Anies Baswedan yang sebelumnya dikenal sebagai sosok pendidik, belakangan berubah menjadi sosok yang suka nyinyir.

Semenjak mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI periode 2017-2022, ia semakin menunjukkan ambisi politiknya. Anies memang pandai bertutur kata. Namun, ucapannya tak selalu sesuai dengan kenyataan.

Ia seperti halnya seorang motivator yang pandai beretorika manis namun nihil prestasi yang dilakukan. Begitu juga dengan program kerja yang disampaikannya tidak jelas. Bahkan hampir semua program kerja Anies-Sandi sudah dilakukan oleh Ahok-Djarot.

Anies kerap menyerang ketidakpuasaan warga namun selalu bisa dipatahkan oleh data yang dimiliki Ahok-Djarot. Namun demikian, sebagai seorang yang bernafsu jabatan politik, ia tak segan untuk memojokkan Ahok untuk memperoleh hati publik.

Tak heran jika setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah nyinyir. Kata-katanya penuh sindiran dan nyinyiran walau terdengar santun dan tersenyum.

Kesantunan dan kehalusan kata-kata Anies menyimpan banyak racun berbisa yang mematikan.  Ia tak lagi bisa dipercaya karena apa yang disampaikan tak selalu sesuai dengan kenyataan. Jika melihat prestasinya selama menjadi pejabat publik, maka tak ada sedikitpun argumentasi logis yang bisa menjelaskan prestasinya.

Tak heran jika Presiden Jokowi memecatnya dari jabatan Menteri. Itu tak lain karena sikap dan kebijakannya yang melenceng dari Nawa Cita.

Sikap nyinyir Anies juga terlihat jelas saat berkampanye di pemukiman warga di Rawamangun. Anies menyinyir Ahok. Ia sempat menyindir kebijakan penggusuran yang dilakukan Pemprov DKI yang menurutnya membuat kesengsaraan di masyarakat.

Anies membandingkan tangisan warga yang tergusur dengan tangisan Ahok saat membacakan nota keberatan saat sidang pertama. Anies mengatakan “warga digusur nangis dibilang sinetron, giliran dia nagis....” namun saat dikonfirmasi awak media, dia enggan menyebut orang yang dimaksud adalah Ahok.

Anies memang terlihat santun dan pintar beretorika. Namun di balik itu semua ada ambisi politik yang dahsyat hingga berbagai cara ia lakukan, termasuk mengambil hati kelompok fundamentalis-radikalis yang dulu kerap ia serang.

Bahkan hasil riset Indonesia menunjukkan bahwa Anies belum teruji kepemimpinannya. Salah satu poin menarik dalam riset tersebut adalah kepribadian Anies yang dinilai bagus, namun miskin realisasi kebijakan yang membanggakan.

Bahkan menurut Direktur Lingkar Madani untuk Demokrasi, Ray Rangkuti, terobosan yang dilakukan Anies saat menjabat sebagai Mendikbud tidak menonjol. Ini menunjukkan bahwa sosok Anies yang terlihat santun dan intelektual progresif hanya tipuan belaka.

Selain nyinyir, Anies acapkali memainkan isu SARA. Ia didukung berbagai kelompok fundamental dan radikal. Ia menjual gelar akademiknya dengan menafikkan keberagaman dan kebhinekaan. Padahal merangkul kelompok intoleran adalah bagian dari keikutsertaannya memecah belah bangsa

Sungguh sikap Anies semua ini membentur akal sehat karena dapat mengancam keharmonisan masyarakat yang majemuk. Publik Jakarta telah rasional. Mereka  tidak akan memilih Anies karena pencitraannya kerap menghalalkan segala cara untuk kepentingan politik semata.