Awalnya buku ini tak kugubris. Desain sampul yang kurang eye catching, kebulukan ilustrasi, dan minimalis tata letak isinya membuat buku ini otomatis terlantar begitu saja. Itulah kelakuanku sebagai pemindai minat baca. Subjektif banget.  

Buku setebal 155 halaman yang digeletakkan anak perempuanku itu berhari-hari terlantar di tempatnya, tersaingi buku-buku bersampul lux yang tebal-langsing, alias pocketry banget.

Sebelum ia benar-benar jatuh ke tanganku, tulisan nama diri seseorang di sampul buku sekilas memang cukup potensial untuk dibaca. Kalau yang ini, pemindaian yang cukup objektif. Satu nama diri yang tak asing bagi sastra Angkatan 45.

Hingga pada akhirnya, kelebatan acara Festival Sastra UGM 2019 itu mampir untuk menghuni hunjam di kelebat benak. Ya, tentang acara itu, seremonialis sastra tuk kenang sang penyair binatang jalang, Chairil Anwar.

Rengkulah tanganku pada bukunya. Skimming, penjelajahan cepat ala Massachussets; menyapu dengan rentet cepat bukan halamannya; memberikan beberapa kesimpulan.

Di antaranya, seperti: buku ini cukup jadul-terbitan 2003; penerbitnya cukup asing di telinga-metafor publishing; kualitas cetakan paket hemat-seperti fotokopian (pada halaman 76, bangkai seekor nyamuk ikut terfotokopi); dan ilustrasi isi yang hitam-putih.

Keterbelalakanku makin menjadi setelah kubaca halaman Kata Pengantar-oleh Rendra: halaman Ucapan Terima Kasih-berisi daftar satrawan dan seniman kaliber Indonesia, bahkan dunia; dan yang terakhir, buku ini ditulis oleh Sjuman Djaya-sutradara langganan Piala Citra FFI.

Baru ngeh kalau buku ini berkaitan erat dengan jurusan anak perempuanku itu, Film dan Televisi. Wah, kirain tentang sajak dan puisi doang.

Dan, benar adanya, buku ini berisi skenario film yang tak sempat tayang. Film tentang Chairil Anwar. Karena tentang sebuah skenario film, maka gaya penulisan buku ini ya seperti sebuah skenario. Namun, diadaptasi dan disederhanakan agar enak dibaca saja.

Perpaduan sajak, puisi milik Chairil Anwar, dan gaya penulisan skenario Sjuman Djata ini cukuplah membuat keterpingkalan dan ketersedihan yang tidak dimiliki oleh genre skenario film pop.

Sebenarnya mau kutulis saja dengan judul panjang “Keterpingkalan dan Ketersedihan Skenario Ini”. Namun, itu tak “SEO-ness” banget, istilah tepatnya--mungkin.

Untuk selanjutnya, saya pilihkan beberapa skenario yang membuat terpingkal ataupun yang membuat sedu-sedan. Kemudian, saya berikan sedikit ulasan atasnya.  

Skenario nomor 10

Ini dia, kita sudah diperlihatkan keterpingkalan sebuah suasana table manner yang melabrak etiket. Dari etiket bangsawan menjadi etiket bangsat-wan. Seperti ini:

Meja makan,
sangat bangsawan!
Porak Poranda!

Sepasang suami-istri
duduk makan bersama,
berhadap-hadapan,
Porak Poranda!

Yang lelaki tinggi lagi besar,
berkumis melintang dan lebat,
bermata bundar, merah menyala,
seperti terwaris pada lelaki kurus
yang bertelanjang dada.
Alangkah garang dan pemberangnya dia,
walau sangat bangsawan. 

Yang perempuan pendek,
walau tak kalah tambunnya.
Berwajah bundar seolah lembut,
tapi alangkah kerasnya dia.
Yang lelaki membanting serbet putih di atas meja,
sambil matanya terbuka menyala
Dan seluruh kumisnya ikut bergetar
seolah berkata:
“Bi-na-tang kau adanya!

Yang perempuan diam tidak bicara,
cuma ditariknya taplak meja yang panjang,
juga berwarna putih,
dan binasalah seluruh yang teratur rapi di atasnya.
Alangkah indahnya…
Porak poranda! 

Ulasan: kocak, banyak sekali terlihat penggunaan Apofasis atau Preterisio; ada penegasan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal. Seperti: alangkah indahnya, porak poranda!

