Mahasiswa
3 minggu lalu · 279 view · 3 min baca · Budaya 75029_49518.jpg
Pixabay

Ketakutan sebagai Sumber Estetika

Memanfaatkan ketakutan personal untuk membangkitkan nilai estetika sudah ada sejak peradaban manusia dimulai.


Ketakutan yang dihasilkan oleh tindakan yang tak berbelas kasih akan mendorong individu untuk bertahan sekuat tenaga. Pun begitu, ketakutan yang tercipta atas nama cinta adalah sesuatu yang batal. Ketakutan tetaplah sebuah teror.

Cinta dan kasih itu tidak memberi ruang yang bernama "ketakutan". Namun aroma takut kepada Tuhan telah menempati posisi tertinggi dalam penciptaan estetika yang disebut dengan agama .

Pada dasarnya ketakutan adalah reaksi emosional terhadap sebuah ancaman. Ketakutan individual sama carut-marutnya dengan ketakutan massal.

Ketakutan akan Tuhan di ruang publik dan bersifat massal biasanya dikelola dalam sebuah perjumpaan massal pula. Akumulasi ketakutan massal, jika dikelola dengan "baik", akan menghasilkan kebudayaan beragama yang katanya "indah".

Oknum yang menganggap dirinya suci dapat membantu meningkatkan level ketakutan manusia kepada Tuhan. Sehingga dengan semaunya akan meminta sesuatu, memeras atas nama Tuhan. Mereka dapat menghapus rasa takut kepada Tuhan dengan berbagai macam suguhan dan upeti suci.


Dengan segebok kalam suci pula, mereka menebar ancaman jika upeti suci tidak dituruti. Mereka sungguh jeli memanfaatkan posisinya sebagai wakil Tuhan yang paling benar.

Takut juga merupakan mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu. Rasa sakit, neraka, siksa kubur, balasan amal, murka Tuhan, dan karma termasuk stimulus yang sering dijumpai di dalam masyarakat.

Oknum juga bisa memanfaatkan ketakutan kepada Tuhan untuk mencipta macam-macam perantara untuk disembahi agar ketakutan jiwa sedikit menghilang. 

Hingga lahirlah media seni visual (rupa) yang dapat menjembatani rasa takut. Sebut saja patung, bangunan peribadahan, pernik-pernik sesembahan dan seni performasi lainnya. 

Bidang estetik lainnya, seperti seni tulis pengarsipan dan pencatatan telah berlomba-lomba menghimpun kalam Tuhan dalam sebuah tampilan seni yang indah. Sedang untuk seni suara, terciptalah puji-pujian dan bacaan berseni tinggi untuk Tuhan agar tidak marah dan murka.

Estetika sering dihubungkan dengan sesuatu yang berbau seni karena mengandung keindahan yang dapat dipandang dan dinikmati. Sejak kemunculannya, estetika selalu digunakan untuk mengutarakan bahasa filsafat terhadap karya seni.

Namun ada juga yang memandang estetika sebagai sesuatu yang tidak selalu tampak indah. Untuk yang ini, sama saja, ketika ketakutan kepada Tuhan juga mendorong munculnya karya-karya seni dan budaya yang seram. 

Persembahan korban yang bernyawa, seni martir, seni penebusan dosa, hingga seni bunuh diri massal demi membela rasa takutnya kepada Tuhan adalah ejawanta rasa takut kepada Tuhan. Senyum dan murka Tuhan dalam kalam-kalam suci-Nya mereka himpun dan mereka terjemahkan dalam seni hermeneutika yang indah pula.

Perlu dicamkan bahwa keagungan dan kebesaran Tuhan bukanlah untuk menyeru manusia agar menghampiri Tuhannya dengan perasaan ngeri atau takut. Namun kisah pedih neraka, siksa kubur telah membuat manusia berlomba-lomba membuat estetika persembahan sebagai sarana untuk menghapus rasa ketakutannya.

Konsep ketakutan terhadap Sang Pencipta telah memperkuat fondasi agama yang ada di dunia. Dalam Islam dikenal dengan konsep khauf dan roja' (takut dan harap). Konsep ini timbul atas sifat yang dimunculkan yang bernama "Murka Tuhan" atau ghodob.


Hal ini ditegaskan dalam penggalan surah al-Isra ayat 57 yang berbunyi: Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang ditakuti. 

Dari rasa takut ini akan mengilhami hamba-Nya untuk mencipta estetika dalam peribadatan kepada-Nya. Tampilannya bisa berupa estetika tingkah laku, hukum, bangunan Ibadah yang penuh seni.

Untuk "hukum yang indah", Plato telah menyatakan bahwa suatu keindahan atau estetika dapat memancar dari watak yang baik. Selanjutnya, watak yang baik tersebut akan membentuk hukum yang indah.

Nasrani juga mengenal ajaran takut kepada Tuhan. Banyak ayat yang membahas bab takut kepada Tuhan.

Salah satu di antaranya di dalam Mazmur 112:1-2 telah ditegaskan: Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya, Anak cucu-Nya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati.

Estetika yang dihasilkan dari sikap takut kepada Tuhan adalah estetika kekuatan dan kekerasan. Kosmos yang mengimbangi khaos dalam pementasan-pementasan rasa ketakutan kepada Tuhan akan terus berkembang pesat.

Estetika berhasil ditunjukkan dalam bentuk yang cenderung khaotik. Tangkapan artistik dari rasa takut kepada Tuhan atau Dewa tak lain adalah ruh pembangkit  khaos dan kosmos ala Yunani kuno.

Kita tak perlu tabu menggunakan representasi keberadaan Tuhan dengan aroma ketakutan. Karena itu adalah sebuah naluri. Namun, di saat yang sama, jangan memercayai substansi rasa takut kepada Tuhan yang sengaja dihembuskan untuk kepentingan oknum.

Bentuk dan ekspresi ketakutan kepada Tuhan adalah dialektika partikular yang susah direduksi kecuali bagi para teofobia (fobia agama). Maka dari itu, yang terpenting bagi kita semua adalah janganlah kalian menjadi oknum yang memanfaatkan naluri ketakutan kita terhadap Tuhan.

Artikel Terkait