Malam ini, gemintang seakan lelah memancarkan cahayanya, menghiasi cakrawala. Redup dan tidak bergairah.

Kupandangi itu dalam diam, dari balik padatnya dedaunan pohon klengkeng, yang  baru saja bersemi, setelah usai didera kemarau.

Entah sudah berapa malam aku di sini,  menyendiri, memandangi suka cita ikan Nila yang meliuk-liuk di antara karang buatan, di dalam kolam yang berukuran satu kali dua meter, di salah satu sudut rumah.

Malam itu, aku datangi lagi tempat itu, setelah aku pastikan anak-anak tertidur lelap. Biar mereka tidak tahu apa yang sedang kulakukan dalam kesendirian.

Namun demikian, sesekali aku masuk mengawasi mereka yang terkapar asyik. Kupandangi mereka dalam tatapan kosong. Terkadang aku merunduk, menangis, karena telah menghadirkan mereka ke dunia, lalu pada akhirnya tidak tulus menyayangi mereka.

Aku kembali lagi ke tempat yang tadi.

Kutarik kursi bambu mendekat ke pinggiran kolam itu, biar lebih jelas memandang ikan-ikan berarak. Kadang terasa lega, ketika memandang gerombolan ikan Nila yang tak henti-hentinya berseliweran, mengelilingi kolam itu dalam kegembiraan.

Aku hanya ingin mencari ketenangan batin. Ketika anganku tiba pada suatu masa, di mana keindahan senantiasa mewarnai hari-hari hidupku selama lima belas tahun ini. Aku rindu suasana itu, suasana di mana harmonisasi selalu dijaga.

Namun kini, tinggal kenangan. Entah apa yang merasukimu, kamu tega menyisakan duri dalam daging yang tentu menusuk perih tak tertahankan.

"Bunda, kok masih di sini?"

Aku kaget mendengar suara itu dari belakang, membuatku terhenyak lalu berusaha menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata puteri sulungku yang usianya beranjak 14 tahun itu terjaga, lantas mencariku.

"Iya, Nak, Bunda istirahat sebentar di sini."

Aku berusaha menutupi sejauh mungkin apa yang sedang bergejolak dalam hati ini.

Namun, sisa air mata yang menempel di pipiku tidak dapat diingkari, bahwa sesungguhnya aku sedang meratapi nasib rumah tanggaku, yang kini sedang dalam cobaan yang luar biasa.

"Bunda, menangis, ya?" katanya sambil berusaha duduk di pangkuanku, "Bunda, Apa yang telah membuat bunda sedih begini?" Sambung Venta.

"Tidak Venta, bunda tidak menangis, kok," jawabku.

"Bunda, jangan bohong dong sama Venta, itu mata bunda memerah ...."

Aku sebenarnya tak sudi, jika apa yang sedang  bergejolak dalam dada, diketehui anak-anakku yang sedang beranjak remaja. Biarlah kepedihan ini kutanggung tanpa melibatkan mereka.

"Bunda, ayah, kok,  jarang pulang, ya,  sekarang?" tanya Venta.

"Bukan begitu dong Sayang, ayahmu masih bertugas ke luar kota. Sebentar lagi akan pulang, kok," jawabku mengelak.

Aku mencoba untuk menghindari sejauh mungkin prasangka buruk Venta kepada ayahnya.

"Tapi kenapa, setiap kali aku telepon ke nomor ayah, selalu tidak aktif, Bu?"

"Mungkin saja, ayahmu sedang sibuk, sehingga ponselnya dinonaktifkan, Nak."

Ternyata, kesulitan untuk menghubungi suamiku saat ini pun, dialami anakku.

"Venta, kamu sudah bobo?" Aku bertanya ketika melihat matanya mulai sayup. Aku memeluknya erat, "ayo, kita masuk, malam sudah larut, Nak," ajakku.

Kami pun bergegas masuk ke kamar. Malam ini Venta menolak untuk tidur sendiri di kamarnya, sehingga bersama adiknya, kami seranjang.

***

"Bunda, hari ini Venta tidak masuk sekolah, ya?"

"Kenapa, Ven?"

"Tidak kenapa-kenapa, cuma malas aja, Bun."

"Janganlah, Sayang." Aku menyibak rambutnya yang terurai indah, "Venta harus ke sekolah hari ini," pintaku.

"Tapi janji, ya, Bunda jangan sedih lagi."

"Iya, Sayang."

Setelah kedua anakku ke sekolah, seperti biasa, aku  membereskan pekerjaan rumah. Menyapu, ngepel, mencuci, memasak, semuanya selesai. Jam di dinding telah menunjukan pukul 11:00, ada bunyi notif di ponselku. Ada pesan masuk.

(Selamat siang ibu, maaf mengganggu ... ini dari pihak sekolah. Ibu, segera ke sekolah karena Venta pingsan, ni.)