Penggunaan majas histeron proteron, majas yang histeris berkebalikan dari sesuatu, seperti pada: Yang perempuan diam tidak bicara, cuma ditariknya taplak meja yang panjang.

Kalau boleh saya tebak, skenario di atas untuk kedua orang tua Chairil Anwar yang bangsawan, seorang bupati atau wedana di sebuah kawedanan di Medan.

Sang Wedana dan istrinya, mewariskan beberapa genetika unggul kepada anaknya, Chairil Anwar; bermata merah menyala, lulusan Mulo Medan, selalu mengepit buku bacaan di ketiaknya, necis berbaju rapi putih-putih khas Indiesche, yang tajam terseterika dan kadang juga sering tampil bertelanjang dada dan celana yang dinaikkan hingga lutut.  

Kekacauan rumah tangga, pada dasarnya menjadi pembangun genetika kekacauan berikutnya pada turunannya.

Dan, benar adanya, ketika Chairil Anwar kacau dengan istrinya yang juga “gemuk”; Hafsah, seorang dara Kerawang cantik. Bertekuk lutut saat diperlihatkan kegigihan dan pola “to the point”-nya khas Chairil Anwar dalam urusan perempuan.

Skenerio Nomor 30

Dan lelaki itu sekarang berada di sebuah toko buku. Diselipkannya dua buku tebal ke balik jaketnya, lantas dia nyelonong keluar seenaknya, dan seterunya hingga: Sambil berjalan dia membaca! 

Ulasan: Chairil Anwar yang otodidak, dengan membeli buku, hingga mencurinya karena kehabisan uang. Harta ibunya ludes untuk sekolah, beli buku bacaannya, dan gaya bohemiannya itu; dansa-dansa dan keluyuran malam.

Di sini, terlihat bahwa sumber utama kesastraannya berasal dari kebiasaan yang cukup aneh saat itu, seperti: membeli buku, mencuri buku, membaca sambil jalan, dansa-dansa, dan keluyuran.

Skenario Nomor 31

“Kawan, jika usia kelak
Meloncer kita sampai habis-habisan
Jika tubuh seluruh, pehong lagi bengkok
Hanya encok tinggal menentu kemudi, 
Menyerah: sampai sini sajalah….!”
“Idih, joroknya!” Marsiti tertawa.
“Terus, kok pake ada pehong segala,
Encok, dibawa-bawa, sih? Memangnya
Boleh syair ngomong yang begituan?

Ulasan: Tak pelak, Chairil Anwar suka sekali main perempuan berbayar ataupun yang sukarela sebagai pelepasan atas sumbatan libido mata merahnya, mengimbangi kerasnya kerja otaknya dalam merangkai kata-kata sakti.

Marsiti, langganannya, yang juga langganan kombatan Gurkha India, kombatan Inggris dan Belanda; kritis terhadap syair-syair Chairil Anwar.

Tentang kata-kata “biasa” bahkan sarkas, apakah bisa masuk ke jajaran baiat-bait syair.

Pada syair di atas, jelas pengaruh kuat gaya penulisan anastrof atau inversi, yaitu majas yang mendahulukan predikat kalimatnya daripada subjek. Seperti: meloncer kita sampai habis-habisan…..

Juga gaya elipsis, majas yang menghilangkan salah satu unsur kata dalam kalimat, seperti: Menyerah: sampai sini sajalah….!”

Pleonasme juga muncul pada: Hanya encok tinggal menentu kemudi.

Tulisan-tulisan Chairil Anwar yang banyak menabrak “aturan”, termasuk sopan-santun pilihan diksi, malah membuatnya menjadi penyegar sekaligus pembeda AngkatanSastra sebelum dan sesudahnya. Apa yang ditulis Chairil Anwar, tidak bisa ditiru sekelas penyair Amir Hamzah.

Skenario 36

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala iba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta

Ulasan: gara-gara sajak di atas, Chairil Anwar diterima kehadirannya serta diakui kemampuannya oleh redaksi Balai Pustaka dan semua redaksi majalah seni. Chairil Anwar adalah orang baru di gemerlap belantara sastra Balai Pustaka yang konservatif dan normatif.

Satu kesimpulan dari para redaksi adalah: Chairil Anwar itu selalu nervous, resah dan tidak mau kalah (ngeyel). Menurutku, itulah bahan bakar karya-karyanya yang memberontak dari segala yang berbau aturan.

