Pujangga Baru terbit sebagai tanggapan atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh balai pustaka sebagai karya tulis sastrawan pada saat itu, terutama pada karya sastra yang berhubungan dengan nasionalisme dan kesadaran bangsa. Pujangga baru dulunya hanyalah nama majalah sastra dan bahasa terbitan tahun 1933. 

Awalnya, pada tahun 1930 majalah timboel diterbitkan (1930-1933) pertama kali dalam bahasa Belanda dan kemudian pada tahun 1932 terbit juga dalam versi bahasa Indonesia yang di direkturi oleh Sutan Takdir Alisyahbana.

Nama "pujangga baru" dimulai karena sebuah pemberitahuan yang dikeluarkan (1933) tentang pendapat dan pendirian kesusastraan, sehingga dibuatlah sebuah perkumpulan penulis muda yang disebut "pujangga baru". 

Pujangga baru dipelopori oleh Sultan Takdir Alisyahbana dan tiga tokoh lainnya yaitu Sanusi Pane, Armyn Pane dan Amir Hamzah. Bertujuan untuk menanamkan sastra baru sesuai dengan zamannya serta menyatukan penulis-penulis di satu tempat, yang sebelumnya terpisah-pisah dengan menulis di berbagai majalah.

Pujangga baru merupakan bukti kebutuhan masyarakat zaman itu dan perlunya waktu bagi sebuah media penerbitan untuk menampung dan mendiskusikan budaya dan sastra. 

Awalnya, majalah ini dicetak oleh percetakan Kolf milik orang Belanda A. Dahleer, kemudian Sutan Takdir Alisyahbana menerbitkannya sendiri. Majalah ini hanya tersebar terbatas dan hanya didistribusikan pada kalangan guru dan orang yang tertarik dengan masalah sastra dan budaya. Majalah ini juga pernah dikirim kepada para sultan tetapi tidak di sambut dengan baik.

Sastra pujangga baru adalah sastra intelektual, nasionalistik, dan elitis. Pujangga baru terjadi karena semangat persatuan yang ada dalam masyarakat Indonesia serta dilatarbelakangi kejadian “sumpah pemuda” yang dipelopori golongan muda yang pada 28 Oktober 1928 mencetuskan ikrar sumpah pemuda. Isi ikrar sumpah pemuda 1928 yaitu:

  • 1.Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. 
  • 2.Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. 
  • 3.Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. 

Menurut sejarah, generasi ini ingin menggunakan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia untuk memberikan semangat persatuan dan kesatuan di Indonesia. Ikrar sumpah pemuda juga berdampak besar pada banyak bidang seperti pada bidang pendidikan, sosial, budaya, dan sebagainya. 

Pujangga baru adalah sebuah gerakan di bidang kebudayaan yang didalamnya mencakup sastra. Selain pujangga baru, ada banyak media yang tersedia bagi penulis untuk menyampaikan ide dan karya mereka.

Sejarah Ringkas Kesusastraan Indonesia (Muhri:2016) menjelaskan teradapat semboyan pujangga baru yang pernah mengalami perubahan. Semboyan-semboyan tersebut antara lain:

  • -Menuju dan berjuang untuk memajukan kesusastraan baru (mulai tahun 1933)
  • -Pembawa semangat baru dalam kesusastraan, seni, kebudayaan dan sosial masyarakat umum (mulai tahun 1935)
  • -Pembimbing semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan baru, kebudayaan persatuan Indonesia (mulai tahun 1936)

Dalam proses membangun Pujangga Baru ini, para tokoh pelopor mengalami pertentangan pendapat di beberapa bidang atas ide-ide, cara pandang, dan konsep-konsep Pujangga Baru yaitu:

1). Pertentangan konsepsi kebudayaan Indonesia baru. Sanusi Pane berpendapat bahwa kebudayaan harus didasarkan pada kebudayaan lama dari Timur dan menyatu dengan budaya barat yang berkembang. Sedangkan Sultan Takdir berpendapat bahwa budaya bangsa Indonesia harus bersumber dan lahir dari semangat keindonesiaan tanpa ada kaitannya dengan budaya suku bangsa Indonesia.

2). Pertentangan konsepsi semangat masyrakat baru. Sultan Takdir berpendapat bahwa jika bangsa Indonesia ingin lebih maju dan setara dengan bangsa-bangsa barat, maka harus berubah dari masyarakat yang statis menjadi dinamis sehingga seperti bangsa barat. Namun, menurut Sanusi Pane, hidup perlu mengutamakan keharmonisan jasmani dan rohani dengan alam.

3). Konsepsi kesusastraan baru. Semua tokoh pujanga baru sepakat bahwa kesusastraan Indonesia baru harus berjiwa individualisme, dinamis, dan mengabaikan tradisi-tradisi yang menghambat kemajuan.

Karya sastra pujangga baru ada dalam berbagai bentuk seperti puisi, prosa, drama, kritik, dan essay. Sastra pujangga baru memiliki beberapa ciri. Ciri struktur estetikanya ditandai dengan bentuknya yang rapi dan simetris, bersajakan akhir, menggunakan pola sajak, menggunakan kata pujangga untuk mengekspresikan gaya romantis, dan beraliran romantik. Ciri struktur ekstra estetiknya adalah berkaitan dengan kehidupan perkotaan (cinta dan individualisme), adanya ide keagamaan, ide nasionalisme dan kuatnya sifat didaktis.

Pujangga baru  memberikan banyak peran pada kemajuan sastra, yaitu dengan memberikan  pembaruan di bidang puisi, karangan yang di bentuk menjadi sebuah novel, adanya cerpen, kritik dan essay kebudayaan yang muncul sebagai sarana mengungkapkan pendapat para penulis untuk masa depan. 

Hal ini menciptakan banyaknya penulis. Penulis angkatan pujangga baru adalah A. Hasyim. Amir Hamzah, Asmarah Hadi, Fatimah Hasan, Armyn Pane, dan masih banyak lagi.

Meskipun majalah ini melewati masa perkembangan kesusastraan Indonesia dalam waktu yang relatif singkat, namun dapat memberikan banyak ide, pemikiran, dan pendapat dalam kesusastraan Indonesia. 

Majalah pujangga baru cukup banyak memberikan polemik tentang pemikiran pendidikan dan kebudayaan Indonesia. Dengan datangnya Jepang, perdebatan ini akhirnya berakhir dengan sendirinya dan akhirnya menghentikan majalah pujangga baru.

Tinjauan Pustaka

Erowati dan Bahtiar. (2011) Sejarah Sastra Indonesia. Ciputat: Lembaga Penelitian UIN Jakarta: Pusat Bahasa, Dapartemen Pendidikan Nasional.

Muhri. (2016). Sejarah Ringkas Kesusastraan Indonesia. Bangkalan: Yayasan Arraudiah Bangkalan.

Ilma, Annisa dkk. (2013). Angkatan Pujangga Baru. Makalah. Universitas Negeri Surabaya.