Panitia Workshop
1 tahun lalu · 370 view · 5 menit baca · Budaya 95214_91380.jpg
Luthfi Assyaukanie saat memberi penjelasan seputar tema workshop "Kertas dan Peradaban". (Foto: Qureta)

Keterkaitan Kertas dan Peradaban

Serial Workshop & Pelatihan Menulis Qureta – APP Sinar Mas sering memicu tanya. Terutama dari para peserta workshop dan lomba menulis esai, pertanyaan itu terkait dengan tema besar yang diusungnya, yakni Kertas dan Peradaban.

“Banyak orang salah paham, bahkan tidak mengerti tema yang kami usung. Yang sering mereka lontarkan terkait tema adalah apa hubungan kertas dengan peradaban; bagaimana kertas mempengaruhi lahir dan berkembangnya kehidupan manusia,” terang pendiri Qureta Luthfi Assyaukanie dalam sesi pertama Workshop & Pelatihan Menulis di Quest Hotel, Surabaya, 12 Desember 2017.

Dalam paparannya, Luthfi mencoba memberi penjelasan terkait tema besar yang Qureta dan APP Sinar Mas jadikan sebagai topik utama, baik dalam workshop dan pelatihan menulis, maupun dalam lomba esai. Bahwa antara kertas dan peradaban, keduanya punya keterkaitan satu sama lain, yang sayangnya jarang orang pahami dan malah sering buatnya bingung.

Tentang ini, Luthfi mengawali topik bahasannya tentang sejarah peradaban dan umat manusia. Tentu saja, versi penjelasan yang disampaikannya berdasar pada sains atau ilmu pengetahuan, bukan pada versi agama-agama semitik yang lebih banyak mitos-mitos, hikayat-hikayatnya itu.

“Kadang dalam kehidupan sehari-hari, atau dalam tulisan, kita sering temukan bagaimana orang memaknai peradaban dan kebudayaan itu sama. Misalnya, kalau kita mengatakan orang itu beradab, itu sama dengan kita mengatakan orang itu kurang berbudaya. Bisa, bisa begitu. Karena dalam peradaban itu ada juga unsur-unsur kebudayaannya.”

Akan tetapi, jika ditelaah secara filosofis, perbedaan keduanya tampak signifikan. Peradaban biasanya menyangkut pola laku manusia secara umum, sementara kebudayaan sebatas mengedepankan hal-hal spesifik dalam kehidupan sehari-hari manusia saja.

“Secara etimologis, peradaban yang diambil dari kata adab ini erat kaitannya juga dengan etika, akhlak, etos kerja, dan lain sebagainya. Di bahasa Arab, misalnya, peradaban disebut hadharah, sesuatu yang hadir, sekarang, present time.”

Adapun dalam bahasa Inggris, peradaban disebut civilization, berasal kata dari civil atau civility.

Civil ini sama dengan city. Maknanya adalah sesuatu yang beradab, yang bersifat urban, kekota-kotaan. Jadi, yang namanya peradaban itu adalah sesuatu yang bersifat kekota-kotaan.”

Peradaban Lahir dari Waktu Senggang

Yang memukau perhatian peserta dari penjelasan Luthfi tentang peradaban ini adalah soal asal-muasal lahirnya. Menurutnya, peradaban lahir dari waktu senggang, waktu jeda, pengangguran, atau leisure time.

Dengan kata lain, yang menciptakan peradaban adalah orang yang basic need-nya sudah terpenuhi, kemudian punya banyak waktu senggang untuk berpikir secara luas. Seperti Mark Zuckerberg atau Bill Gates, merekalah orang-orang yang punya waktu banyak untuk itu. Mereka telah mencipta peradaban yang hari ini bisa dinikmati oleh hampir seluruh manusia di bumi.

“Peradaban itu muncul dan diciptakan dari waktu senggang. Mereka punya leisure time yang banyak adalah mereka yang mencipta sesuatu yang berharga buat manusia lainnya.”

Meski banyak juga yang berakhir merugikan manusia sekitarnya, tapi bisa dipastikan, yang merugikan itu karena kebutuhan dasarnya memang belum terpenuhi. Mungkin dasar ini yang juga memicu mengapa banyak pejabat melakukan korupsi, karena urusan perut mereka memang belum beres.

“Yang sudah terpenuhi, ketika memikirkan sesuatu, pasti akan berpikir melampaui dirinya. Peradaban lahir dari orang-orang seperti ini.

Sebelum beralih membangun peradaban, dalam sejarahnya, kita tahu semua, manusia hidup nomaden. Mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Mereka tak pernah berpikir membangun sesuatu di tempat yang mereka tinggali untuk hidup, karena sifatnya sementara.

“Manusia, sebelum membangun peradaban, hidup secara nomaden. Itulah lawan dari peradaban yang sesungguhnya. Itu kelanjutan dari fase animalia manusia, manusia sebagai hewan.”