Tanpa membalas sms, aku langsung memacu sepeda motor menuju sekolah. Di depan gerbang sekolah itu,  kudapati kerumunan orang yang sedang hiruk-pikuk. Hatiku semakin cemas bercampur panik. Tanpa basa-basi Kuterobosi kerumunan orang-orang yang mengelilingi Venta, yang belum sadarkan diri juga. Lima menitan berunding bersama guru-gurunya, akhirnya kami membawanya ke IGD.

"Jangan banyak-banyak, ya, di sini. Cukup satu orang, yang lain di luar," pinta dokter kepada teman-teman Venta  yang juga ikut mengantar Venta ke IGD,  sebelum si dokter mengambil tindakan terhadap pasien anakku ini.

Setelah diperiksa, kudekati dokter untuk menanyakan hasil diagnosanya.

"Dok, bagaimana keadaan anakku?"

"Ibu, anakmu tidak apa-apa, cuma kecapaian saja."

'Syukurlah, Puji Tuhan,' aku membatin.

Lima belas menit kemudian, Venta diizijkan pulang ke rumah.  Dalam perjalanan pulang, terasa ada beberapa kali getaran ponselku. Rupanya ada panggilan masuk, tapi kubiarkan karena aku butuh konsentrasi mengendarai sepeda motor di jalan raya.

Kuparkiran sepeda motor di halaman rumah. Bersama Venta, kami masuk ke rumah. Kuambil ponsel dalam tas kecil di pinggang, mengecek siapa gerangan yg menelepon tadi dalam perjalanan, ternyata Igo suamiku.

Semenjak setahun yang lalu pergi dari rumah, tanpa alasan yang pasti, baru sekali ini dia meneleponku. Namun secara tidak sengaja, aku tidak menerima teleponnya. Aku mencoba untuk tidak menelepon balik, berharap dia hubungi kembali.

"Venta?"

"Ya, Bunda."

"Mari makan, Nak."

"Iya, Bunda."

"Bunda, sudah kabari ayah, belum, tentang Venta?"

"Belum, Nak."

"Kenapa bunda tidak kabari ayah?"

"Bunda khawatir, ayah syok dengar berita tentang kamu, Nak."

Aku masih tetap berusaha menyembunyikan kelakuan ayahnya, yang tidak terpuji ini.

Selesai makan, terdengar suara nyanyian, "kapan-kapan, kita bertemu lagi ...."

Entah apa, sehingga anakku Angga yang kelas empat SD ini, melantunkan lirik lagu ini memasuki rumah.

Serasa secara kebetulan, sih, tetapi menggambarkan situasi rumah tangga saat ini, yang memang sedang merindukan kebersamaan dengan sosok seorang ayah, yang sudah lama menghilang.

"Selamat siang bunda," teriak Angga dalam keriangan, "selamat siang kaka cantik," sambungnya menyapa Venta.

"Bunda, lapaaar. Makaaaan, Bun!" teriak Angga yang memang punya kebiasaan seperti ini setiap hari sepulang sekolah.

"Iya, Nak, sebentar...."

Tidak lama setelah Angga sedang makan, terdengar nada deringan di ponselku. Aku bergegas menyambut panggilan, ternyata dari Igo suamiku. Aku berusaha bergeser menghindar dari kedua anakku, biar percakapan kami tidak dikuping oleh mereka berdua.

"Halloo, selamat siang, Bang," sambutku.

"Adek ke mana, sih, tadi kutelepon tidak diangkat?"

"Oh, Bukankah aku yang lebih pantas tanyakan,  kenapa kamu pergi tanpa berita, Bang?"

"Bukan begitu, dong, sayang! Bisa dengar penjelasanku?"

"Lah, untuk apa, Bang?"

Bahwa, sebelumnya, aku tahu kabar tentang Igo mempunyai wanita idaman lain, ketika pada suatu kesempatan, bertemu sahabat karibku, yang kebetulan punya relasi bisnis dengan Igo suamiku, di tempat resepsi pernikahan teman.

Igo memang telah menjalin hubungan gelap dengan wanita lain di ibu kota, dan mengakui bahwa dia telah menduda lima tahunan.

"Dik, aku mohon, berilah aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya, ini."

"Tidak ... tidak! Aku tidak bisa selamanya kau bohongi. Dan kini aku menjadi ragu, apakah kamu masih mencintaiku?" Sergahku.

"Adik sayang, tak semudah itu, aku melupakannmu, karena aku sangat mencintaimu, meskipun kamu telah  maragukanku berkali-kali," jawab Igo dengan suara sedikit bergetar.

"Oh, tidak, Igo! Aku sudah cukup tahu tentang dirimu saat ini. Aku hanya tersenyum padamu, setelah kamu menyakitiku, supaya kamu tahu, arti kesabaran. Sebab yang aku tidak tahu, sebenarnya dì dalam hatimu saat ini, ada aku atau dia?" Tutupku sembari memutuskan sambungan ponselku, dengannya.