Indonesia dalam kurun waktu satu tahun ini telah mengalami masalah atau musibah dalam dunia kesehatan yaitu penyakit Covid 19 atau yang akrab disebut Virus Corona. Tingkat penularan yang tinggi mengakibatkan penyakit ini memiliki dampak yang jauh lebih besar.

Untuk mengurangi terjadinya penularan pemerintah Indonesia menerapkan social distancing atau karantina. Adanya virus Covid-19 dan penerapan karantina ini menyebabkan perubahan pada seluruh tatanan kehidupan masyarakat Indonesia, baik pendidikan, ekonomi, dan sosial.

Lonjakan kasus Covid-19 setiap hari terus meningkat, dari 106 kasus corona baru pada Maret 2020 dan berlanjut mencapai angka 400-600 kasus pada Mei 2020 atau usai dua bulan penemuan kasus Covid-19 di Indonesia.

Kasus yang terus meningkat juga membuat kekhawatiran masyarakat terus meningkat, kekhawatiran tentang kesehatan hingga ekonomi. Adanya covid-19 ini juga menyebabkan terbengkalainya pekerjaan, banyak kasus pekerja yang di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), dan juga sulitnya mencari pekerjaan.

Ekonomi Pada Masa Pandemi

Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahu 2020 diperkirakan mengalami pertumbuhan yang negatif.

Pada kuartal I pertumbuhan ekonomi masih tumbuh 2,97%, tetapi memasuki kuartal II terkontraksi hingga 5,32%, kuartal II merupakan puncak dari kelesuan ekonomi karena banyak sector usaha yang ditutup untuk mencegak terjadinya penularan Covid-19.

Dengan adanya social distancing yang diterapkan pemerintah ini mampu berhasil menyelamatkan nyawa seseorang yang terkena kasus Covid-19. Terbukti kasus baru semakin menunjukkan tren penurunan.

Di sisi lain, social distancing membuat ekonomi terus menurun. Akibatnya jutaan orang kehilangan pekerjaan dan pemutusan Hubungan Kerja (PHK), gelombang PHK menjadi momok baru di dunia selain virus yang menyerang itu sendiri

Keterkaitan Pemikiran Ekonomi Naqvi Dengan Ekonomi di Masa Pandemi 

Syed Nawab Haider Naqvi merupakan tokoh ekonomi islam pada masa kontemporer abad19. Naqvi (sapaan akrabnya) mengajar di sejumlah lembaga pendidikan tinggi dan riset ternama di Norwegia.

Kelebihan akademiknya menyebabkan ia ditunjuk di berbagai panitia formulasi kebijakan ekonomi di Pakistan maupun di luar negeri. Ia ditunjuk sebagai kepala di Economics Affairs Divison of Pakistan selama 1971-1973.

Terdapat tiga tema besar yang mendominasi pemikiran Naqvi di dalam ekonomi Islam. Yang pertama yaitu berdasarkan pada prinsip etika ilahiyah, yakni al-adl wa al-ihsan.

Menurut Naqvi, hal itu berarti etika harus secara eksplisit mendominasi di dalam ekonomi Islam, dan faktor inilah yang membedakan sistem ekonomi Islam dari sistem lainnya.

Yang kedua, melalui prinsip al-adl wa al-ihsan, ekonomi Islam memerlukan kebijakan-kebijakan yang memihak kaum miskin dan mereka yang lemah secara ekonomis. Aktifitas ini yang disebut egalitarianisme.

Dan ketiga adalah diperlukannya suatu peran utama negara di dalam kegiatan ekonomi. juga sebagai partisipan aktif dalam produksi dan distribusi, baik di pasar produk maupun faktor produksi, demikian pula peran negara sebagai pengontrol system.

Dalam ekonomi islam juga terdapat etika yang harus dibentuk dalam berekonomi, Karena seseorang diharapkan mempunyai prilaku ekonomi yang baik agar dapat mewujudkan ekonomi yang jujur dan dapat melahirkan persaingan yang sehat,

Sehingga mendorong terbentuknya kerja sama untuk membantu perekonomian. Seperti yang terdapat dari pemikiran naqvi yang pertama bahwa dengan etika yang mendominasi bisa menjadikan ekonomi islam beda dengan lainnya.

