2 tahun lalu · 2809 view · 5 menit baca · Agama 042725900_1463980763-noah.jpg
www.bintang.com

Ketika Ariel Noah Menjadi Sufi

Terlepas dari kontroversi yang pernah menimpanya sekian tahun silam, tak sulit untuk diakui bahwa artis bernama lengkap Nazril Ilham, atau yang akrab disapa Ariel, merupakan salah satu penyanyi hebat yang pernah dan masih menghiasi belantika musik Indonesia.

Di samping memiliki kreativitas dan naluri musikal yang luar biasa, Ariel memiliki kharisma tinggi dan ketampanan aduhai yang tak jarang membuat wanita lemah iman-kuat syahwat langsung terkulai lemas dan tergila-gila kepadanya.

Semenjak kecil saya suka mendengar lagu-lagu Ariel dan kawan-kawannya. Dari mulai lagu Mimpi Yang Sempurna, Taman Langit, Yang Terdalam, Bintang Di Surga, Langit Tak Mendengar, Topeng, Aku dan Bintang, Tentang Kita dan lagu-lagu lainnya.

Paman saya dan teman-temannyalah orang yang pertama kali memperkenalkan saya kepada lagu-lagu Ariel yang sosoknya ketika itu menjadi primadona anak muda.

Di samping lagu-lagu Ariel, sejak kecil saya juga suka menikmati lagu-lagu Dewa 19 yang pada waktu itu masih dinahkodai Ahmad Dhani, suami Mulan Jameela.

Sampai ketika di Kairo pun saya masih suka menyimak dan mengikuti perkembangan lagu-lagu mereka. Meskipun tentunya dengan intensitas yang berbeda sama sekali dengan masa-masa sebelumnya.

Belakangan saya lebih suka lagu-lagu religi, atau lebih tepatnya lagu-lagu yang membawa pesan dan nilai-nilai moral-etis agama.

Bagi saya, bait-bait lagu religi itu kadang mampu melembutkan hati sekaligus menajamkan isi kepala karena terkadang di balik untaian lagu-lagu semacam itu tersimpan sebuah makna filosofis-sufistis yang bisa dikontekstualisasikan dalam potret kehidupan nyata.

Sayangnya, sayang seribu sayang, Ariel—sebagai salah satu penyanyi yang saya suka—tak banyak memproduksi lagu-lagu religi seperti yang dilakukan oleh artis-artis lain pada umumnya, seperti Pasha, Armand Maulana, dan musisi-musisi tanah air lainnya.

Tapi uniknya, sekali melantunkan lagu religi, suara Ariel mampu menumpahkan air mata saya.

Sekitar empat atau tiga bulan yang lalu Ariel dan kawan-kawannya menyajikan sejumlah nyanyian legendaris yang didaur-ulang dengan sentuhan musikal yang berbeda. Ada banyak lagu di sana. Salah satu lagu yang menjadi pilihan mereka ialah lagu Sajadah Panjang yang diciptakan oleh Bimbo, sebuah grup musik asal Bandung yang juga sempat tenar di Indonesia.

Ariel pernah menyanyikan lagu ini ketika ia tersungkur di balik tiang penjara. Inilah satu-satunya lagu religi Ariel yang mampu membuat saya menangis berkali-kali tanpa sadar entah kenapa. Sungguh, bait-bait lagu ini sangat menyentuh iman dan rasa. Karena itu, dalam tulisan ini, sisi relegiusitas yang terkandung dalam lagu tersebut penting untuk kita renungkan bersama. 

Lihat dengan seksama. Petikan awal dari lagu Sajadah Panjang ini menyadarkan kita akan adanya kehidupan sesungguhnya setelah kehidupan dunia yang fana.

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi
Kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Kalau dihayati, kata terakhir dari bait pertama lagu ini sangat menyentuh sekali. Dia merangkaikan kata hamba dengan kata mati. Ya. Mati. Semua hamba Tuhan yang terserak di muka bumi ini kelak akan mati dan kembali kepada Yang MahaSuci. Semua yang berasal dari buaian tak akan pernah abadi dan kelak pasti akan kembali ke tanah yang selama ini kita injak setiap hari.

Tapi apa yang akan kita bawa setelah kita mati? Sudahkah kehambaan kita di hadapan Tuhan yang Tak Pernah Mati mampu mengingatkan kita akan kematian yang sudah pasti terjadi? Atau selama ini kehambaan kita adalah kehambaan palsu sehingga jangankan mengingat Tuhan yang Tak Pernah mati, mengingat kematian pun kita sering lupa diri.

Dalam bait ini juga terangkai kata sajadah; tenunan kain yang selama ini kita gunakan sebagai tempat menyucikan diri di hadapan Sang Ilahi. Tapi apakah sajadah tempat kita sujud selama ini kelak akan bersaksi atas kehambaan kita di hadapan yang MahaSuci?

Atau justru selama ini kita mendaratkan kepala di atas sajadah tanpa penghayatan dan penghambaan yang berarti sama sekali? Kita belum mampu sujud seperti Ariel, saudara kita yang satu ini.

