Olimpiade, sebagai ajang olahraga musim panas terbesar dunia selalu meninggalkan banyak cerita, tak terkecuali di penyelenggaraannya yang ke-31 pada tahun 2016 ini. Ajang olahraga dunia 4 tahunan tersebut, tahun ini diselenggarakan di Rio de Janeiro, Brazil dari rentang tanggal 5-21 Agustus 2016. Setiap cabang olahraga pastinya memiliki cerita uniknya sendiri-sendiri.

Dari sekian banyak cabang olahraga yang dipertandingkan, cabang Renang kembali menjadi pusat perhatian di Olimpiade Rio tahun ini. Siapa lagi kalau bukan si Raja Kolam Renang, Michael Phelps, yang kembali mencengangkan dunia dengan prestasi yang diukirnya. Pria yang berjuluk “Flying Fish” ini, berhasil menyabet 6 medali sekaligus, yaitu 5 emas dan 1 perak.

Pria kelahiran Amerika Serikat 31 tahun yang lalu ini memang telah menjadi pusat perhatian dunia karena prestasinya, terutama setelah ia berhasil mencatat rekor dengan menyabet 8 medali emas sekaligus di Olimpiade Beijing 2008. Sepanjang karirnya di ajang Olimpiade musim panas, Phelps telah berhasil menyabel total 23 medali emas.

Akan tetapi, tahukah Anda bahwa di Olimpiade Rio 2016 ini, ada nama lain dari cabang olahraga renang yang namanya mencuat ke permukaan? Dia adalah atlet renang wanita asal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) bernama “Fu Yuanhui”. Bukan… bukan karena ia memenangkan 7 sampai 8 medali emas sekaligus untuk Tiongkok, melainkan tingkah lakunyalah yang membuatnya menjadi viral di media sosial.

Dalam sebuah tayangan televisi, sesaat setelah ia menyelesaikan perlombaan renang kategori gaya punggung 100 m putri, seorang reporter mengatakan kepada Fu Yuanhui bahwa ia berhasil meraih waktu tercepat ketiga dengan torehan waktu 58,95 detik. Seolah tidak percaya dengan pencapaiannya itu, ia pun kaget dan mengatakan,”58,95 detik? Saya pikir itu sudah 59 detik!”

Ia mengucapkan kalimat tersebut sambil menarik nafas dan ternganga-nganga. Terlebih lagi ia mengatakan bahwa keberhasilannya tersebut diakibatkan oleh “kekuatan mistis” yang ia miliki. Kekuatan mistis macam apa coba? Pastinya bukan kekuatan mistis untuk merebut dia dari pasangannya loh ya!

Baik, kembali lagi ke Fu Yuanhui. Ketika ia ditanya, ”Apa kamu punya harapan untuk final besok?”

Dengan polos dan penuh keceriaan ia menjawab, ”Tidak! Saya sudah senang dengan hasil hari ini!”

Padahal, secara umum, biasanya para atlet akan menjawab, ”Ya, saya akan tetap berusaha yang terbaik!”

Tingkah laku lucunya tersebut memang menjadi keunikan tersendiri bagi dirinya yang merupakan seorang atlet. Jika biasanya seorang atlet memilih stay cool atau mungkin sedikit menunjukkan arogansi dan provokasinya ketika diwawancarai, tetapi tidak dengan Fu Yuanhui. Ia tidak ragu menunjukkan emosi yang ingin ia keluarkan.

Wanita yang memang dalam kesehariannya merupakan sosok periang ini tetap menunjukkan sifat aslinya, tanpa harus berpura-pura dan jaga image berlebihan di depan kamera selayaknya mereka yang ingin kepilih jadi menteri atau DKI 1. Upss…

Jika cabang olahraga renang diibaratkan bagai sebuah film, maka jelas Michael Phelps adalah tokoh utamanya, sedangkan Fu Yuanhui adalah seorang supporting actress atau pemeran pendukung wanita yang dicintai oleh penonton. Ada banyak aspek menarik yang ditonjolkan dalam sebuah film, seperti skenario dan alur cerita; tema yang dipilih; karakter dan tokoh yang muncul; dan juga artis yang dipilih untuk memerankan karakter atau tokoh itu.

Jelas bahwa tokoh utama adalah salah satu aspek film yang paling harus ditonjolkan, sehingga benar-benar harus diperhatikan dan dipikirkan secara seksama dalam penciptaannya. Artis yang dipilih untuk memerankan si tokoh utama juga harus dipertimbangkan secara matang dan diseleksi secara ketat, tidak boleh asal-asalan agar hasilnya terkesan natural dan tidak terlalu dibuat-buat.

Tujuannya agar segala hal yang ingin dipertontonkan atau semua pesan yang ingin disampaikan oleh si pembuat film dapat membekas di hati dan memori penonton.