Etika ekonomi islam juga sering disebut dengan etika bisnis. Dalam masa pandemi sampai new normal ini etika bisnis menjadi poin penting bagi pengusaha makro maupun mikro.

Penerapan prinsip otonomi seperti penerapan protokol kesehatan selama masa pendemi, penerapan penggunaan masker dan penyediian sabun pembersih tangan sebelum melakukan transaksi, hal-hal seperti ini dilakukan sebagai penerapan tanggung jawab moral atas keputusan yang di ambil oleh pelaku usaha.

Kemudian pada pemikiran ekonomi naqvi yang kedua yaitu islam memerlukan kebijakan yang memihak kaum miskin dan kaum yang lemah. Dengan kondisi saat ini karena adanya Covid-19 maraknya kemiskinan dan kesenjangan semakin bertambah. Selain pennduduk miskin yang bertambah daya beli pun ikut menurun.

Sebagian penduduk jatuh miskin karena tak mampu memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan. Pemerintah telah memberikan stimulus fiskal berupa bantuan sosial yang cakupannya diperluas dan indeks bantuan yang dinaikkan, untuk menekan tingkat kemiskinan pada tahun 2020.

Seperti yang telah disebutkan dalam Perpres 122/2020 tentang Pemutakhiran RKP 2021. Dalam perpres itu, dinyatakan penurunan kemiskinan pada tahun 2021 terus diupayakan untuk mengejar ketertinggalan karena adanya penambahan penduduk miskin pada tahun 2020 pasca-pandemi Covid-19.

Islam memerlukan kebijakan untuk memihak kaum miskin atau lemah ini sesuai yang termaktub dalam surat al-Mudatsir yang menjelaskan bahwa Islam melarang setiap perilaku yang menyebabkan munculnya kemiskinan, seperti tidak membantu kaum dhuafa dan membiarkan mereka dalam kesulitan.

Allah SWT berfirman, yang artinya, "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab:"Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin."(QS al-Mudatsir: 42-44).

Dan pemikiran naqvi yang ketiga yaitu diperlukannya suatu peran utama negara di dalam kegiatan ekonomi. Negara memiliki tiga peranan dalam perekonomian, di antaranya adalah sebagai pengatur/regulator, sebagai konsumen, dan sebagai produsen.

Beberapa langkah-langkah sudah dilakukan pemerintah untuk memperkecil dampak dari adanya Covid-19. Misalnya pada bidang kesehatan, pemerintah memberikan dukungan peralatan bagi tenaga medis, pembuatan RS darurat hingga mengupayakan RS rujukan untuk pasien Covid-19.

Selanjutnya, pemerintah juga sudah memberikan jaring pengaman sosial terhadap aktivitas sosial dan ekonomi. Itu dilakukan dengan tujuan agar masyarakat masih tetap bisa menjaga konsumsi.

Adapun beberapa jaring pengaman sosial yang sudah dilakukan adalah peningkatan dan perluasan PKH, peningkatan dan perluasan kartu sembako, penambahan dan fleksibilitas kartu prakerja, hingga bantuan langsung tunai yang bersifat lainnya.

Keterkaitan pemikiran ekonomi naqvi dengan ekonomi masa pandemi ini dapat menjadi pandangan yang baik bagi sesorang muslim, bahwa etika ekonomi islam itu penting untuk mengelola ekonomi atau bisnis.

Baik di masa seperti ini ataupun tidak, saling menghargai dan memberikan konsumen dengan pelayanan yang baik dapat menjadi poin penting dalam menjalani usaha.

Memihak orang-orang yang mempunyai keterbatasan dalam ekonomi tidak hanya dilakukan oleh pemerintah untuk menanggulangi masa pandemi, namun pada masyarakat yang mampu pun bisa menyalurkan hartanya kepada yang membutuhkan.

Kebijakan pemerintah dalam menanggulangi ekonomi yang semakin menurun sangat terkait dengan pemikiran naqvi yang ketiga bahwa dibutuhkannya suatu peran utama negara di dalam kegiatan ekonomi.

Beberapa pemikiran Naqvi dapat menjadi pedoman tersendiri bagi masyarakat maupun pemerintah untuk menjadi manusia yang bijak dalam berekonomi.