Sekilas ketika disebut nama Iblis, maka yang tebersit dalam pikiran individu yang beragama adalah sosok yang mengerikan. Mahluk yang membuat Adam terusir dari surga dengan narasi panjang yang direproduksi secara berulang, bahwa Iblis menggoda Adam melalui Hawa karena kecemburuannya terhadap keutamaan Adam di sisi Tuhan.

Keterlibatan Hawa sebagai aktor pendukung kemelut malapetaka umat manusia tersebut mengantarkan anak keturunan Hawa (dibaca perempuan) dilabeli stereotip negatif sebagai makhluk yang irasional dengan segala bentuk ketidakadilan yang dilekatkan padanya. 

Seiring dengan sejarah panjang kekuasaan patriarki di alam raya ini, maka lengkaplah derita gender kedua ini.

Menarik bila dilihat dari sisi historis, perempuan dianggap sebagai perwujudan ketidakmampuan laki-laki dalam menjaga keimanannya. Bahkan perempuan dianggap sebagai mahluk penggoda. Lantas adakah tertinggal warisan penggoda itu dari Iblis ketika ia memanfaatkan Hawa untuk menggoda Adam?

Sangatlah wajar menurut akal sehat jika Iblis melakukan upaya pemakzulan terhadap Adam. Sebab siapa yang merasa adil jika ia yang sudah ratusan tahun lamanya mengabdi kepada sesembahannya lantas dicampakan dalam waktu semalam hanya karena kehadiran makhluk yang tidak lebih superior daripada dirinya?

Dia (Iblis) tercipta dari api, sehingga ia tidak memiliki fisik yang mengaktual dalam materi layaknya manusia. Sementara Adam dengan sangat indah Tuhan ciptakan, padahal Adam tercipta dari tanah yang tidak lebih mulia daripada asal penciptaannya (Iblis).

Dongeng Agama

Sudah menjadi hal yang biasa bagi kita yang hidup dalam kelompok islam tradisional didongengkan tentang surga dan neraka sebagai pengantar tidur. Diajarkannya pada anak-anak tentang ketundukan dan kepatuhan yang mutlak.

Jika kita berani bertanya tentang yang transendental, maka kita akan diimingi dengan bayangan neraka bagi mereka yang membangkang, seperti halnya iblis yang telah Tuhan jerumuskan dalam nerakanya.

Dari sekian banyak narasi agama tersebut, ada sebuah tradisi yang diwariskan dalam budaya masyarakat islam Indonesia, bahwa menjadi islam itu adalah mencapai akhirat yang bahagia. 

Akhirat yang bahagia adalah kita akan mendapatkan kenikmatan di surga, semisal buah yang lezat yang tidak ada di dunia, semua tersedia di surga; bidadari yang cantik nan jelita; surga yang di bawahnya mengalir sungai yang indah dengan segala narasi-narasi lainnya yang begitu menggembirakan. 

Pun sebaliknya dalam neraka bahwa Tuhan akan membakar kita di api nerakanya.

Semua yang diajarkan adalah apa yang bernuansa "material". Sekiranya apa yang ada di surga dan neraka bernuansa material, maka surga dan neraka bisa kita lacak keberadaannya. 

Namun, sejauh yang kita lihat, surga dan neraka tidak pernah tampak. Digali sampai ke dasar bumi pun maka ia (surga dan neraka) tidak ada. Yang ada hanyalah emas dan permata beserta mineral lainnya. Di cari ke atas langit, melewati gugusan galaksi sekalipun, yang ada hanyalah sistem tata surya.

Begitu pula narasi yang diceritakan tentang Iblis, ia begitu dibenci oleh manusia melalui reproduksi dongeng keagamaan. Bahwa iblis adalah tokoh sentral di balik pembuangan Adam ke bumi.

Makhluk Beriman Itu Iblis

Dengan lugas dalam The Madness of God, Shawni menceritakan bahwa sosok makhluk yang dianggap sebagai sebab dari dimulainya narasi panjang penderitaan umat manusia di alam fana ini adalah makhluk yang sebelumnya paling beriman. 

Tidak ada satu pun tempat di permukaan bumi ini yang tidak pernah ditempati Iblis untuk beribadah kepada Tuhannya. Tapi, karena satu kesalahan, Tuhan menggelincirkan dan menjadikannya makhluk yang menakutkan bagi qalbu manusia. 

Iblis dinisbahkan sebagai penggoda umat manusia sampai akhir dunia. Ia dijanjikan tempat terburuk di akhirat kelak, tempat yang paling menakutkan dalam imajinasi umat manusia mana pun, yaitu neraka.

Dikutip dari Shawni, pada saat itu iblis berkata: Tuhan, kau menuduhku menghasut Adam atas dosanya? Lalu, aku berdosa atas bujukan siapa? Aku sebenarnya melakukan apa yang kau perintahkan. Aku sepenuhnya patuh pada keinginan-Mu. Tak ada ruang yang luput dari kekuasaan-Mu.

Sesungguhnya Tuhan Maha meliputi segala sesuatu. siapa yang bisa melepaskan diri dari rongrongan takdirnya? Sejauh apa pun kita melarikan diri dari-Nya, ia akan tetap menerkammu dengan kuat dan kembali menikammu dengan takdir-Nya.

Menyoal keberimanan Iblis, kita tidak bisa menyangkal bahwa ia adalah salah satu makhluk yang paling beriman di alam semesta. Ia beribadah 700 tahun lamanya memuja dan mengagungkan Tuhan layaknya para alim.

Kisah Iblis dalam dalam The Madness of God sangat apik diceritakan oleh Shawni. Kepada Bukhairah, Iblis berkata:

"Ia telah mengistimewakan aku, ketika aku menolak bersujud di hadapan Adam. Ia berkata padaku: mari kita pura-pura bertengkar, agar mereka yang membenci-Ku menampakkan dirinya melalui kau, dan kesaksian mereka melalui engkau akan memberatkan mereka di akhirat kelak."

Iblis tidak pernah ingkar. Ia patuh terhadap perintah Tuhannya. Ia siap abadi dalam neraka atas kehendak yang dicintai, menanggung derita dan kutukan sampai akhir zaman, dan menjadi tokoh yang dicerca oleh anak-anak Adam sepanjang hayat setiap insan. 

Sungguh Iblis menerima dengan lapang dada. Karena bagi ia (iblis), tiada yang lain yang dilihat melainkan hanya kekasihnya, yaitu cinta yang mawujud dalam eksistensi berupa derita dan kutukan.

Begitu pula dengan Laila dan Majnun, ketika mereka lupa dengan cibiran masyarakat. Majnun berkata, ''apalah daya, aku telah meneguk anggur cinta dari cawan-Nya. Derita dan petaka akan aku halau demi kekasihku."

Menukilkan cinta pada ia yang tak terbatas, sanggup menelanjangi keimanan dan kesadaran jiwa. Memaksa setiap pencinta untuk tunduk dan pasrah pada keinginan yang dicintai.