Dalam mewujudkan ambisi para sineas tersebut, tampaknya si tokoh utama tidak dapat bekerja sendiri. Harus pula diciptakan seorang supporting role atau biasa disebut pemeran pendukung tadi sebagai ‘bumbu penyedap’ filmnya.

Ambil contoh film AADC 2. Adegan pertemuan kembali Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra) tentu menjadi adegan paling dinanti-nantikan penonton selama 14 tahun. si pembuat film dapat membekas di hati dan memori penonton.

Namun, ternyata ada hal menarik lain yang membekas di hati penonton setelah menonton film-nya. Setelah keluar dari bioskop, tak jarang saya mendengar percakapan, seperti “Milly lucu banget! Hahaha…” atau “Kocak banget dah itu si Milly!”

Ya, karakter Milly yang diperankan oleh Sissy Priscillia ternyata juga membekas dalam film bernuansa drama percintaan itu. Terkadang, film drama suka membuat ngantuk para penontonnya, tetapi kehadiran karakter Milly justru membuat film yang sebagian besar prosesnya dilaksanakan di Yogyakarta itu menjadi lebih segar. Ya, bukan hanya Cinta, Rangga, dan Yogyakarta dan mantanmu saja yang ternyata membekas di hati, bukan?

Selain, Fu Yuanhui ada satu atlet renang lain yang namanya juga ramai diperbincangkan. Namanya adalah Josep Schooling, atlet renang asal Singapura, yang berhasil mempersembahkan medali emas yang benar-benar pertama bagi Singapura di ajang Olimpiade. Hal tersebut menjadi semakin spesial bagi Schooling karena medali emas tersebut didapatkan setelah berhasil menaklukkan Michael Phelps. idola besarnya di kategori gaya kupu-kupu 100 m putra.

Seorang fans menaklukkan idolanya. Tentu merupakan sebuah cerita yang selalu berulang dalam setiap kejuaraan olahraga. Hal tersebut mengingatkan saya pada sebuah film berjudul “WHO AM I”. Film berbahasa Jerman yang memiliki tokoh utama bernama Benjamin, yang mengidolakan seorang hacker (peretas) kelas kakap code name “MRX”.

Dikisahkan sang hacker menjadi idola besar karena terkenal dapat meretas semua sistem yang ada di dunia, seketat apapun tingkat keamanannya. Benjamin pun juga seorang hacker, dan dia sangat memegang teguh aturan dunia peretasan dari idolanya tersebut, di antaranya:

  1. Tidak ada sistem yang aman;
  2. Incarlah sesuatu yang mustahil;
  3. Bersenang-senanglah di dunia maya dan dunia nyata.

Singkat cerita, dengan memegang teguh ketiga aturan tersebut, Benjamin akhirnya mampu menaklukkan MRX. Ia melampaui idolanya. Ia juga berjasa bagi negaranya (Jerman) dalam membasmi oknum-oknum hacker yang meresahkan dunia.

Jika dilihat dari kisah Josep Schooling dalam menaklukkan idolanya, Michael Phelps, nampaknya ia juga memiliki pemikiran dan aturan hidupnya sendiri. Jika mau memplesetkan aturan MRX dalam pencapaian Schooling, nampaknya aturannya akan berubah menjadi, seperti ini:

  1. Tidak ada rekor yang kekal;
  2. Incarlah sesuatu yang mustahil;
  3. Bersenang-senanglah di dalam dan luar arena renang.

Schooling telah berhasil menciptakan rekor di ajang Olimpiade setelah pencapaian medali emasnya pada kategori renang 100 m gaya kupu-kupu putra meraih perolehan waktu 50,39 detik. Pria yang juga sudah menjadi ‘langganan’ medali emas di ajang Sea Games tersebut juga berhasil ‘memecahkan telur’ bagi Singapura untuk mendapatkan medali emas pertamanya sejak pertama kali mengikuti kejuaraan Olimpiade pada Tahun 1948.

Jika menurut sebagian besar orang bahwa mengalahkan Phelps adalah sesuatu yang mustahil, maka Schooling telah membantahnya. Ia juga pasti amat menikmati kejuaraan renang, pun saat bertanding ia menganggap dirinya sedang bersenang-senang.

Pada akhirnya, Fu Yuanhui dan Joseph Schooling hanyalah sedikit dari kisah-kisah menegangkan dari arena olahraga, khususnya cabang renang. Tidak bisa dipungkiri bahwa drama dan ketegangan yang tercipta ketika menonton pertandingan olahraga, tak ubahnya seperti jika kita menonton sebuah film.

Tentunya kita juga berharap bahwa atlet-atlet Indonesia juga dapat semakin berbicara banyak di ajang Olimpiade, atau ajang-ajang lainnya, tidak hanya sekedar menjadi kontingen penggembira, selayaknya figuran dalam film. Melainkan, dapat menjadi layaknya tokoh utama dalam film di kejuaraan olahraga.