Isu gender dan seksualitas bukanlah hal yang baru di Indonesia. Gerakan yang menyerukan kesetaraan gender gencar dilakukan oleh sejumlah aktivis.

Isu gender dan seksualitas memang sebaiknya dibicarakan dengan pemahaman yang baik. Mengapa butuh pemahaman soal gender dan seksualitas? Karena saya wanita yang melihat wanita masih dinomorduakan dan sering kali menjadi korban dari budaya patriarkis. Ini tidak lain akibat tidak memahami perkara gender dan seksualitas.

Perempuan tidak merasakan kesetaraan dan sangat sulit mengakses apa yang seharusnya menjadi hak-haknya. Misalnya di bidang pendidikan, seperti kasus di desa saya, perempuan dianggap tidak semestinya mendapatkan pendidikan yang tinggi, cukup bersekolah sampai SMP saja. Ini tidak lain karena anggapan dari masyarakatnya, yaitu perempuan mau setinggi apa pun sekolahnya, ujung-ujungnya tetap di dapur.

Di samping itu, kekerasan terhadap perempuan juga menjadi masalah yang serius. Stigma bahwa hal yang wajar jika perempuan tidak menuruti apa kata suami harus dipukul membuat perempuan rentan menjadi korban tindak kekerasan. Pelecehan terhadap wanita dalam skala kecil-kecilan dibenarkan.

Bahkan undang-undang yang mengatur pernikahan sangat berat sebelah dan merugikan perempuan. Belum lagi soal trafficking atau perdagangan perempuan. Permasalahan yang diakibatkan ketidakpahaman akan gender dan seksualitas membuat salah satu pihak (dalam hal ini perempuan) menjadi korban. 

Dalam budaya yang patriarkis misalnya, perempuan dijejali dengan doktrin-doktrin tentang “bagaimana semestinya” menjadi perempuan. Padahal itu tidak lain merupakan konstruksi sosial.

Apa yang Dimaksud dengan Konstruksi Sosial? 

Konstruksi sosial adalah makna, simbol, dan konotasi yang dilekatkan pada obyek atau peristiwa dan masyarakat memandang bahwa seperti itulah seharusnya obyek dan peristiwa terjadi. Konstruksi sosial umumnya diterima secara natural oleh masyarakat.

Konstruksi sosial sangat mempengaruhi masyarakat memandang suatu fenomena sosial dan bagaimana suatu fenomena menjadi tradisi serta dibangun menjadi institusi. Salah satu produk dari konstruksi sosial adalah gender dan seksualitas.

Gender dalam artian ini bukanlah jenis kelamin laki-laki atau perempuan, melainkan konstruksi sosial mengenai laki-laki dan perempuan. Misalnya laki-laki boleh bekerja di berbagai bidang yang sentral seperti memegang jabatan pimpinan eksekutif atau menjalankan suatu peranan penting dalam politik. Sedangkan perempuan hanya boleh menjadi pendukung dari lelaki, merawat anak-anak, dan memasak.

Seksualitas juga hasil bentukan dari pandangan masyarakat. Seksualitas didefinisikan sebagai perilaku seks individu dan kapasitasnya dalam mengolah hasrat seksual. Umumnya masyarakat di tanah air memandang homoseksual sebagai anomali atau penyakit karena yang lumrah di masyarakat adalah heteroseksual, yaitu pernikahan dengan lawan jenis.

Bagaimana masyarakat pada umumnya melakukan konstruksi terhadap gender dan seksualitas? 

Dari Segi Biologi dan Psikologi 

Saya pikir, sains juga turut andil dalam membentuk konstruksi terhadap gender dan seksualitas. Tubuh seseorang adalah obyek dari bidang studi Biologi. Biologi sebagai cabang dari sains seakan-akan sudah menjelaskan dan menanamkan doktrin dalam pikiran banyak orang bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda secara natural. 

