Mulutmu harimaumu. Begitu ungkapan yang sering menjadi pengingat kita untuk selalu berhati-hati saat berbicara. 

Di era seperti sekarang ini, saat semua saluran informasi sangat mudah menangkap dan menyimpan ujaran kita, kehati-hatian dalam berbahasa harus menjadi pertimbangan sebelum kita terkena imbas dari ujaran kita sendiri.

Berbicara memerlukan keterampilan berbahasa seseorang agar tidak terlihat kasar dan tak berpendidikan. Meski kadar kesantunan tidak berhubungan langsung dengan tingkat pendidikan seseorang, namun keterampilan berbahasa bisa menjadi salah satu indikator untuk melihat tingkat peradaban seseorang.

Pemilihan kata-kata adalah kunci yang bisa dipakai untuk menyiasati kelemah-lembutan dalam bertutur kata. Meski kadang kala, kalau tidak hati-hati, diksi yang dipakai bahkan bisa menjadi bumerang bagi si penutur. Misalnya terlalu banyak kata asing, tak jarang keadaan ini membuat si pendengar atau pembaca menganggap penutur adalah orang yang sok.

Adab berbahasa pun perlu diperhatikan, baik melalui lisan maupun tulisan. Janganlah karena kita salah memilih kata lantas dianggap arogan, sombong, dan sok pintar. Sikap rendah hati pun perlu dilakukan dalam berbahasa. Ini dikarenakan bahwa apa yang kita sampaikan akan lebih mengena jika dilandasi sikap rendah hati.

Melihat dan mendengar apa yang menjadi ujaran akhir akhir ini, sering kali kosakata yang muncul adalah kata-kata yang sarkasme dan cenderung kasar mengkritisi seseorang. Tentunya keadaan ini harus bisa kita minimalkan dengan tidak ikut terlibat di dalamnya.

Sebagai bangsa yang beradab dan menjunjung tinggi nilai sopan santun, marilah memulai dari cara kita berbicara dan menulis. Jangan meniru seperti apa yang kita tonton di media elektronik, terutama kata-kata yang disampaikan oleh juru kampanye.

Ikut mendinginkan suasana kampanye dengan tulisan maupun perkataan akan lebih bermanfaat lebih lama daripada sekadar ikut meramaikan suasana yang kita sendiri tak mengetahui duduk persoalannya. 

Keterampilan Berbahasa Menunjukkan Identitas Penuturnya

Berbahasa sering kali dianggap bisa mencerminkan tingkat kesantunan seseorang. Orang yang lemah lembut dalam bertutur kata akan terlihat lebih berwibawa. 

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali, dalam berkomunikasi, kita terbawa bukan oleh penampilan lawan kita dalam berkomunikasi, tetapi lebih sering oleh olah tutur lawan kita dalam berbahasa.

Seburuk apa pun penampilan seseorang, bila yang bersangkutan sudah berdialog dengan kita, maka secara tidak langsung anggapan kita terhadap orang tersebut akan berubah begitu kita mendengar cara bertutur katanya. Dalam bertutur kata, baik diksi maupun cara penyampaiannya, memang bisa kita tebak, walaupun tidak mutlak, bagaimana perilaku orang tersebut bertindak dan berperilaku sehari-hari. 

Orang yang sering berkata kasar tentunya akan membawa anggapan pada orang yang mendengarkannya bahwa orang tersebut sering bertindak kasar dan sering menghalalkan segala cara. Demikian juga sebaliknya, bahwa orang yang cara bertuturnya tertata, runtut, serta lemah lembut pembawaannya, bisa dipastikan bahwa orang tersebut adalah orang yang mengerti sopan santun.

Dalam berbahasa Indonesia pun demikian, walaupun tidak seperti di bahasa daerah, kesantunan dalam berbahasa masih bisa kita amati, baik itu melalui cara penyampaian maupun cara pemilihan katanya. 

Sebagaimana bahasa daerah, Bahasa Indonesia pun mempunyai kata-kata yang dimaksudkan untuk lebih melembutkan pemaknaan agar tidak terkesan kasar bagi penerimanya. 

Misalnya, frasa "meninggal dunia" lebih sering digunakan untuk menggantikan kata "mati" atau "wafat". Begitu pula kata "diamankan" lebih sering digunakan untuk menggantikan kata "ditangkap". Itu adalah dua contoh kecil penggunaan bahasa Indonesia yang sudah sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. 

Bagi penggunanya, dua contoh di atas bukan dimaksudkan untuk memanipulasi arti atau maksud dari pesan yang disampaikan, namun semata-mata untuk lebih melembutkan kesan yang diterima oleh penerima pesan agar lebih tenang menyikapinya. 

Bisa kita bayangkan bagaimana perasaan seseorang yang diberitahu bahwa kerabatnya atau teman dekatnya telah mati dengan kata-kata, "Maaf, istrimu telah mati." Tentu perasaan orang tersebut akan lebih campur aduk dalam menyikapi pesan yang disampaikan. Tentu akan lebih menyejukkan apabila pemberitahuan itu disampaikan dengan cara, "Ibu dari anak anakmu telah meninggal dunia, kami turut berbela sungkawa."

Sudah banyak contoh yang bisa kita amati, baik secara langsung maupun tidak langsung (melalui media elektronik), bahwa orang-orang yang terkenal santun perilakunya, dalam setiap penampilannya, hampir dipastikan akan selalu terlihat tenang cara bertutur katanya serta baik pemilihan katanya. 

Dalam berbahasa, kita memang dituntuk untuk berbahasa secara benar dan tepat, namun bersopan santun dalam berbahasa pun harus diperhatikan agar persepsi penerima pesan yang hendak menerima pesan yang  kita sampaikan tidak negatif terhadap kita. Dengan berbahasa yang sopan, baik, dan benar, itu bisa memcerminkan siapa kita sesungguhnya; apakah kita termasuk orang yang beradab atau orang tak beradab.