Sampai-sampai dalam skenario tersebut, Yasmin, seorang pentolan Balai Pustaka berkata:

keparat sekali kesedihan anak ini….hanya karena neneknya meninggal. Kapan kau pernah temukan salah seorang pemyair kita menyatakan kepedihan hatinya begini kentalnya. Bahasa Indonesia pun seolah mendapatkan ekspresinya yang paling penuh.

Skenario nomor 45

“...Seni kita sampai kini masih dangkal, picik benar. Tak lebih dari angin lalu saja. Menyejukkan kening dan dahi pun tidak!

Dengarkan!

Wahyu dan wahyu ada dua. Tidak tiap yang menggetarkan kalbu, wahyu yang sebenarnya. Kita musti bisa menimbang, memilih, mengupas, dan kadang-kadang sama sekali membuangnya…….”

Ulasan: menurutku, syair memang seperti setengah wahyu, sangat mempengaruhi dan agitatif. Boleh dibilang bahwa di bibir-bibir penyair, bergelantungan sejuta malaikat-Nya. Pun, sekaligus bergelantungan sejuta setan-Nya. Chairil Anwar seorang vitalisme. Namun khas, termasuk pula alat vital perempuan maksudnya.

Tiap seniman harus seorang perintis jalan, Adik. Penuh keberanian, penuh tenaga hidup. Jadi perasaan dalam hidup, di kilat sinar surya, dengan ketawa gembira, karena kita penuh api kerja……

Dukung aku Ida!

Ulasan: menurutku, Chairil anwar ini seorang libertarian, bebas dan merdeka bergerak. Kerabatnya saja, Perdana Menteri Sutan Sjahril; tak mampu mengatur-aturnya, membatasinya, membelokkannya. Cukup satu yang sepakat dengan Perdana Menteri itu, yaitu cerutunya yang sering digasak oleh Chairil Anwar yang kere.

Skenario nomor 47

Salah seorang prajurit kelihatan membentak sambil menghajar muka Chairil yang sudah merah biru. Chairil sampai terlempar melayang membentur dinding jeruji besi dan jatuh, Prajurit lain mencekal tangannya dan berusaha mengangkatnya tegak. Tapi Chairil menolak, bahkan membentak:

“Hayuh, pukul lagi! Kita lihat, siapa lebih dulu menyerah pada kebinatangan ini!

“Biar peluru menembus kulitku sekalipun, aku akan tetap menerjang!

Ulasan: Inilah fragmen yang saya anggap cukup keterpingkalannya, cukup konyol dan satire. Awalnya saya mengira bahwa Chairil ditangkap oleh opsir Jepang, Shitmitsu, karena isi syair, puisi dan sajaknya yang antikolonial itu.

Ternyata bukan! Penyebab utamanya dia ditangkap opsir Jepang itu adalah seperti yang dinarasikan oleh Sudjojono, seorang pelukis terkenal:

“Kalian jangan aneh-aneh. Jadel satu ini ditangkap tidak ada urusannya sama sekali dengan yang namanya kesenian. Dia mencuri cat opsir Shitmitsu! Opsir itu sendiri kemarin mengatakannya kepadaku. Kenapa dia curi? Karena dia kepingin sekali aku melukis dirinya!”.

Ulasan : akhirnya, Chairil dibebaskan dengan tebusan tertentu yang dibayar sendiri oleh Mirat, seorang jaksa yang pernah bertemu sebelumnya dengan Chairil di sebuah kawasan wisata pantai.

Dan, parahnya, Gadis Mirat, adik sang jaksa kepincut dengan gaya necis dan gaya “membaca bukunya” yang semena-mena itu, alias di semua tempat dan keadaan!

Jaksa Mirat: Opsir itu sebetulnya tidak bermaksud mencelakakan Bung sampai begini. Dia baca sajak-sajak Bung, dia terjemahkannya dalam Bahasa Jepang. Dia kagum pada Bung. Dia seniman semacam……” 

Chairil: Bilang sama opsir celaka itu, dia itu tidak akan pernah jadi seniman, sebab dari ujung rambut sampai ke tulang sumsumnya yang mengalir cuma darah hitam seorang bajingan yang paling rakus! …….

Ulasan; Chairil Anwar yang libertarian, juga menyusupkan jiwa-jiwa anarko yang berpraktek pada tempat yang tepat, yaitu memberikan perlawanan sederhana dengan ajaran “pencurian” untuk sebuah pelajaran jiwa bagi “pencuri lain” yang lebih biadab dan kejam.

