Saat grup chat WhatsApp gemuruh oleh perdebatan penistaan agama yang disangkakan ke Ahok, alih-alih merujuk pada substansi kalimat yang diucapkan Ahok, yang ada malah berkutat pada fenomena akhir zaman yang semakin hari semakin banyak orang yang berani hina agama.

Sama halnya dengan komentar netizen di Facebook dan Instagram saya yang mengomentari puisi Sukmawati beberapa waktu lalu. Tanggapan yang dikultuskan masih juga seputar tanda-tanda akhir zaman.

Namun, lagi-lagi saya harus kecewa, setelah pernyataan Rocky Gerung yang mengatakan kitab suci adalah karya fiksi, orang yang benar-benar overdosis dalam beragama, kembali mengatakan fenomena akhir zaman. Setahu saya, sebagai orang filsafat, apa yang dikatakan Rocky adalah hal remeh di kelas-kelas filsafat. Saya juga mengalaminya saat sesi mata kuliah umum Fenomenologi Agama di kampus dulu.

Cara berpikir dengan menanggalkan nalarnya memang jadi pilihan setiap individu. Namun begitu, tangan saya terlanjur gatal untuk menanggapi keruwetan mereka. Yang seharusnya ruang wacana akademik membaik, menafikan lalu lintas pikiran terkait isu yang viral hanya menggambarkan para kelompok demagog teologis.

Orang yang mengatakan tanda akhir zaman bukan orang yang tidak sekolah sama sekali. Dengan memiliki gawai dan gaya hidup sedikit mewah, gelar akademik sarjana sudah barang tentu menghiasi namanya. Semakin menggelitik saja, masuk kelas hanya untuk selembar ijazah.

Tapi begini, yang namanya iman akan terjadinya akhir zaman sudah dijelaskan dalam kitab suci agama abrahamik. Saya sepakat untuk mengimani terjadinya hari akhir, tapi bagaimana jika keimanan itu semakin dikaitkan ke mana-mana hingga mengambil alih keilmuan lain seperti sastra dan filsafat?

Politisi yang memiliki kekuasaan harusnya sih bertanggung jawab memperbaiki pendidikan kita, tapi sayangnya mereka juga sedang asyik memainkan populisme identitas ketimbang menawarkan program kerja. Harusnya, kan, menawarkan solusi, ini malah membicarakan sesuatu yang tidak ada relevansinya dengan kepentingan publik terkait telanjang dada sebagai indikator seseorang itu sehat atau tidak.

Di luar komentar netizen tentang tanda-tanda akhir zaman, yang lebih parah lagi adalah mereka yang memilih berbeda pemikiran dengan mayoritas harus dipidana. Ahok sudah berhasil dipenjarakan. Sukmawati pun dilaporkan juga, walaupun polisi belum mengusut lebih lanjut. Lalu, bagaimana dengan Rocky Gerung?

Permadi Arya, atau panggilan bekennya dengan nama Abu Janda, melaporkan Rocky dengan tuduhan penistaan agama. Duh, Jokowers yang satu ini kupingnya ternyata sama-sama tipis dengan kelompok sumbu pendek. Ternyata susah ya untuk adil sejak dalam pikiran?

Kemunduran intelektual inilah yang jadi fenomena di era post-truth sekarang ini. Pasal penodaan agama cenderung membuat orang mudah tersinggung, saling lapor, hingga persekusi.

Saya tidak akan membahas secara mendalam polemik pasal penodaan agama yang tak habis-habisnya memakan korban ini. Toh sudah banyak ahlinya yang membahas dengan argumen yang ciamik dan komprehensif. Sesuai pembuka di awal tulisan ini, saya ingin mengomentari netizen saja, yang ringan-ringan.

Mari kita permudah. Tanda-tanda akhir zaman itu bukan disebabkan oleh pendapat orang yang berbeda dari mayoritas. Tanda akhir zaman bisa diuji oleh sebuah hipotesis, seperti kerusakan hutan yang bisa mengakibatkan kenaikan suhu bumi, penebangan pohon sembarangan yang menyebabkan banjir bandang dan sejenisnya atau bisa juga disebabkan asteroid yang menghujam bumi. Kalau begitu berdebatnya, kan enak.

Secara dialogis, menanggapi ide seseorang, maka seharusnya tawarkanlah sebuah antitesis, bukan yang berlandaskan dogmatis. Self-proclaimed yang didasarkan oleh iman untuk berargumentasi hanya membuat diskusi jadi debat kusir, tak akan ada titik temu.

Okky Madasari di akun Twitter-nya mengungkapkan bahwa ia sangat menantikan sekali berdiskusi perihal kitab suci adalah karya fiksi. Namun, saat ruang wacana akademik sudah sedemikian rusaknya, hal ini pun tak terberi. Okky adalah seorang muslimah taat. Sebagai novelis, ia paham betul apa yang diucapkan Rocky patut menyingkap tabir diskusi.

Ahok, Sukmawati, dan Rocky adalah manusia yang seharusnya merdeka mengungkap isi pikiran. Sangat disayangkan ketika Ahok dan Sukmawati wajib minta maaf ke publik terkait kebebasan berekspresi yang mereka lakukan. Tekanan publik nyatanya selalu jadi legitimasi untuk mengagitasi pemikiran tertutup.

Apa yang mereka bertiga ungkapkan bisa saya pastikan mewakili orang-orang yang selama ini jengkel. Mereka bukan jelmaan yang lahir untuk menjadi pencetus tanda-tanda akhir zaman. Mereka adalah seorang pemikir yang ingin mengekspresikan gagasannya. Sebagai individu, Ahok, Sukmawati, dan Rocky adalah individu yang nyata dan tidak bisa dimusnahkan.

Rocky Gerung yang terakhir berpolemik dan menuai kontroversi di negeri ajaib ini, saya harap tidak melakukan hal yang sama. Karena bagaimanapun, kebebasan berekspresi adalah hak yang harus dijunjung tinggi dan dilindungi negara.

Sekarang saya tanya, apa bedanya dengan Felix Siauw yang menawarkan gagasan khilafah atau Rizieq Shihab yang berpendapat Indonesia harus kembali ke piagam Jakarta? Sah-sah saja, bukan?