Terkait manusia sebagai hewan ini, dalam sains atau ilmu pengetahuan, manusia memang berdefinisi sebagai thinking animal. Baik dalam logika Aristotelian atau Islam (Ilmu Mantiq), manusia disebut sebagai hewan yang berpikir.

“Jadi, manusia itu kategorinya hewan. Manusia adalah bagian dari keluarga kera besar: Gorilla, Simpanse, Bonobo, Orangutan, dan Homo Sapiens (manusia)."

Adapun alasan mengapa dulu manusia (purba) gemar berpindah-pindah tempat (nomaden), terang Luthfi kembali, lantaran saat itu manusia belum mengenal “konsep menyimpan”. Manusia purba hanya tahu bagaimana menggunakan atau mengonsumsi sesuatu. Mereka belum mampu memikirkan bagaimana menghasilkan sesuatu yang dapat didomestikasi (dibudidayakan) untuk kelanjutan hidupnya ke depan.

“Orang nomaden tidak pernah berpikir membangun sesuatu. Hingga pada suatu ketika, tentu fasenya panjang, manusia mulai berpikir untuk menetap. Itu bermula di daerah Mediterania, yang kawasan wilayahnya sangat subur. Mereka tanam gandum, merawat dan memanennya. Peradaban bermula dari adanya konsep membangun sesuatu dan merawat ini.”

Meskipun sudah mengenal konsep menyimpan, membangun dan merawat basic need, ternyata peradaban di masa ini belum juga muncul secara riil. Kesibukan orang untuk mengumpulkan makanan belum memungkinkan mereka untuk mencipta peradaban.

“Kebudayaan dan peradaban baru terpikirkan ketika perut manusia sudah teratasi. Ketika waktu senggang ada di mana-mana, di sanalah orang mulai berpikir membangun relasi kehidupannya dengan yang lain.”

Ya, kalau orang sudah terpenuhi kebutuhan dasarnya, tidak disibukkan lagi oleh perkara perut, maka dipastikan ada hal-hal kreatif lainnya yang akan mereka cipta. Tidak lagi sebatas untuk dirinya sendiri, tapi juga demi kepentingan orang lain yang ada di sekelilingnya.

“Negara atau sistem masyarakat dan agama lahir dari sana. Semua produk pemikiran manusia lahir dari waktu senggang ini. Jadi, jangan remehkan orang-orang pengangguran, bukan dalam arti yang sibuk mencari kerja, tapi yang banyak memikirkan hal-hal lain selain urusan perutnya lagi.”

Kertas dan Penggunaannya

Baru setelah manusia menetap, kemudian mencipta sistem sosial, dari sanalah pertumbuhan manusia terus berkembang. Dengan hadirnya peradaban, karena sudah menetap di kota, maka manusia terus mencipta banyak sekali instrumen yang dapat mendukung kelanjutan relasi hidupnya dengan yang lain, baik dalam aspek kesehatan, ekonomi, maupun ilmu pengetahuan.

“Yang paling penting dalam perjalanan peradaban manusia adalah terciptanya tulisan. Dan orang pertama yang memperkenalkan tulisan adalah yang suka mencatat utang-utang. Sejarah tulisan bermula dari pencatat utang-piutang ini.”

Seiring perkembangan tulisan, medium untuknya pun berkembang pesat. Berawal untuk tujuan penyebaran ilmu pengetahuan, kertas kemudian diproduksi secara besar-besaran. Peradaban manusia kian menggeliat, terutama setelah Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak.

Akan tetapi, di era digital yang sudah semakin pesat juga ini, peran kertas untuk ilmu pengetahuan tidak lagi sebesar saat pertama kali ditemukannya. Meski begitu, kertas tetap saja sangat dibutuhkan umat manusia, jadi kebutuhan besar masyarakat modern hari ini.

“Ini sesuai kaidah yang ada. Semakin modern orang, semakin manusia beradab, maka semakin dia akan tergantung pada kebutuhan terhadap kertas. Orang yang semakin modern, akan semakin banyak menggunakan kertas.”

Dan benar. Penggunaan kertas hari ini bukan lagi sekadar untuk bidang baca-tulis atau pertukaran informasi saja, melainkan yang lebih besar adalah digunakan untuk kebutuhan sehari-hari manusia, terutama untuk penggunaannya sebagai pembungkus dan pembersih. Tak ayal jika permintaan akan kertas semakin melambung tinggi, bahkan ketika masuk di era teknologi yang pesat sekalipun.

Dari paparan Lutfhi di atas, tampak jelas kaitan antara kertas dan peradaban. Bagaimana peradaban manusia menghasilkan tulisan, perkembangan tulisan menghasilkan kertas sebagai mediumnya, hingga akhirnya penggunaan kertas bertransformasi sedemikian rupa demi tuntutan zaman.