Paradigma yang digunakan oleh Marvin Harris dalam upayanya membongkar teka-teki kebudayaan, dalam antropologi, disebut materialisme kultural.

Asumsi dasar dari paradigma ini menyatakan bahwa terbentuknya kebudayaan pada hakikatnya berpijak (dipengaruhi) oleh kondisi lingkungan serta kebutuhan alami kita sebagai manusia. Artinya, akan selalu ada penjelasan empiris terhadap kebudayaan yang oleh masyarakatnya dianggap adikodrati sekalipun.

Penjelasan yang bersifat supranatural melalui mitos dan legenda masyarakat muncul sebagai akibat dari ketidakmampuan manusia untuk menjelaskan fenomena alam maupun sosial secara rasional. Melalui buku ini, Harris ingin menuntun pembacanya secara perlahan masuk dalam bagaimana alam pikirnya memahami kebudayaan, yang berbeda dengan kebanyakan intelektual pada umumnya.

Dalam hal tersebut, Harris menjelaskan apa yang membedakan dirinya dengan intelektual lain dalam upaya memahami kebudayaan. Dia menentang kebanyakan intelektual pada umumnya yang menekankan pentingnya spesialisasi dengan memfokuskan kajian pada satu abad, satu suku, atau satu kepribadian tertentu.

Bagi Harris, spesialisasi tersebut mestinya dibuat lebih responsif terhadap isu-isu yang jangkauannya lebih umum dan komparatif. Argumentasinya itu dibangun atas keyakinan bahwa dunia ini memang membentang lintas disiplin ilmu, lintas benua, hingga lintas abad; begitulah realitas dunia sebenarnya.

Menurut Harris, tidak ada sesuatu di alam ini yang sifatnya begitu terpisah satu sama lain, sehingga hanya bisa dikaji secara terpisah pula dengan menggunakan satu disiplin ilmu tertentu saja. Berangkat dari kerangka berpikir tersebut, buku ini memulai pembedahannya terhadap kebudayaan yang dimulai dari India.

Ada alasan penting yang melatarbelakangi Harris ketika menentukan mana fenomena kebudayaan yang harus disajikan pertama, kedua, dan seterusnya. Alasan penting tersebut tidak lain adalah agar ketika pembacaan dilakukan secara runut, argumentasi yang diharapkan oleh Harris bisa terbangun dengan kuat. Maka dari itu, dia sangat melarang pembacaan dimulai secara acak.

Pembacaan secara acak bagi Harris hanya akan membuat dirinya jadi sasaran empuk serangan para ahli dari disiplin-disiplin ilmu yang digunakan olehnya dalam buku ini. Harris mulai mengajak kita masuk dalam alam pikirnya melalui rasionalisasi empiris terhadap kepercayaan orang India yang menyucikan sapi.

Di sana, orang lebih memilih kelaparan daripada harus melanggar kepercayaan dengan memotong sapi miliknya untuk memenuhi kebutuhan makanan. Sebuah fenomena kebudayaan yang bagi orang Barat dianggap tidak rasional menelantarkan sumber pangan yang amat sangat besar di tengah kondisi kelaparan yang melanda banyak manusia di sana.

Dalam upaya pembedahannya terhadap fenomena kebudayaan tersebut, Harris menemukan alasan ekologis di baliknya. Begitu juga dengan fenomena-fenomena kebudayaan lain yang ditulis Harris dalam buku ini, pada setiap akhir argumentasinya selalu ditekankan adanya alasan empiris di balik itu semua.

Salah satu yang menarik adalah soal rasionalisasi empiris yang dikemukakan olehnya tentang alasan di balik pelarangan memakan babi di kalangan umat Islam, Yahudi, dan Kristen. Dia tidak mau terjebak dalam wacana yang meyakini bahwa memang mustahil untuk mencari rasionalisasi empiris atas segala sesuatu; ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa diperlakukan begitu.

Wacana semacam itu adalah nilai utama dari salah satu paradigma dalam ilmu pengetahuan yang dikenal dengan istilah postmodernisme. Paradigma inilah yang pada dasarnya ingin dibantah oleh Harris melalui upaya pembedahan fenomena-fenomena kebudayaan yang oleh banyak orang dianggap irasional sekalipun.

Argumentasi-argumentasi yang ditulis secara runut oleh Harris dalam buku ini dijadikan sebagai fondasi-fondasi yang menjadi pengokoh argumentasi bantahannya terhadap postmodernisme.

Ketika buku ini ditulis, postmodernisme mulai menjadi hegemoni beserta budaya tanding dengan kesadaran III-nya yang ingin menyelamatkan dunia dari “mitos kesadaran objektif”. Untuk membantah paradigma dan wacana yang menjadi hegemoni tersebut, Harris menggunakan rasionalisasi empiris tentang juru selamat dan tukang sihir sebagai fondasi.

Dalam analisisnya, kepercayaan orang Yahudi terhadap kedatangan Juru Selamat telah menciptakan perlawanan yang cukup serius terhadap kekuasaan. Sedangkan kepercayaan orang Eropa terhadap keberadaan Tukang Sihir telah menciptakan kambing hitam bagi mereka terhadap kesulitan-kesulitan hidup yang dialami.

Harris meyakini, makin maraknya perburuan terhadap Tukang Sihir, yang sebenarnya tidak pernah dibuktikan keberadaannya, membuat penguasa terhindar dari tuduhan atas permasalahan yang ada. Tukang Sihirlah yang menjadi penyebab utama dari timbulnya kemiskinan ataupun gagal panen di Eropa.

Kerangka berpikir tidak ilmiah inilah yang ingin dihindari oleh Harris muncul lagi dengan posmodernisme, budaya tanding, serta kesadaran III yang mulai digandrungi. 

Alih-alih membuat masyarakat kritis terhadap kekuasaan, seperti bagaimana kepercayaan terhadap Juru Selamat menjadi bahan bakar pemicu semangat Orang Yahudi. Fenomena kebudayaan seperti kepercayaan terhadap Tukang Sihir ini yang justru muncul kembali dengan semangat anti terhadap kesadaran objektifnya.

Kekhawatiran Harris terhadap fenomena kebudayaan ini adalah hilangnya sikap kritis terhadap kekuasaan, yang menyebabkan kekuasaan tersebut bisa menghindar dari tanggung jawab yang seharusnya mereka jalankan. Karena, menurut Harris, dengan masyarakat yang objektif dalam menyikapi segala sesuatu, prospek menuju kedamaian dan keadilan menjadi lebih baik.