Kekhawatiran akan terjadinya aktivitas seks pranikah sejatinya telah masuk pada taraf mengkhawatirkan. Hal tersebut tidak hanya menjadi kegelisahan bagi masyarakat perkotaan saja. Pada masyarakat kota kecil maupun lingkungan pedesaan, fenomena kehamilan sebelum pernikahan juga mulai marak. 

Jika pada tahun 2007 muncul film yang mengisahkan kenakalan remaja dengan judul “Jakarta Undercover”, sepertinya saat ini boleh dikatakan bermunculan “undercover-undercover” dari daerah lainnya.

Data yang dirilis Global Girlhood Report 2020 mencatat dugaan terjadinya kehamilan pada 1,04 juta perempuan remaja di dunia.

Tentu saja kehamilan tersebut diawali dengan aktivitas seks pranikah yang seharusnya dicegah baik dalam perspektif sosial, budaya maupun agama.

Padahal, kehamilan pranikah khususnya yang terjadi pada pasangan di bawah umur merupakan salah satu hal yang mendapat perhatian serius dari pemerintah. 

Penelitian yang dirilis Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan bahwa anak perempuan berusia 10-14 tahun memiliki kemungkinan meninggal lima kali lebih besar selama kehamilan atau melahirkan ketimbang perempuan berusia 20-25 tahun.

Itulah mengapa pemerintah menargetkan penurunan angka perkawinan anak menjadi 8,74% pada 2024. Selain itu, Presiden Joko Widodo menetapkan isu pencegahan perkawinan anak sebagai salah satu prioritas yang harus dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. 

Sebagai data pembanding, mengutip Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia, sepanjang tahun 2020, terdapat 64,2 ribu permohonan dispensasi nikah yang dikabulkan oleh pengadilan agama. Meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 23,1 ribu.

Meskipun harus diakui tidak semua permohonan dispensasi nikah dilandasi kehamilan, namun perlu kita pahami juga bahwa terdapat berbagai pertimbangan hukum (legal reasoning/tasbib al ahkam) dalam memutuskan dispensasi nikah.

Di antara pertimbangan hukum tersebut adalah adalah terjadinya kehamilan, telah melakukan hubungan suami istri, atau memiliki hubungan yang sangat erat sehingga muncul kekhawatiran akan terjerumus pada perbuatan zina.

Kehamilan yang terjadi sebelum pernikahan menjadi salah satu alasan yang muncul dalam pengajuan dispensasi nikah. Dalam hal ini, hakim akan dihadapkan pada pilihan antara aturan dan menghindari mafsadat atau kemudharatan baik bagi calon pengantin maupun janin dalam kandungan. 

Dengan pendekatan “dar’ al-mafasidi aula min jalb al-mashalihi”, bahwa menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan, maka permohonan dispensasi nikah-pun disetujui.

Pengaruh Keluarga Terhadap Perkembangan Anak

Sebagai unit sosial terkecil tempat seorang anak tumbuh berkembang, keluarga tentu memiliki peran yang sangat besar, terutama dalam menyiapkan anak sebagai generasi penerus bangsa. 

Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tantang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, mengamanatkan penduduk sebagai modal dasar pembangunan. Setiap keluarga dan individu di dalamnya merupakan titik sentral dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Anak akan memiliki perkembangan yang optimal jika fungsi keluarga dapat dilaksanakan secara utuh. Terdapat delapan fungsi keluarga menurut BKKBN, yakni fungsi agama, sosial budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan, reproduksi, pendidikan, ekonomi, dan fungsi pelestarian lingkungan.

Namun, pada era keterbukaan informasi ini, terdapat sebuah anekdot yang menyatakan bahwa dunia digital telah membuka informasi dengan individu yang jauh, dan menutup informasi dari yang dekat. Orang lain yang tinggal di antah berantah bisa terlihat, keluarga di ujung mata tak tampak.

Komunikasi Orangtua dan Anak

Kembali pada persoalan aktifitas seks pranikah, sejatinya komunikasi yang baik antara orangtua dan anak bisa menjadi salah satu benteng agar hal tersebut dapat dicegah semenjak dini. 

Perlu adanya aturan-aturan yang harus disepakati bersama baik oleh orangtua maupun anak terkait penggunaan sarana digital akses informasi, antara lain handphone. Aturan tersebut harus dipahami dan dilaksanakan bersama, bukan hanya oleh anak namun juga oleh orangtua sebagai bentuk keteladanan.

Saling terhubung pada media sosial juga menjadi hal yang perlu dilakukan. Setidaknya pada beberapa media sosial yang bersifat interaktif mulai dari facebook, instagram dan sejenisnya, perlu saling menambahkan teman, mengikuti maupun bentuk keterhubungan lainnya.

Dengan saling terhubung, maka antara orangtua dan anak dapat saling berbagi, sharing bersama dan  dan mengamati postingan, komentar maupun aktifitas lain yang dilakukan.

Melarang anak berhubungan dengan media sosial bukanlah solusi, karena memang dunia anak saat ini adalah dunia yang bersifat hybird antara alam realita dan alam maya.

Yang perlu dilakukan adalah adanya pengawasan agar tidak terjebak pada bagian gelap dari dunia hitam, misalnya cyberbulliying, cyberporn, toxic, dan hal negatif lainnya.

Terakhir, yang tak kalah perlu dilakukan adalah komunikasi secara langsung antara orangtua dan anak terkait berbagai hal dalam kesehariannya. Pergi ke mana, dengan siapa saja, serta berbagai hal lain yang dilakukan baik oleh orang tua maupun anak. 

Momentum tersebut dapat dilakukan saat santai usai makan malam, pada hari libur, maupun di sela-sela waktu beristirahat.  

Orangtua yang baik tentu selain menjadi wasilah kelahiran anak, ia juga dituntut untuk menjadi teman, sahabat, guru, partner, dan profil-profil lain dalam rangka memaksimalkan tumbuh kembang fisik maupun psikis anaknya.