Rasa takut. Tidak ada yang aneh dari perasaan ini, alias manusiawi. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketakutan dalam hidupnya.

Kalau meninjau teori Marslow dalam Hierarchy of Need, perasaan takut menempati insting paling dasar atau primitif yang dimiliki setiap hewan. Artinya, juga termasuk manusia sebagai 'hewan' tingkat tinggi. Namun, setiap orang tentu memiliki sumber, objek, serta intensitas ketakutan yang berbeda-beda.

Dalam hal mengatasi rasa takut, yang membuat manusia berbeda sangat mencolok dari hewan adalah tidak lagi sesederhana rumus fight or run (lawan atau kabur), tapi manusia dengan anugerah daya kreatif yang dimilikinya dapat mengatasinya hanya dengan mengarang sebuah cerita. Bagaimana bisa?

Tentu saja hal ini sangat mungkin bisa. Sebab beberapa sumber ketakutan itu sendiri tidak hanya datang dari luar dan juga konkrit tetapi juga bersumber dari dalam pikiran yang negatif manusia itu sendiri yang bersifat abstrak. 

Umumnya, sebuah cerita dibangun guna merasionalisasikan hal-hal yang mendatangkan ketakutan guna mendapatkan kesan yang sama sekali berbeda. Sampai saat ini, kita mewarisi cerita dari masa lalu tentang cara mengatasi ketakutan terhadap petir.

Namun, bak pisau bermata dua, cerita selain dapat membuat perasaan takut menjadi hilang, juga dapat membuat rasa takut yang awalnya sedikit, dapat meruyak berkali-kali lipat. Kuncinya, tentu pada siapa dan untuk tujuan apa seorang pencerita menyampaikan suatu cerita. Selain itu, juga pada sisi si penerima apakah akan mempercayai cerita tersebut atau tidak.

Tentang rasa percaya ini, manusia memiliki kecenderung untuk bias dalam mempercayai sesuatu. Lazimnya, seseorang lebih mudah percaya kepada orang terdekat daripada orang yang tidak dikenal begitu dekat. Pun lebih cenderung percaya kepada orang dalam kelompok sendiri (in group) daripada kepada orang yang berasal dari luar kelompoknya (out group).

Sejatinya, sikap ini alamiah, tapi tidak selamanya juga baik dan menguntungkan. Dalam beberapa kesempatan bahkan dapat menjadi masalah besar, seperti menolak kebenaran yang datang luar (denial). Parahnya lagi, bila ternyata orang yang kita anggap satu kelompok memegang sebuah cerita yang keliru pula, entah itu tanpa disadari lebih-lebih disadari.

Mereka yang dengan penuh kesadaran untuk menciptakan ketakutan jelas memiliki suatu agenda tersendiri yang ingin dicapai, baik untuk tujuan finansial maupun untuk tujuan politik. 

Mereka mengunggunakan yang populer disebut dengan istilah FUD (Fear, Uncertainty, and Doubt), yakni strategi mendatangkan ketakutan, dengan menciptakan ketidakpastian, dan keraguan terhadap segala sesuatu. Lalu, di tengah kekacauan yang diciptakan, hadir bak dewi fortuna yang siap bermurah tangan membantu.

Istilah FUD sendiri memang jarang muncul dalam wacana di media-media namun dalam praktiknya telah lama digunakan. Misalnya saja ketika Hitler berusaha memurnikan Jerman dengan ras Arya, dengan menciptakan disinformasi tentang Yahudi. Lantas, dipercaya dan terjadilah genosida besar-besaran. Demikian juga dalam memurnikan suatu ajaran, para pemuka menciptakan disinformasi tentang sekte-sekte di ajarannya dan kemudian berujung pada aksi diskriminasi.

Di tengah derasnya perkembangan media informasi, strategi FUD bisa menjadi semakin mencemaskan sebab dapat dengan mudah menyelinap di situasi paling privat setiap orang ketika sedang asyik bercengkrama dengan telepon genggam masing-masing. 

Mereka yang tidak bijak, lemah literasinya, tentu akan dengan mudah dipengaruhi oleh semburan informasi-informasi yang tidak benar. Ujungnya, berakibat pada munculnya tindakan-tindakan berlebihan hingga permusuhan.

Biasanya, momen pemilu, menjadi momen paling subur untuk berkembangnya benih-benih ketakutan, ketidakpastian, dan keraguan. Hal ini tidak lain adalah permainan para politisi yang demi mendapatkan suatu jabatan, siap mengorbankan hati nurani tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi ke depannya. Alhasil, lagi-lagi masyarakat yang akan menjadi korbannya.

Ketakutan benar-benar dijual (dijajakan) sedemikian rupa untuk menjatuhkan lawan apa pun caranya. Tidak ketinggalan pula para pebisnis dan oligarki yang berkepentingan ikut menunggangi situasi. Ketika umpan bersambut maka reproduksi ketakutan akan terjadi dengan sendirinya dari fitur share. Pihak-pihak yang mengambil untung tinggal menunggu waktu yang tepat utuk memetik hasil.

Untuk terhindar dari orang yang sengaja menciptakan ketakutan ini, selayaknya daya kritis perlu ditumbuhkan. Selain itu, selalu melakukan verifikasi sebelum menelan sebuah informasi. Kemudian, berpegang pada data dan statistika daripada glorifikasi cerita. 

Terakhir, menahan diri untuk tidak menyebar informasi yang tidak jelas sumbernya. Jika setiap orang dapat melakukan ini, diharapkan tidak akan ada lagi yang akan menjadi korban dari segelintir orang yang tidak bertanggung jawab.

Bagaimana pun, rasa takut manusiawi. Rasa takut juga merupakan motif yang menggerakkan manusia. Tidak mesti rasa takut diyakini harus dihilangkan dari sifat manusia.

Sebab, kalau bukan karena takut untuk miskin, misalnya, maka tidak ada orang yang akan termotivasi untuk bekerja. Hanya saja, batasan ketakutan tersebut harus tetap berada dibawah kendali kita. Jika tidak, orang lainlah yang akan mengendalikan diri kita untuk kepentingannya.