Perempuan dalam pandangan Geddes and Thompson digambarkan sebagai makhluk yang cenderung menyimpan energi mereka atau disebut sebagai anabolic. Oleh karena itu, perempuan lemah, tidak berdaya, konservatif, dan tidak tertarik memegang peranan penting dalam hal politik dan sosial.

Sedangkan lelaki cenderung membakar energi mereka atau disebut dengan katabolis. Oleh karena itu, lelaki memiliki energik, kuat, cerdas dan layak diberikan posisi vital dalam bidang sosial politik.

Pandangan determis ini membuat perempuan kehilangan akses yang setara dengan lelaki. Perempuan menjadi manusia kelas dua yang memegang posisi tidak penting dalam kehidupan bermasyarakat, sedangkan laki-laki selalu mendapatkan posisi yang penting dalam bidang sosial dan politik. 

Sedangkan dari pandangan psikologi, perempuan dikatakan memiliki emosi yang labil setiap kali mereka mengalami menstruasi. Perempuan distigma memiliki emosi yang meluap atau emosional sehingga menomorduakan rasio.

Dalam kondisi yang lebih mengedepankan sikap emosional dan kurang rasional ini, lagi-lagi perempuan harus menerima untuk diletakan dalam posisi pendukung laki-laki. Bukan pemeran utama. Perempuan dilarang menjadi direktur atau pilot karena dikhawatirkan tidak akan mampu melakukan pekerjaan mereka sebaik laki-laki. Karena berada dalam ranah sains, determinisme dalam psikologi dan biologi ini kerap dibenarkan.

Dari Segi Sosial 

Entah disadari atau tidak, masyarakat patriarkis yang membuat perempuan termarginalkan adalah akibat ulah masyarakat kita sendiri. Ya, kekerasan terhadap perempuan, perdagangan perempuan, undang-undang dalam pernikahan yang merugikan perempuan adalah hasil didikan masyarakat kita kepada generasi setelahnya.

Ketika seorang ibu diminta untuk menceritakan anaknya, kebanyakan dia bercerita berdasarkan gender. Anak laki-lakinya pemberani sementara anak perempuannya pemalu.

Seorang ibu yang memberikan anak-anaknya mainan secara tidak langsung telah mengajarkan diskriminasi kepada anak laki-laki dan anak perempuannya. Anak laki-laki diberikan mainan yang sifatnya maskulin, seperti pistol mainan, mobil-mobilan, robot, dan sebagainya. Sedangkan anak-anak perempuan diberikan mainan yang sifatnya feminim seperti boneka, masak-masakan, mainan bongkar pasang (pakaian).

Tanpa disadari, pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan sudah dibentuk sejak dini sehingga perempuan menilai bahwa memasak, diam di rumah, dan mengurus anak sudah menjadi kodratnya. 

Ketika seorang ayah atau ibu mengisahkan suatu dongeng kepada anaknya, maka tokoh-tokoh dalam dongeng itu juga mencerminkan konstruksi sosial akan gender. Bahwa perempuan lekat dengan pekerjaan rumah tangga, sedangkan laki-laki identik dengan petualangan dan peperangan. Film pun setali tiga uang.

Ketika tumbuh dewasa, seorang anak perempuan dididik bagaimana menjadi perempuan yang baik dan seorang anak lelaki dididik menjadi laki-laki yang baik. “Yang baik” tentu saja adalah bentukan sosial atau konstruksi sosial yang patriarkis atau mungkin matriarkis.

Pada akhirnya, pengetahuan soal gender, seks, dan seksualitas dalam hal ini sangat dibutuhkan. Pengetahuan akan jenis kelamin/seks, gender, dan seksualitas harus disebarkan seluas-luasnya agar kita tak hanya menjadi penerima apa yang sudah diwariskan.

Namun, kita harus menjadi manusia yang sadar dengan hak kita dan bagaimana kita menciptakan dunia kita sendiri. Ya, harus diakui ketidakadilan gender dan seksualitas adalah hasil karya kita, hasil konstruksi sosial.