Dua konflik terjadi di bulan kemerdekaan tahun ini bak skenario film action. Konflik pertama terjadi di Aceh ketika mahasiswa memperjuangkan bendera Aceh. Pihak keamanan mensinyalir ada usaha mahasiswa menurunkan bendera merah-putih dan diganti dengan bulan-bintang.

Sementara di Jawa Timur, konflik terjadi juga diawali dugaan perusakan bendera merah-putih. Meski mahasiswa asal Papua membantah hal tersebut, hasilnya ejekan diduga rasis kepada mahasiswa asal Papua terjadi. Gejolak pun terjadi di Manokwari.

Dua peristiwa di atas memberi gambaran jelas betapa bendera sangat berharga. Bahkan lebih berharga dari manusia yang menciptakan benda tersebut.

Bendera sebagai simbol identitas diagungkan melebihi manusia. Demi bendera, manusia rela menghina manusia lainnya. Tak sungkan mencederai fisik manusia demi benda yang bernama bendera.

Dalam KBBI, bendera didefinisikan sebagai sepotong kain atau kertas segi empat atau segitiga dipergunakan sebagai lambang negara, perkumpulan, badan, dan sebagainya, atau sebagai tanda. 

Faktanya, sepotong kain itu ternyata memiliki derajat yang lebih tinggi dari manusia. Setidaknya itu yang kita saksikan dari dua peristiwa di Papua-Aceh. Saya heran, bagaimana dengan Anda?

Rasa nasionalisme diukur dari sebuah benda. Padahal pancasila sebagai dasar dan falsafah negara menempatkan manusia sebagai subjek. Mulai dari sila pertama hingga penutup, manusia merupakan tujuan negara ini.

Apakah fenomena yang mengagungkan benda melebihi manusia dipengaruhi keyakinan di masa lalu? Penyembahan benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib bahkan dianggap Tuhan? Entahlah.

Satu hal yang harusnya kita sepakati, bendera sebagai simbol boleh dihormati, namun menghormati manusia jauh lebih penting bahkan wajib. Aneh rasanya, karena bendera, kita menghina manusia lainnya.

Adolf Hitler mungkin bangga pengikutnya kini berada di Indonesia. Ada kelompok suku tertentu merasa diri sebagai pemilik negeri ini, rasisme dianggap wajar dan boleh atas nama bendera. 

Padahal sikap itu jelas bertentangan dengan semangat nasionalisme, malah itulah perusak bendera negara yang sebenarnya. Bukan hanya merobek bendera negara, akan tetapi merobek sila ketiga dari pancasila.

Andai kata perusakan maupun penghinaan terhadap bendera benar terjadi, tidak ada hak mereka menghina mahasiswa Papua dengan nada rasisme. Selesaikan melalui jalur hukum, bukan jalur main hakim sendiri.

Rasisme merupakan tindakan tidak beradab. Makar terhadap sila kedua pancasila. Seandainya bendera bisa bicara, tentu ia akan berkata: "aku lebih baik dihina ketimbang kalian menghina orang-orang yang menghinaku."

Indonesia adalah negara dengan beragam suku, fasih kita hafal. Nyaris di setiap pidato para elite maupun artikel atau esai mempertegas kemajemukan tersebut. Tapi ketika rasisme masih terjadi, mau jadi apa negeri ini?

Orang-orang yang menghina saudara-saudara kita dari Papua adalah musuh bangsa ini. Dalil bendera terjatuh di selokan atau pengrusakan (kalau pun terjadi) tidaklah dapat dijadikan dalil untuk menghina sesama anak bangsa.

Cacian itu bukan hanya berdampak pada konflik antarsuku, akan tetapi menumbuhkan dendam dan segera berbuah. Negeri ini bakal jadi santapan empuk. Harga darah lebih murah dari secangkir kopi.

Di Aceh, seorang anggota dewan kembali dilaporkan ke pihak kepolisian karena dianggap ingin mengibarkan bendera. Bulan-bintang dianggap bendera separatis. Padahal bendera itu disepakati sebagai bendera Aceh.

Barangkali bila teman-teman dari Papua membawa bendera bintang kejora, tuduhan yang sama akan dilayangkan. Begitulah bendera dilambangkan sebagai perlawanan. 

Di Jawa beberapa waktu yang lalu diributkan pula dengan bendera. Beda dengan Papua dan Aceh, bendera yang diributkan bukan identitas kebangsaan. Bendera HTI dan bendera Islam diributkan hingga nyaris melanggar hak Enzo.

Jauh sebelumnya juga konflik terjadi karena bendera. Uus Sukmana hadir dalam kegiatan Hari Santri Nasional (HSN) membawa bendera HTI. Karena perbuatannya itu, ia divonis 10 hari penjara

Uus dianggap membuat kegaduhan karena membawa bendera organisasi yang telah dibubarkan. Namun polemik di jagat maya pada saat itu terlalu panjang. Yang didebatkan antara bendera HTI atau bendera tauhid.

Terjebaknya kita pada simbolistik berdampak alpanya kita atas hakikat. Sangat sering substansi dilupakan. Menghormati bendera merah-putih sebatas pengibaran. Sementara nilai dan semangatnya dilupakan. 

Demi bendera, entah mengapa kita rela melakukan tindakan nirkemanusiaan. Ingin menampakkan identitas, namun di saat yang sama malah menghina identitas tersebut.

Membela bendera merah-putih tak harus mengibarkannya. Tidak korupsi, tidak rasis, itu pembelaan yang lebih substantif. Berprestasi di ajang internasional, meraih nobel, menulis di jurnal internasional, itu lebih menunjukkan identitas merah-putih.

Seorang yang nasionalismenya tinggi mustahil menghina sesama anak bangsa apalagi rasisme. Saya kira tidak ada manusia normal yang terima jika suku dan rasnya disejajarkan dengan binatang.

Pembenaran tindakan rasisme atas nama bendera adalah pengkhianatan secara universal. Bukan hanya pengkhianatan atas bendera negara. 

Negara-negara yang sudah tinggi peradabannya tidak lagi bicara simbolistik. Mereka menghormati dan mengamalkan nilai-nilainya. Jangan heran misalnya warga Amerika Serikat menjadikan benderanya sebagai celana dalam.

Bayangkan apabila itu terjadi di negara kita. Bisa dianggap makar, menghina bendera, tidak nasionalis, dan seabrek tuduhan lainnya. Ya, bendera memang lebih berharga dari apa pun di Indonesia. Termasuk lebih berharga dari manusia sekalipun.