Mahasiswa
2 tahun lalu · 654 view · 4 menit baca · Buku thumb_982124_12232915052016_buku_ahok_sang_pemimpin_bajingan_2.jpg
Www.rmoljakarta.com

Ketika Ahok Disebut Sang Pemimpin 'Bajingan'

Buku ini, begitu fenomenal dikalangan publik sekitar bulan Mei 2016. Karena, judulnya begitu frontal dan 'beringas'. Saya ikut dalam acara launching buku ini, di gedung Djoeng, Jakarta Pusat, ( Sabtu 14 Mei 2016). Buku ini ditulis oleh Maksimus Ramses Lalongkoe dan Syaehfurrahman Al-Banhary. Dan saya mengenal dekat dengan Ramses Lalongkoe. Beliau seorang pengamat muda yang kritis dengan argumentasi yang memiliki cita rasa yang unik, "Ahok Sang pemimpin 'Bajingan' ".

Buku ini, lebih kepada kajian komunikasi kepemimpinan Ahok dan meneropong kinerja Ahok mulai jadi wali kota Belitung Timur sampai gubernur DKI Jakarta. Basuki Tjahaja Purnama atau akrab disapa Ahok kini menjadi populer di blantika politik Indonesia. Nama Gubernur DKI Jakarta ini, tidak saja menyesaki ruang diskusi politik Jakarta, tetapi juga menyebar hingga ke seluruh pelosok daerah.

Ahok menjadi begitu fenomenal karena memiliki karakter pemimpin yang berbeda dengan pemimpin-pemimpin lain di negeri ini. Ahok berani melawan arus dengan memilih jalan berbeda dengan jalan-jalan yang dilalui oleh banyak pemimpin Indonesia lainnya. Melalui bicaranya yang blak-blakan, sikapnya yang tegas tanpa kenal kompromi dan memiliki nyali memberantas para predator uang rakyat, membuat Ahok menjadi kian menjadi idola.

Sikap tegas dan keberanian Ahok ini sebenarnya telah ditunjukannya mulai menjadi wakil rakyat, Bupati Belitung Timur, wakil gubernur hingga menjadi gubernur DKI Jakarta saat ini. Realitas karakter kepemimpin Ahok yang unik dan khas ini yang membuat Ahok seperti manusia yang hidup di tiga zaman.

Jika pada zaman Soekarno maka Ahok Marhaenisme yang bertubuh, jika masa orde baru sampai reformasi maka Ahok adalah anak emas reformasi, karena sekarang merupakan era revolusi mental, maka Ahok salah seorang gurunya.

Ahok dan Ren

Kehadiran Ahok dalam panggung kepemimpinan Indonesia sebagai ‘nabi’ yang membuka perubahan. Dalam ajaran Konfusius dikenal kata Ren (Rasa kemanusiaan).

Ren berasal dari kata ren artinya manusia dan er artinya dua. Maka, konsep ren berarti manusia dengan kualitas moral dalam intraksi dengan yang lain. Kalau hanya seseorang maka disebuat Tian (manusia). Ren mengandaikan adanya sebuah “perjumpaan”, “pertemuan”, dan “pertentangan” dalam relasi. Namun, Ren membutuhkan rasa kemanusiaan. Ren sesungguhnya tidak datang dari dunia luar, tetapi datang dari dalam diri manusia.

Ren in se adalah perjuangan untuk mencapai tindakan yang bukan saja mencari keuntungan, tetapi mencari kebenaran. Atau dalam Filsafat Cina dikenal istilah Dao (kebenaran, etika, dan moral). Sebelum mencapai Ren, orang harus menjadi pribadi yang unggul (Junzi). Manusia unggul menguasai nilai-nilai moral dan etika, terpelajar dan memiliki bela rasa terhadap sesama.

Orang tampil sesuai dengan kualitas apa yang dimilikinya. Seorang pemimpin melakukan segala sesuatu sesuai namanya. Kalau ia presiden, maka bertindaklah sebagai presiden. Kalau Gubernur, bertindaklah selayaknya Gubernur. Kalau ia wali kota, bersikaplah seperti wali kota. Rakyat pun demikian, bertindaklah sebagai rakyat. Maka, Kualitas ren, adalah melakukan segala sesuatu sesuai dengan tugas yang diembankan kepadanya.

