2 tahun lalu · 305 view · 4 menit baca · Politik quantum_plasma_sphere-4.jpg
Politik dalam bahasa fisika kuantum

Keterikatan Kuantum dalam Dunia Politik dan Anak Muda

Pada tahun 1935, tiga fisikawan tersohor yaitu Albert Einstein, Boris Podolsky, dan Nathan Rosen melakukan sebuah eksperimen yang hingga kini menjadi salah satu teori yang paling menarik untuk dibahas. Eksperimen tersebut dinamakan EPR—singkatan dari Einstein, Podolsky, dan Rosen. Dalam eksperimen tersebut, dua partikel subatomik (contohnya elektron) yang bergelombang secara selaras dipisahkan dengan jarak yang relatif jauh.

Dalam eksperimen tersebut, Einstein menemukan hasil yang mencengangkan bahwa informasi yang ada dalam dua partikel tersebut mampu berpindah seketika; saat sifat dari satu partikel diubah, maka sifat partikel yang satunya akan ikut berubah seketika itu juga. Fenomena ini kini dinamakan keterikatan kuantum, dan Einstein menyebutnya sebagai a spooky action at a distance.

Konsep dan eksperimen ini disederhanakan kembali dalam salah satu postingan fisikawan tersohor Indonesia, yaitu Yohanes Surya di halaman Facebook-nya. Dalam postingan tersebut, beliau mengumpamakan konsep dari fenomena keterikatan kuantum dengan tiga kejadian sehari-hari; dua orang kembar, pasangan yang saling rindu, dan pasangan yang selingkuh.

Dalam contoh ini, beliau menjelaskan bagaimana jika salah satu dari pasangan kembar merasa sakit, yang satunya juga akan merasa begitu. Jika seorang lelaki merasa rindu dengan pacarnya, maka pacarnya juga akan merasakan rindu. Sebaliknya, jika lelaki tersebut selingkuh, maka si pacar tiba-tiba akan terusik nalurinya. Semua terjadi dengan seketika, dalam kecepatan yang lebih cepat dari cahaya.

Kalau kita ingin membedah perumpamaan Pak Yohanes, maka kita bisa mengandaikan otak sebagai sebuah organ yang terdiri dari sel-sel saraf, dan sel-sel tersebut pada tahap terkecilnya tentu juga terdiri dari partikel-partikel subatomik, karena memang bagian terkecil dari semua zat di alam semesta ini adalah atom, dan atom tersusun dari partikel-partikel subatomik. Maka, bayangkanlah otak manusia sebagai kumpulan dari beribu triliun partikel subatomik yang bergelombang.

Dari situ kita bisa mengatakan bahwa jika semua tindakan, aktivitas, bahkan emosi manusia berasal dari otak, maka tentu segala hal tersebut akan menimbulkan pola berbeda pada susunan sel-sel saraf otak. Perbedaan pola tersebut tentu juga mengakibatkan adanya perubahan pada sifat partikel-partikel subatomik penyusun sel-sel saraf otak.

Gerakannya, panjang gelombangnya, putarannya, atau sifat lainnya akan berubah mengikut perubahan pola sel-sel yang tersusun darinya. Maka dari penjabaran ini, kita bisa menyimpulkan secara kasar bahwa beremosi, bertindak, hingga berbicara dan berkata-kata bermakna mengatur sifat-sifat partikel subatomik yang menyusun sel saraf otak kita.

Lalu, apakah ada hubungannya dengan politik?

Politik, seperti yang kita semua tahu, adalah sebuah seni interaksi. Tak jarang kita melihat seorang politikus malah karena saking antusiasnya dalam melakukan seninya, ia malah terlihat seperti seorang promotor MLM.

Hanya saja, jika promotor MLM menawarkan Anda sebuah produk sehat yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit dengan testimoni pengguna sebagai bukti dan juga peluang bisnis tanpa melakukan banyak kerja, politikus tentu saja menawarkan manifesto-manifesto politiknya yang dijamin bisa mensejahterakan hidup anda dan sekalian umat manusia.

