan rentan mengalami stres dan melampiaskannya kepada anak. 

Berita tentang ibu yang menganiaya anaknya hingga meninggal lantaran kesal si anak susah diajarkan saat belajar online pernah kita dengar dan baca di berbagai media. Juga berita tentang anak-anak yang depresi hingga bunuh diri karena kesulitan belajar online.

Di lingkungan kerja penulis sebagai ibu rumah tangga dan aktivis perempuan di akar rumput, setiap hari mendengar keluhan ibu-ibu tentang kesulitan mendampingi anak-anak mereka belajar di rumah. Bagaimana harus menjadi guru (tanpa sertifikasi), bagaimana melakukan komunikasi dan kordinasi yang tak mudah dengan guru-guru di sekolah untuk mencapai sasaran dan target belajar anak.

Belum lagi keterbatasan keuangan sehingga tidak memiliki HP (android) yang tidak hanya dapat digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga mencari informasi dan berbagai aktivitas lainnya yang diperlukan ketika anak-anak harus belajar dari rumah. Itu pun (masih) harus beradaptasi dengan sistem teknologi daring yang (bagi banyak perempuan ibu rumah tangga di akar rumput) tidak mudah. 

Hal ini memicu stres dan depresi, memengaruhi cara berpikir dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun, kondisi itu sering terabaikan karena perempuan memang harus memikirkan dan dianggap (paling) bertanggung jawab mengurus persoalan keluarga.

Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK-Indonesia) merilis bahwa setidaknya ada empat masalah yang paling banyak ditemui ketika pandemi Covid-19 ini melanda. Yaitu, kesulitan belajar ketika sekolah-sekolah ditutup dan belajar dilakukan dari rumah, kecemasan, stres, dan gangguan mood antara lain depresi, sebagaimana ditulis Kompas.com ( 21/10/2020).

IPK Indonesia menyebutkan bahwa terdapat 15.737 jumlah klien yang menerima layanan psikolog klinis, dari 194 psikolog di 27 wilayah Indonesia. Layanan kepada individu adalah yang terbanyak (14.619 orang), klien keluarga (927 keluarga), dan komunitas (191 komunitas). 

Sebanyak 9.428 penerima layanan individual adalah orang dewasa (67,8%), anak-anak atau remaja ada sebanyak 4.690 orang dan lansia merupakan kelompok usia yang paling sedikit mengakses layanan psikolog klinis (501 orang).

***

Hasil survei terbaru “Menilai Dampak Covid-19 terhadap Gender dan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia” yang dirilis UN Women pada Oktober 2020 menegaskan bahwa pandemi Covid-19 lebih banyak memengaruhi kesehatan mental perempuan dibanding laki-laki. Meskipun grafik kasus terinfeksi Covid-19 menunjukkan lebih banyak laki-laki yang meninggal, tetapi dampak terhadap kesehatan mental yang dirasakan oleh perempuan lebih besar dibanding laki-laki.

Pandemi Covid-19 memengaruhi kesehatan mental dan emosional perempuan lebih berat dibanding laki-laki. Sebesar 57% perempuan mengalami peningkatan stres dan kecemasan akibat bertambahnya beban pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan, kehilangan pendapatan, serta mengalami kekerasan berbasis gender. Sedangkan laki-laki hanya 48%.

Pembatasan sosial karena pandemic Covid-19 telah membuat 69% perempuan dan 61% laki-laki menghabiskan lebih banyak waktu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tetapi perempuan memikul beban lebih berat dibanding laki-laki. Karena 61% perempuan juga harus mengasuh dan mendampingi anak, sebaliknya, hanya 48% laki-laki yang melakukannya.

***

Pemerintah, melalui Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) telah merancang lima program utama, yaitu Indonesia Aman, Indonesia Sehat, Indonesia Berdaya, Indonesia Tumbuh dan Indonesia Bekerja.

Namun, dari kelima program utama itu, penulis tidak melihat adanya spirit untuk menyuguhkan program spesifik perempuan. Yaitu program-program yang direncanakan dan diimplementasikan dengan memasukan perbedaan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan (spesifik) perempuan. 

Misalnya, Indonesia Aman untuk Perempuan atau Indonesia Sehat untuk Perempuan. Sehingga perempuan tidak lagi menjadi kelompok yang paling sengsara dihantam pandemic Covid-19 ini.