Nama tidak hanya mengandung makna (deskriptif), melainkan juga kewajiban atau tanggungjawab (Preskriptif). Orang tampil sesuai dengan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Kehadirannya sungguh mampu menggubah dan menggerakkan orang lain. Nilai dasarnya adalah Dao (kebenaran dan nilai moral).

Dao menjadi sebuah “alasan” kenapa orang harus menunjukkan rasa kemanusiaan. Ren adalah etika dasar etika Konfusius dalam pembentukkan manusia. Ketika membandingkan dengan model kepemimpinan Ahok di panggung sejarah Indonesia, sungguh menjadi seorang pemimpin yang memiliki rasa kemanusiaan.

Salah satu kunci Ren berpusat pada ketulusan menolong dan membangun orang lain, tidak memikirkan kepentingan diri sendiri. Berani melakukan gerakkan ke luar. Keluar dari kenyamanan diri. Keluar dari keinginan merasa nyaman. Itulah hal praktis yang Ahok lakukan. Kualitas ren patut dikenakan kepada Ahok. Ahok sebagai seorang pemimpin yang menjawab harapan Konfusius. Ketegasan Ahok dalam mencetuskan perubahan layak mendapat julukan seorang yang ‘mengasihi kemanusiaan’. Shu (cinta) adalah tindakan mengaktualisasikan ren.

Ahok kendatipun dengan perkataan dan tindakan yang keras, ia tetap melakukan dengan cinta. Ahok sendiri sungguh melakukan semuanya dengan cinta. Kekuatan cinta mampu mengalahkan rasa egois dan ketakutan yang datang dari luar. Ancaman dari luar tidak melunturkan semangatnya memperjuangkan rasa kemanusiaan. Ini menjadi catatan penting bagi para pemimpin yang lain.

Kinerja Ahok seyogianya menjadi cetak biru bagi para pemimpin di Indonesia. Ahok memiliki ketaatan, namun bukan ketaatan buta yang melumpuhkan rasa kemanusiaan terhadap rakyat. Indonesia masih absen dengan pemimpin seperti ini. Indonesia masih membutuhkan lima atau enam orang seperti Ahok.

Ahok dan Kepemimpinan Shu

Ahok tampil gemilang dengan kualitas kepribadian yang matang, mampu mementaskan perubahan di berbagai sektor. Model Shu (cinta) menjadi model kepemimpinannya.

Shu mengandung nuansa larangan, jangan melakukan sesuatu apa yang tidak ingin dilakukan orang lain kepada kita. Penolakkan bukan berarti melumpuhkan nilai Shu. Ahok kadang mendapat banyak julukkan. Ia bisa dijuluki orang gila, orang tolol, dan orang keras kepala. Baginya, itu adalah penilaian yang menjadikan dia berjalan mengejar ren. Perjuangan kebenaran bagi ahok adalah perjuangan melawan orang yang loba.

Perjuangan melawan orang yang mencari Li (keuntungan). Nilai Ren luntur karena orang mencari keuntungan. Segala sesuatu dilakukan dengan kalukulasi untung-rugi, dapat uang atau tidak, dapat diskon atau tidak. Pertanyaan selalu muncul dari pemimpin yang mencari li: apakah saya meraup keuntungan? Itu semua bertentangan dengan Ren. Kiranya semangat Ahok bisa menggerakkan para pemimpin yang lain.

Pemimpin yang tidak menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, tetapi pemimpin yang menjawab persoalan rakyat dengan bertindak. Itulah Ahok. Oleh karena itu, ada alasan politik yang sehat, baik dan benar untuk mendukung Agus Yudhoyono di antara Ahok dan Anies Baswedan menjadi Guberbur DKI Jakarta Masa Bakti 2017-2022; Sejarah perpolitikan nasional telah mencatat, bahwa penumpukan kekuasaan di tangan sekelompok orang (bdk. Pak Harto, Orde Baru) justru membuat bangsa kita macet demokrasi, tersandera oleh oligarkhi, kebal hukum; Anies Baswedan nampaknya "tidak bebas".

Dia ditengarai bagian dari politik "dua kaki" istana. Sementara Agus Yudhoyono relatif bisa menjadi sosok "antitesa demokrasi" yang berdampak pada kehidupan politik nasional. Muara atau sintesa dari Pilgub DKI ini tentu saja bagian dari rute demokrasi dan politik dalam Pilpres 2019 yang akan datang; Pertanyan pun kian menggelitik, Apakah kita ingin kembali ke Orde Baru?

Artikel Terkait