Dalam dunia pendidikan banyak disinggung pencapaian-pencapaian kognitif namun sering kali melupakan unsur kemahiran berbahasa. Banyak terjadi, pada akhirnya, keadaan itu justru  bisa menghambat proses belajar yang berkesinambungan karena pelaku pembelajaran baik siswa maupun guru tidak mampu mengekspresikan pengetahuan yang diperoleh disebabkan tersendatnya proses interaksi.

Terhentinya rasa ingin tahu seorang anak biasanya disebabkan oleh kekeliruan guru dalam berdialog saat berada  di ruang kelas. Kebanyakan penyebabnya karena guru begitu mendominasi proses interaksi dalam proses pembelajaran. Kondisi yang seperti ini mematikan kreativitas siswa untuk mengungkapkan perasaan dan ide yang pada akhirnya mereka menjadi pasif dalam belajar.

Kemahiran berbahasa sebangun dengan kemampuan berempati. Tentu akan terjadi  sebuah komunikasi yang kaku apabila kita tidak bisa merasakan dan memahami siapa yang sedang kita ajak berbicara. Seperti yang kita tahu, Intonasi dan gaya bertutur seseorang akan menunjukkan tingkat kecerdasan Intelektual, kematangan Psikologi, dan ketrampilan  sosial seseorang.

Sebagai jembatan dalam proses pembelajaran, bahasa mengambil peran penting agar transformasi pengetahuan menghasilkan hasil yang maksimal. Bertolak dari sinilah buku Bahasa Mencerdaskan Bangsa: Panduan Berbahasa Berbasis Metode Sentra untuk guru dan orang tua mencoba menggali lagi arti penting berbahasa untuk menggali lebih maksimal kemampuan anak anak agar ketrampilan pada diri anak berjalan lancar dan maksimal.

Dalam metode sentra yang dirancang oleh Pamela C. Phelps, Ph.D., proses pembelajaran bukan lagi menitik beratkan pada guru. Guru adalah fasilitator yang dituntut menguasai materi juga kreatif untuk merangsang anak mengeksplorasi kemampuannya. Yang lebih penting lagi dalam metode sentra adalah tidak mengesampingkan peran orang tua dalam proses pembelajaran.

Dalam kaitannya kemampuan berbahasa guru dan orang tua harus memahami tingkat perkembangan kemampuan anak di mana saat berbicara dengan anak, mereka harus berbicara sesuai dengan tingkat perkembangan logika dan nalar anak. Sebagai contoh pemberian arahan pekerjaan anak usia tiga tahun berbeda dengan instruksi untuk anak yang berusia empat atau lima tahun.

Salah satu ciri khas metode sentra adalah pemberian materi secara tematik. Karena pembelajaran berbasis tema, maka penguasaan bahasa seorang guru khususnya dalam pemilihan kosakata yang berhubungan dengan tema tersebut harus cukup dan memadani.

Yanto Musthofa, penulis buku ini menganjurkan agar guru mempunyai kemampuan untuk mengantarkan dan merangsang minat anak untuk mempelajari pengetahuan dalam materi tema. Keterampilan itu mencakup teknik memilih kalimat pembuka pada saat proses pembelajaran, mengatur intonasi suara, sampai memilih jenis-jenis pertanyaan yang tepat untuk memelihara antusiasme dan keterlibatan setiap anak (hal. 144).

Sedikit kekurangan yang agak mengganggu dalam buku yang diperuntukkan bagi guru dan orang tua ini adalah terlalu banyaknya pembahasan teknis sebagai pijakan sebelum masuk ke how to sebagaimana judulnya, panduan berbahasa berbasis metode sentra.

Tak kurang terdiri dari 4 bab yang khusus membahas kerangka teori yang bagi penulis tentu akan menyulitkan orang tua bila harus membaca buku ini sejak awal. Buku yang terdiri dali 8 bab ini membahas strategi berbahasa di dalam proses pembelajaran ketika memasuki bab 5 hingga bab 8.

Karena untuk konsumsi umum, tentunya akan lebih mengena dan ringan dibaca bila kerangka teori dibahas sedikit saja, bisa satu atau dua bab tak lebih. Dan mungkin bisa ditambahkan ilustrasi proses pembelajaran metode sentra sehingga pembaca, khususnya orang tua, bisa lebih mudah mencerna konteks pembahasan.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, buku yang ditulis oleh mantan wartawan nasional yang kini khusuk total menjadi pengajar di Sekolah Batutis Al-Ilmi, Sekolah gratis untuk kaum duafa di Bekasi, telah memberikan wacana baru bahwa ketrampilan berbahasa adalah unsur penting yang tidak bisa diabaikan.  

Last but not least, sebagaimana disampaikan oleh sastrawan senior Yudhistira ANM Massardi dalam pengantar buku ini bahwa tanpa keterampilan mendasar yaitu berbahasa Indonesia yang baik dan benar, maka tak ada jalan perbaikan di dunia pendidikan. Bahasa menunjukkan masa depan bangsa dan karenanya kemampuan berbahasa harus dibangun sejak anak usia dini. Selamat membaca.

Judul: Bahasa Mencerdaskan Bangsa | Penulis: Yanto Musthofa | Penyunting: Yudhistira ANM Massardi | Penerbit: Yayasan Batutis Al-Ilmi Bekasi | Tahun: Januari 2017 | Halaman: xxii+190 hlm. | ISBN: 978-602-60854-0-5