Baru-baru ini publik dihebohkan dengan pelarangan penggunaan kata anjay yang dianggap tidak sopan dan dikhawatirkan meracuni generasi muda oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Lantas, bagaimana makna asli kata anjay dilihat dari segi bahasa?

Setelah anjay dipermasalahkan, anjir dan anjrit pun tak ketinggalan untuk diusulkan pelarangan penggunaannya. Ada yang beranggapan bahwa kata-kata tersebut merupakan pelesetan dari kata anjing. 

Kata anjing yang bermakna hewan biasa digunakan untuk mengumpat. Di Jawa, umpatan anjing menggunakan terjemahannya yakni asu atau kirik. Namun di Jawa Timuran lebih populer Jancuk. 

Sudah banyak penelitian terkait bahasa umpatan di berbagai daerah. Karena digunakan untuk mengumpat, tentu kata anjing juga bukan bermakna sebagai hewan lagi. Hal itu karena sudah berbeda konteks penggunaan. Namun, apakah benar anjay merupakan pelesetan dari kata anjing?

Kata anjai sering terdengar dalam kumpulan anak muda. Seperti dalam acara nonton bareng pertandingan sepak bola. Jika salah seorang pemain tidak berhasil menciptakan gol, pasti ada yang mengucapkan anjay atau anjrit.

Tahun 90-an, kata anjay sudah banyak digunakan. Kata anjay atau anjai masuk dalam bentuk interjeksi atau kata seru. Sama halnya seperti kata seru yang lain, seperti amboi, ahai, aih, is, dan sebagainya. 

Kata anjai juga berfungsi sama seperti interjeksi yang lain, yaitu untuk mengekspresikan, baik kekaguman, keterkejutan, dan sebagainya. Kata anjai tidak dapat dijadikan sebagai kata ganti karena bentuknya kata seru. Apalagi jika dianggap merupakan bentuk pelesetan dari kata anjing. Tentu itu salah kaprah.

Ada yang berpendapat kalau anjay dengan anjai itu berbeda. Dalam fonologi bahasa Indonesia, diftong -ai dibaca ay. Kata anjay ditulis menggunakan diftong -ai. Seperti diftong -ai pada umumnya, anjai dituturkan anjay seperti santai dituturkan santay. Jadi penulisan yang tepat adalah anjai bukan anjay.

Pada dasarnya, setiap kata dalam perbendaharaan kosakata memiliki makna yang suci. Bebas digunakan. Artinya, tidak terbatasi makna yang jorok kasar, dan tabu. Hanya saja masyarakat yang membatasinya demikian. 

Contohnya, sama-sama bermakna hewan tetapi kambing boleh disebutkan sementara anjing diganti dengan guguk. Sama-sama bermakna rambut tetapi kumis dan jenggot boleh disebutkan sementara penyebutan jembut dianggapnya tidak sopan.

Penggunaan kata anjing untuk mengumpat tentu boleh-boleh saja. Karena fungsinya untuk mengumpat bukan sebagai kata ganti. Kecuali memanggil orang dengan nama hewan, seperti monyet, anjing, babi, dan sebagainya. Memanggil sesama manusia dengan nama hewan tentu merendahkan lawan tutur. Itu yang tidak boleh.

Namun, karena budaya ketimuran yang menganggap tidak semua kata memiliki makna yang suci, beberapa orang menyamarkan kata anjing menjadi asem dan anjrit. Padahal asem, anjrit, bahkan anjai sudah memiliki makna tersendiri. Hal itu agar penutur bisa mengumpat namun masih terdengar sopan oleh lawan tutur. Itu hal yang wajar dan sah digunakan.

Selain kata anjai, kita juga sering mendengar kata bajigur dan bajingklak. Kedua kata itu sering digunakan untuk menghaluskan makna kata bajingan. Bajingan yang bermakna penarik pedati menjadi sebuah kata umpatan. Begitu juga dengan kata gobeng atau gobel sebagai pengganti kata goblok.

Apakah nantinya bajigur dan bajingklak juga akan ikut dilarang penggunaannya karena dianggap bersinonim dengan bajingan? Atau gobeng dan gobel sebagai pengganti goblok juga ikut dilarang? Hal itu tidak akan terjadi apabila setiap orang memahami konteks dan asal-usul penggunaan kata.

Makna bahasa selalu berubah setiap saat. Dalam ilmu semantik, ada 6 perubahan makna, di antaranya peyorasi dan ameliorasi. Peyorasi yaitu perubahan makna yang dulunya sopan digunakan menjadi bermakna tidak sopan digunakan. Sedangkan ameliorasi kebalikan dari peyorasi. Ameliorasi bermakna lebih bagus dibanding makna sebelumnya.

Kata guguk, bajigur, bajingklak, gobeng, dan asem merupakan bentuk ameliorasi. Penggunaan makna ameliorasi menjadi hal wajar dan sah digunakan. Apalagi bagi pengguna bahasa yang menganut budaya ketimuran seperti Indonesia. 

Jika bentuk ameliorasi dilarang penggunaannya karena memiliki padanan makna yang buruk, tentu itu mencederai kekayaan suatu bahasa. Penutur bahasa menjadi kesulitan untuk mengekpresikan emosi. Selain itu juga memiskinkan kosa kata sebuah bahasa.

Interjeksi merupakan kata seru. Fungsi utama interjeksi yaitu untuk mengekspresikan. Ada beragam kata interjeksi yang bisa digunakan untuk mengekspresikan emosi. Salah satunya anjai. 

Anjai memiliki perbedaan makna dengan anjing; baik dari penggunaannya maupun bentuknya. Meskipun ada yang mebgatakan anjai merupakan ameliorasi dari anjing, tetap saja ameliorasi masih terbilang sopan. Bukankah kata istri (ameliorasi) lebih enak didengar daripada bini (peyorasi)?

Jika anjai dilarang, pengguna bahasa tentu tidak kalah kreatif untuk menciptakan padanan kata yang baru. Hal itu karena bahasa bersifat dinamis dan mana suka. Kapan saja kosakata bisa diciptakan dan bisa ditinggalkan penggunaanya kapan saja. Begitu juga dengan kata anjai.