Suatu saat, seorang teman bercerita tentang kisah tak terlupakan di masa sekolahnya, ketika ia ketahuan melompat jendela saat jam istirahat. Di sebuah ruangan, ia duduk berhadapan dengan Pak Sis, guru BK sekolah. Saat itu, teman saya sudah siap dihujani makian, sehingga ia hanya perlu menguatkan hatinya saja.

Baginya, dimarahi karena perilakunya yang salah merupakan hal yang wajar dan harus diterima. Sebab, sepertinya jendela hanya boleh digunakan untuk keluar rumah ketika kita sedang dalam keadaan terdesak saja, misalnya lari dari kejaran penculik dari dalam rumah dan tak ada jalan keluar lain selain jendela. Atau melatih otot tangan dan kaki untuk tujuan olahraga. Atau barangkali untuk menikmati angin sepoi-sepoi.

Tapi, ia tak pernah menyangka bahwa kata-kata Pak Sis terlontar begitu pahit. Lebih pahit jika dibandingkan kata bajingan asu. Lebih pahit jika dibandingkan hukuman membersihkan WC atau membersihkan lapangan futsal.

Entah mengapa, kata-kata itu membuatnya ingin menangis. Tubuhnya mendadak panas dan kaku. Pak Sis mengungkit perceraian orangtua teman saya dengan nada penghakiman tiada tara.

“Oh, orang tuamu bercerai to?.....”

Barangkali karena teman saya tak paham hubungan antara melompat jendela dan orangtuanya yang bercerai beberapa tahun lalu. Apakah perilaku melompat jendela itu hanya dilakukan oleh anak-anak korban perceraian?

Tidak tahukah Pak Sis bahwa perceraian orangtuanya secara tak sadar telah membawa luka batin dalam hidupnya? Tidak tahukah Pak Sis bahwa tidak mudah jika seseorang tumbuh menjadi anak korban perceraian? Lagipula, tidak bisakah Pak Sis tidak mengungkit pengalaman traumatis itu?

Pak Sis ini tentu harus paham bahwa kekerasan verbal macam itu tidak seharusnya terlontar. Terlebih memberikan cap yang melahirkan stigma pada diri anak bahwa ia adalah pribadi yang buruk sehingga membuatnya tanpa sadar percaya bahwa dirinya memang buruk. Bagaimana jika kemudian stigma ini terus terpendam dalam alam bawah sadarnya hingga sepanjang hidup?

Sebetulnya, ada banyak jurnal-jurnal psikologis terbaru yang bisa ia pelajari terkait bagaimana menangani siswa dengan perilaku tertentu. Pak Sis tentu harus tahu latar belakang keluarga siswanya dan bagaimana lingkungan keluarga membentuk perilaku anak hingga sedemikian rupa.

Apakah anak pernah mengalami kekerasan (child abuse) dalam keluarga seperti kekerasan fisik, seksual, psikis hingga penelantaran? Apakah hak-hak sebagai anak telah ia terima dengan baik dari orangtuanya? Apakah anak hingga sekarang masih tinggal satu rumah dengan orangtuanya dan kebutuhan psikisnya terpenuhi dengan baik? Semua perlu dipertanyakan.

Kata-kata merendahkan dan menyakitkan hati sudah barang tentu tak membawa faedah apa pun pada anak, apalagi jika kemudian ia dibanding-bandingkan dengan anak lain yang lebih pintar dan sopan.

Anak hanya perlu diberi motivasi dan dukungan, bahwa ia sebenarnya adalah anak yang baik, pintar, bertanggung jawab dan bisa berubah menjadi lebih baik. Terapi-terapi semacam ini justru terbukti lebih berguna jika dibandingkan dengan melontarkan kalimat “Oh orangtuamu bercerai to? Pantesan…”

Hal yang tidak bermutu semacam ini meski berbeda kasus juga pernah saya alami. Saat itu, seorang guru bertanya pada para murid di kelas kami dan menyuruh kami menjawab dengan mengangkat jari telunjuk terlebih dahulu. Lima belas murid yang mengangkat tangan diantaranya adalah saya.

Saya kedapatan mengangkat jari telunjuk dengan tangan kiri. Ibu guru yang budiman itu kemudian memandang mata saya dalam-dalam, lantas berkata, “Heh kamu nggak sopan, pake tangan kiri. Kamu adeknya si tika to? pantesan.”

Dihardik di depan banyak orang dihari pertama masuk sekolah, saya sangat malu sekali. Saya juga tidak paham mengapa ibu guru mendiskriminasi tangan kiri saya, lalu apa hubungan antara kesalahan itu dan kakak saya.

Sumpah, bu, saya sudah mencuci bersih tangan kiri saya dengan sabun selepas dari toilet tadi pagi, lagi pula bagaimana jika ternyata saya kidal, hayoo?

Kawan, persoalan psikologis manusia saat ini begitu kompleks. Bagi saya, memutuskan berkeluarga seharusnya menjadi hal yang sangat penting. Tidak hanya sekadar memproduksi anak cucu atau karena dikejar usia. Ketika menikah, seseorang harus berkomitmen membina keluarganya dengan baik, siap secara psikis dan materi.

Jangan sampai kelak anak kita bernasib sama seperti seorang kawan yang saya ceritakan tadi, atau jangan sampai anak kita kelak menjadi guru BK semacam itu. Mendidik anak bagi saya sama seperti membangun Indonesia. Jangan sampai sudah menikah tapi tidak mampu menyebutkan 10 hak anak yang wajib terpenuhi menurut UU yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia.

Masih ingat Rangga, anak yang gantung diri selepas orangtuanya bercerai? Tak mudah bagi seorang anak melewati masa sulit ketika orangtua mereka akhirnya bercerai entah karena alasan apa pun.

Menurut Puslitbang Kehidupan Keagamaan Kemenag, angka perceraian di Indonesia selama 5 tahun terakhir terus meningkat. Antara rentang 2010-2014 dari sekitar 2 juta pasangan menikah, 15 persen diantaranya bercerai.

Di tahun 2014 saja, angka perceraian yang diputus pengadilan tinggi agama mencapai 382.231. Persoalan itu seringkali dikarenakan ketidaksiapan menikah yang ditandai dengan rumah tangga tidak harmonis, tidak ada tanggung jawab, persoalan ekonomi, dan kehadiran pihak ketiga.