Sujud kita isinya hanya mengingat dunia, memohon dunia, dan lupa akan kebesaran Sang Pemilik dunia itu sendiri.

Memang benar apa kata Nabi. Bahwa cara terbaik untuk memperbaiki kehidupan kita di dunia ini ialah banyak mengingat mati (dzikr al-Maut), sebagaimana cara terbaik untuk menyambut kematian kita di hari nanti adalah dengan memperbanyak amal saleh ketika kita hidup di dunia yang fana ini.

Orang yang banyak mengingat mati pasti tak akan sibuk serempet sana serempet sini demi merenggut simpati dan kursi.

Orang yang banyak mengingat mati pasti tak akan sibuk berebut kursi Gubernur DKI apalagi sampai berani memfitnah orang dengan bawa-bawa kitab suci. Buat apa? Semuanya juga nanti akan mati.

Lihat bait selanjutnya lagi. Bait ini memilih munâsabah (keterkaitan) dengan bait yang pertama tadi. Jika pada bait yang pertama kita diajak untuk mengingat kematian yang pasti akan terjadi, maka pada bait kedua ini kita diajak untuk memaknai hakikat penghambaan kepada Yang MahaSuci dalam konteks kehidupaan kita yang fana dan tak akan abadi ini.

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi

Salat, yang terdiri dari tunduk dan sujud, merupakan interupsi dari aktivitas yang kita lakukan sehari-hari. Islam sengaja mewajibkan salat lima waktu dalam sehari agar aktivitas yang dilakukan oleh umatnya dalam sehari-hari itu—sesibuk apapun—tak melalaikan mereka dari mengingat Yang MahaSuci. Tapi nyatanya kita jarang sekali menyadari hal ini. Kita belum bisa salat seperti Ariel.

Salat kita hanya dijadikan sebagai pengguguran kewajiban semata dan tak dihayati dengan pemaknaan yang berarti. Bahkan, yang sering terjadi selama ini, tak jarang kita merasa bahwa salat yang diwajibkan oleh Tuhan Yang MahaSuci itu telah mengganggu kesibukan kita tanpa sedikitpun punya rasa malu di hadapan Yang MahaSuci yang telah mengucurkan rezeki setiap hari. Memilukan sekali kita ini.

Mencari rezeki
Mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara azan
Kembali tersungkur hamba

Setiap hari kita mencari rezeki, tapi kadang kita dibutakan oleh rezeki dan lupa kepada Yang Memberi rezeki. Setiap hari kita mencari ilmu, tapi kadang ilmu yang kita cari kadang tak mampu mendekatkan kita kepada Pemberi Ilmu itu sendiri.

Setiap saat kita mengukur jalanan seharian, tapi seringkali, saking sibuknya kita mengukur jalanan, begitu terdengar suara azan, kita lupa untuk menyungkurkan diri di hadapan Tuhan. Sungguh, penghambaan kita penuh kepalsuan. Tidak seperti kehambaan Ariel yang penuh dengan keikhlasan.

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud dan lepas kening hamba
Mengingat Dikau sepenuhnya

Bait terakhir dari lagu ini jika kita ditilik dari sudut Tasawuf, mencerminkan apa yang disebut dengan wahdat al-Wujûd (kesatuan yang ada), dan wahdat al-Syuhûd (kesatuan penyaksian dari yang ada).

Yang pertama meyakini bahwa tak ada yang ada dari yang ada kecuali Yang Ada, sementara yang kedua meniscayakan penyaksian bahwa yang ada dari yang ada hanyalah Yang Ada.

Orang seperti ini hatinya hanya tertuju kepada Yang Esa. Tidak kepada selain-Nya. Inilah puncak tauhid dan keimanan yang sesungguhnya. Subhanallah, tauhid Ariel ini luar biasa. 

Bukan tak mungkin jika Ariel yang sekarang tampak jungkrak-jingkrak di atas "panggung kemaksiatan" itu kelak sampai pada tingkat keimanan level ini. Bukan tak mungkin jika kelak Ariel menjelma menjadi seorang Sufi. Karena hidayah Tuhan diberikan kepada siapa saja dari hamba-Nya yang Dia Kehendaki.

Siang dia jungkrak-jingkrak di atas panggung kemaksiatan dan lupa diri, tapi di malam hari siapa tahu dia tersungkur hina di hadapan Tuhan dan menyesali seluruh kelalaian yang dia lakukan selama ini. Tuhan boleh jadi menerima taubatnya Ariel, saudara kita yang satu ini.

Sedangkan kita? Kita masih berlumuran dosa dan tak tahu nasib kita bagaimana nanti.

Semoga saja Tuhan mengampuni seluruh dosa-dosa kita sehingga kelak kita bisa kembali kepada-Nya dalam keadaan rida dan diridai.

(Kairo, Zahra-Nasr-City, 11 Oktober 2016)  

Artikel Terkait