Skenario Nomor 73

Qyu: dunia sedang gegap gempita melawan Fasisme, Ril. Sajakmu Binatang Jalan sudah diterima oleh kebanyakan kita sebagai manifestasi anti fasis….”

Chairil: bukan cuma antifasis, dong! Anti segalanya…. yang “aturan”.

Ulasan: Jelas sosok Chairil yang antiaturan, cukup memberikan karya-karyanya bermakna dan bebas tekanan, dari penjajah sekalipun. Influensi yang ada padanya seperti: Andre Gide, Lermontof, Marsmann dan Du Peron dan Slauerhoff.  

Skenario Nomor 81 

Cian menoleh ke pojok gerbong, Di pojokan itu ternyata Chairil yang tertawa menyeringai sambil memeluk seorang perempuan muda. Dia masih tertawa ketika menegur: Ah, Bung sampai juga kemari?! Ingat yang ini jangan ditulis. Nanti aku ceritakan bagaimana aku menghancurkan tiga tank Inggris dekat Gubeng!

Ulasan: Chairil Anwar juga pejuang pertempuran 10 November di Surabaya, dengan menumpang kereta dari Yogya, Chairil Anwar menunjukkan semangat kombatan sesuai dengan isi syairnya. Dan, tentunya khas “James Bond 007” yang flamboyan. Berjuang dengan selingan kesukaannya.

Skenario Nomor 123

sebelum ajal mendekat dan mengkhianat, mencekam dari belakang ‘tika kita tak melihat.
selama masih menggelombang dalam dada dan darah serta rasa,
belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
layar merah terkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini di sini:
ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!

jadi
isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan.
tembus jelajah dunia ini dan balikkan
peluk kecup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
jangan tambatkan pada siang dan malam

Ulasan: ini adalah awal penyakit Chairil Anwar memburuk. Baginya, sekali melangka, pantang surut ke belakang. Dia tidak mempertahankan sebuah kondisi ideal. Tubuhnya rela hancur untuk sebuah komitmen. Dokterpun tak digubrisnya. Tenang bermain dengan ajal dan maut. Kematian adalah sesuatu yang pasti, sedang berbakti belumlah pasti.

tuhan
dalam termangu
aku masih menyebut nama_Mu
biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cahaya_Mu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi 

 Chairil: siapa dia, Sam?

Sam: Teman Amalia, Roosmeini namanya! Kau tahu, mereka semua murid-murid si Qodrat di Perguruan Rakyat Salemba.

Ulasan: Chairil Anwar di masa kritis sakitnya, di masa pascaperceraian dengan Hafsah; jatuh cinta kepada gadis usia 18 tahun yang bernama Roosmeini yang membaca syair religi di atas.

Chairil: Akhirnya kutemukan juga kau. Kaulah yang akan mendampingi aku menjelajah Nusantara. Karena kau orang yang paling tepat membawakan sajak-sajakku. Kau mau ‘kan adik manis?

Skenario Nomor 129

Qodrat: sudahlah ril, beri kesempatan muridku tadi belajar dulu. Kau lebih baik aku antar ke dokter. Kau kelihatan teramat sangat tidak sehat, Ril!

Chairil: ah, kau, itu lagi. Apa tidak ada ide lain, kecuali suruh-suruh aku ke dokter? Aku tidak sakit, Aku bahkan mau mengembara jauh! Kau dengar itu, aku tidak sakit!

Ulasan: jatuh cintanya kepada Roosmeini yang 18 tahun itu, terhalangi oleh kedua orang tua Chairil dan sahabatnya. Chairil tetap pada pendiriannya untuk tidak memerdulikan sakitnya yang makin hari menggerogoti kesehatannya.

Skenario 136 & 137

yang terhempas dan yang putus
kelam dan angin lalu mempesiang diriku
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di karet (daerahku yang akan datang) sampai juga deru angin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku
jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita, dan peristiwa berlalu beku

Ulasan: puisi yang dibaca Roosmeini mengiringi kepergian Chairil Anwar ke alam baka. Roosmeini yang juga jatuh cinta kepadanya.

Ketika hati dan kepayang terlibas kata-kata syair yang indah dari penulisnya, batas apapun akan diterjang untuk menyatu hati dalam satu kecenderungana dan kegilaan yang kadang sulit di tatanan nalar normal.

Penggunaan majas tautologi terlihat pada: Tubuhku diam dan sendiri, cerita, dan peristiwa berlalu beku.

Selamat jalan, Chairil!