Bahasa kasarnya, pencitraan. Masih ingat kan, kata-kata yang kerap didengungkan 2 tahun yang lalu itu, terkait seorang petugas partai politikus yang saking ndeso-nya sekarang jadi presiden?

Interaksi dengan orang lain pada asasnya adalah sebuah usaha untuk menyelaraskan gelombang partikel subatomik pada sel saraf otak kita dengan mereka. Gerakan, pilihan kata, dan cara berekspresi sangat menentukan disini. Semakin kita lihai memainkan itu semua, semakin besar peluang kita untuk bisa “terikat secara kuantum” dengan orang lain dan sedikit banyaknya selaras dengan mereka.

Kita bisa membuktikannya dengan bagaimana para pendukung sebuah calon presiden kerap merasa sakit hati jika melihat calon dukungannya dijelek-jelekkan atau kalah. Ketika seseorang melihat calon presidennya dijelekkan media, maka orang tersebut akan merasa sakit hati seketika itu juga. Itu nampaknya mengindikasikan bahwa sudah ada keterikatan kuantum di antara sang capres dan pendukungnya.

Lalu, bagaimana kaum muda dapat berperan dengan adanya penjabaran di atas?

Kita tidak bisa memungkiri bahwa kaum muda memiliki kapasitas kerja otak yang paling tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa kerja otak paling tinggi itu dimiliki oleh anak muda berusia 25 tahun. Berarti, tinggi pulalah jumlah sel saraf yang aktif.

Jumlah yang tinggi ini tentu saja memungkinkan untuk mendapatkan intensitas keterikatan kuantum yang tinggi pula. Apa yang bisa kita simpulkan dari sini? Bahwa dalam perihal persuasi hingga lobi-melobi yang tentunya menjadi salah satu tiang kesuksesan politik, anak muda memiliki keuntungan yang tinggi.

Hal ini sudah kita lihat secara jelas bukti-buktinya. Walaupun kursi kekuasaan kerap dikuasai oleh para kaum tua, banyak kemajuan-kemajuan politik yang ditimbulkan oleh kaum muda hanya dengan modal persuasi. Timses-timses dibalik berbagai calon kepala daerah atau bahkan negara cukup banyak memiliki kaum muda di dalamnya.

Tentu, kita tidak bisa memungkiri bahwa pada asasnya mereka juga “diikat secara kuantum” oleh calon jagoan mereka. Tetapi siapa yang ikut berperan mengikat ribuan hingga jutaan rakyat lainnya dalam satu keselarasan kuantum, jika tidak kaum muda tersebut?

Lalu yang sekarang sedang panas-panasnya; pilkada DKI. Dua dari tiga cagub yang maju bisa dibilang relatif muda, yaitu Anies Baswedan dan Agus Yudhoyono. Baik keduanya memiliki peluang untuk melakukan keterikatan kuantum dengan rakyat. Ekspresi, gestur, dan pilihan kata-kata Pak Anies akan begitu mudah membuat partikel subatomik pada sel saraf orang bergelombang selaras dengan yang ada dalam dirinya, memudahkan hubungan simpati-empati yang penting dalam persuasi politik.

Begitu pula dengan Mas Agus. Beliau bahkan sudah memiliki wajah (yang tentu tersusun dari sejenis pola partikel subatomik) yang begitu mudah selaras dengan partikel subatomik sel saraf otak orang lain, atau dalam bahasa ringannya; ganteng.

Bagaimana dengan Pak Ahok? Oh tentu, beliau juga memiliki karakterisik begitu. Tetapi usia beliau yang sudah mencecah kepala lima menghalangi saya untuk membahasnya bersama Pak Anies (akhir kepala empat) dan Mas Agus (akhir kepala tiga). Pada intinya, saya hanya ingin mengatakan bahwa secara fisika kuantum pun, kaum muda memang terbukti memiliki peluang yang baik dalam berpolitik. Ya, begitulah.

#LombaEsaiPolitik

Artikel Terkait