Kedua orang teman saya, menceritakan detail kejadian mengenai buah hati mereka yang sakit dikarenakan virus. Betapa bingung dan sedihnya mereka melihat bayi kecil mereka menangis gelisah dengan suhu badan yang tinggi. Mendengar cerita itu terfikir oleh saya bagaimana bayi kecil itu melewatinya?.

Kedua ibu tersebut tentu menyikapinya dengan cara yang berbeda, karena perbedaan watak dan kebiasaan. katakanlah ibu A, sehari harinya selalu ditemani oleh keluarga yang ramai dan terbiasa dibantu oleh sanak famili yang ada dirumah tersebut. ketika mengalami persoalan, ibu A hanya berdua saja dengan sang bayi yang rewel dan gelisah dengan suhu tubuh yang tinggi.

Ketika itu, ibu A merasa sangat cemas dan memutuskan untuk membawa buah hatinya ke rumah sakit. Sesampainya di rumahsakit sang bayi mendapatkan pemeriksaan sesuai prosedur. Mulai dari pengecekan suhu badan, detak jantung hingga pengambilan darah.

Alangkah sedihnya saya membayangkan bayi kecil harus ditusuk jarum dan diobservasi sekian banyak untuk memastikan penyakit apa yang sedang diderita. Dengan alasan untuk memastikan itulah para ahli itu melakukan rangkaian pemeriksaan yang panjang. Betapa melelahkannya bagi seorang bayi.

Terdapat ciri pada kedua bayi itu. Bercak bercak merah pada sekujur tubuhnya seperti sakit campak, suhu tubuh tinggi. Tidak mau makan, rewel dan gelisah. 

Lain halnya dengan ibu B, menyikapi sang buah hati dengan tenang walaupun tidak dipungkiri kebingungan pasti dirasakan pula olehnya. Namun karena watak dan kebiasaan yang tenang, menghadapi persoalan dengan hati hati dan fikir panjang. Akhirnya ibu B memutuskan menyembuhkan anaknya dengan caranya sendiri.

Ibu B melakukan rangkaian pengobatan alami. Dengan proses ilmu gizi, afirmasi dan pelukan cinta kepada buah hatinya. Diawali dengan tarik nafas yang panjang dan fikiran positif, walaupun perasaan positifnya belum teratasi dengan baik karena perasaan was was masih menderanya.

Perasaan tidak menentu itu teratasi ketika ibu B mulai mencari tahu tentang penyakit apa yang sedang diderita putri kecilnya. Ternyata akibat virus roseola. Apa itu virus roseola? dari mana tertularnya? dan bagaimana penyembuhannya?.

Roseola (Exanthema subitum) adalah infeksi virus yang ditandai dengan demam dan kemunculan ruam merah pada permukaan kulit. virus ini sering menyerang bayi dan anak anak berusia 6-24 bulan. roseola pada umumnya tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya, hanya menimbulkan rasa tidak nyaman.

Penularan virus ini terjadi melalui percikan air ludah atau cairan penderita yang tertelan oleh orang lain. Roseola ini disebabkan oleh infeksi virus herpes. Virus HHV-6 (Human herpesvirus tipe 6) atau HHV-7. 

Virus ini juga dapat tertular dari dari benda yang sudah terkontaminasi tersentuh tangan oleh penderita. Pada umumnya terkena virus mudah disembuhkan. Dengan cara meningkatkan daya tahan tubuh dan pikiran yang tenang juga menyebabkan perasaan menjadi tenang.

Ibu B mulai dengan proses meracik bahan bahan alami, seperti: udang, tomat,sayur bayam yang dihaluskan dan tanpa penyedap rasa. Ditambah jus jeruk baby yang diberikan kepada anaknya sesuap demi sesuap dengan sentuhan kasih sayang. Kalimat afirmasi seperti “sembuh ya nak” dan sebagainya. 

Yang paling terpenting sang ibu yakin anaknya akan sembuh dengan proses alamiah tersebut. yakin dengan penuh, menjaga kebersihan sang anak. Merasa tenang dan kuat.

Bayi ibu B sembuh hanya dalam 1 hari, setelah dipeluk terus menerus oleh sang ibu. Diberi doa dan gizi maka naiklah daya tahan tubuh bayi dalam waktu yang cepat. Sedangkan ibu A dengan perasaan yang tidak menentu tersebut, sang buah hati masih di rawat inap selama 1 minggu.

Terdapat perbedaan yang sangat mencolok diantara kedua ibu tersebut. Perbedaan menyikapi anak yang sakit dengan cara yang tenang dan cenderung panik. Anak ibu B lebih cepat sembuh dibandingkan dengan anak ibu A. Mengapa demikian?.

Ketika fikiran dalam keadaan tenang, otak bagian depan mudah menyerap informasi, karena otak melunak. Ketika ibu merasa tenang, informasi yang didapat terserap masuk kedalam fikiran dan mampu memperaktekannya dengan tepat. Anak akan merasakan ketenangan yang sama. Anak menerima sinyal dari sang ibu melalui pembuluh meridian. 

Sedangkan ketika fikiran was was, berlaku sebaliknya. Otak menjadi tegang dan merasa buntu sehingga menimbulkan fikiran negatif dan cenderung tidak mempercayai informasi yang positif. Hal inipun bisa dirasakan oleh sang anak. Pada akhirnya fikiran was was tersebut menciptkan perasaan takut yang berlebihan dan mempengaruhi perasaan.

Perasaan was was menyebabkan terproduksinya hormon kortisol, sering disebut juga hormon stres. Hormon kortisol yang berlebihan mengaliri pembuluh darah, sehingga menyebabkan daya tahan tubuh menurun. Ibu yang was was membuat dayatahan tubuh anak menjadi menurun. 

Sebaliknya ibu yang tenang dan bahagia membuat hormon bahagia terproduksi didalam kelenjar sang anak. Hormon tersebut diproduksi oleh kelenjar pituitari. Kelenjar yang berada dibawah otak tersebut menghasilkan hormon bahagia dan cinta. menyebabkan tubuh menjadi sehat.