Seiring dengan beralihnya kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke B.J. Habibie dan kemudian ke K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarnoputri, muncul wacana tentang Penulis Pasukan Reformasi.

Para penulis Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan kondisi sosial dan politik yang terjadi pada akhir 1990-an, seiring dengan runtuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 menjadi latar belakang lahirnya karya sastra seperti puisi, cerpen, dan novel pada masa itu.

Bahkan, penyair yang semula jauh dari tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat dengan media online mereka: dunia sastra (dot) com, turut memeriahkan suasana dengan puisi sosial-politik mereka.

Periode terakhir dalam perkembangan sastra Indonesia modern adalah munculnya penulis-penulis perempuan yang karya-karyanya tidak hanya dipuji oleh para pengamat sastra tetapi juga diapresiasi oleh masyarakat karena banyaknya buku yang terjual. 

Tema-tema yang mengupas isu seks bersanding dengan tema-tema keislaman yang ditulis oleh para penulis Islam di bawah naungan Forum Lingkar Pena (FLP), sebuah komunitas penulisan yang tidak hanya tersebar di kota-kota di Indonesia tetapi memiliki cabang di luar negeri.

Pesatnya perkembangan teknologi menjadikan internet sebagai media berekspresi tanpa batas dan sensor serta menjadi ruang bagi penulis yang tidak terakomodasi oleh media tulis seperti surat kabar, majalah, dan publikasi. Oleh karena itu lahirlah sastra cyber di Indonesia

Munculnya sastra cyber tidak mengesampingkan sastra-sastra yang muncul di media konvensional seperti majalah dan surat kabar. Media penerbitan seperti surat kabar dan majalah dalam perkembangan sastra telah lama memberikan ruang bagi kehidupan sastra Indonesia. Karya sastra yang selalu muncul dalam rubrik di surat kabar atau majalah adalah cerpen.

Eksistensi cerpen pada masa awal sastra Indonesia belum terlacak atau bahkan diabaikan oleh para penulis sejarah sastra Indonesia. Fenomena menjamurnya cerpen di surat kabar dan majalah kembali muncul, memperkaya khazanah sastra Indonesia. Tentu saja ini harus menjadi catatan penting bagi para penulis sejarah sastra, agar kesalahan pada masa lalu tidak terulang kembali.

Sastra Cyber

Sebelum munculnya sastra cyber, dunia sastra Indonesia sendiri memiliki beberapa karakteristik terkait dengan keberadaan teknologi media. Antara lain sastra majalah, sastra surat kabar, dan sebagainya. Internet telah hadir ketika biaya penerbitan semakin mahal  dengan keberadaan sastra surat kabar/majalah yang dianggap telah membangun hegemoninya.

Komunitas sastra virtual mulai bermunculan. Memanfaatkan teknologi seperti milis (mailing list), website, forum diskusi, dan sekarang blog. Internet menawarkan suasana kebebasan, tanpa sensor. Setiap orang dapat menampilkan karyanya, dan semua orang dapat menghargainya.

Penggunaan istilah sastra cyber sendiri mengacu pada jenis media yang digunakan: medium cyber, yang istilahnya sama persis dengan sastra surat kabar, sastra majalah, sastra buku, sastra fotokopi/templat, sastra radio, sastra dinding, dan sebagainya. Oleh karena itu semua karya sastra yang diterbitkan melalui medium cyber disebut sastra cyber.

Seiring dengan berkembangnya internet, tidak hanya individu baik yang sudah ternama maupun yang belum berlomba-lomba untuk memuat karyanya ke dalam beberapa situs, blog atau milis sastra. Situs sastra yang menjadi pionir sastra dunia maya di Indonesia adalah Cybersastra.com. 

Situs yang dikelola oleh Masyarakat Sastra Internet (MSI) bersama redaktur Nanang Suryadi dan kawan-kawan ini memulai Cybersastra di Indonesia. Karena masalah teknis situs tersebut pindah ke domain lain dan menjadi Cybersastra.net.

Banjir Cerpen

Jika kita mencermati  awal mula sastra Indonesia, kita tidak bisa menghindari cerpen yang muncul di surat kabar atau majalah. Cerpen-cerpen yang diterbitkan dalam surat kabar atau majalah mendahului novel, puisi dan drama.

Namun, cerpen yang menggunakan media massa telah dibayangi oleh para penulis sejarah sastra. Dengan menekankan peran pubikasi, dalam hal ini adalah Balai Pustaka. Hal ini menyebabkan Balai Pustaka menjadi pijakan bagi sastra Indonesia.

Sejarah cerpen itu sendiri berasal dari sketsa, penggalan, karangan yang mengangkat kehidupan sehari-hari, cerita ringan dan lucu, cerita bersambung (feuilleton) atau cerita tragedi cinta yang diambil dari peristiwa yang telh menjadi berita aktual, yang semuanya disebut cerita.

Setiap periode sastra Indonesia tidak terlepas dari cerpen yang dimuat di surat kabar. Cerpen masih muncul di surat kabar yang diproduksi secara massal, bahkan ketika novel-novel penting tidak muncul selama pendudukan Jepang atau pada 1950-an.

Satu hal yang memungkinkan cerpen berkembang pesatnya karena dipengaruhi oleh sikap revolusioner, kepekaan masyarakat Indonesia terhadap perubahan yang cepat dan signifikan, oleh karena itu diperlukan adanya suatu bentuk sastra yang ringan, cepat, dan mudah dicerna oleh semua kalangan pembaca dan kecenderungan ini mengarah pada cerita pendek.

Keadaan ini disebabkan oleh faktor-faktor, seperti kecemerlangan media massa, surat kabar dan majalah yang telah memberikan ruang yang lebih luas bagi para penulis cerpen untuk mengirimkan karyanya. Di sana, rubrik cerpen mendapat tempat khusus. Cerpen sama pentingnya dengan rubrik lainnya.

Bahkan, di surat kabar Minggu, itu seperti suatu keharusan. Di sinilah cerita pendek itu duduk dan menyapa pembaca. Jadi, hari Minggu adalah hari cerpen. Faktor lainnya adalah adanya kompetisi menulis cerpen, dimana cerpen tidak hanya diadakan pada hari Minggu, tetapi juga pada acara atau event tertentu.

Kemudian terbitnya Jurnal Cerpen yang diasuh oleh Joni Ariadinata, dkk. dan Kongres Cerpen yang diadakan secara periodik dua tahun sekali di Yogyakarta (1999), Bali (2001), Lampung (2003), dan kongres mendatang di Pekanbaru (November 2005), telah berhasil mengangkat citra cerpen secara lebih layak.

Kegiatan tersebut juga untuk mensosialisasikan keberadaan cerpen sebagai bagian dari kegiatan sastra. Sementara itu, upaya sejumlah penerbit untuk melakukan semacam perburuan naskah cerpen untuk diterbitkan, memberikan harga dan martabat cerpen yang tampak lebih baik dari sebelumnya.

Walaupun posisi cerpen tersebut dalam keadaan yang sangat hidup dan memiliki tempat khusus, namun dapat dikatakan tidak cukup signifikan dalam hal regenerasi. 

Persoalannya, secara substansial sejumlah penulis cerpen muda yang bermunculan belakangan ini, harus diakui, belum menunjukkan upayanya untuk mengembangkan gerakan estetis yang kemudian menjadi mainstream.

Tinjauan Pustaka

Erowati, Bahtiar. (2011). Sejarah Sastra Indonesia. Ciputat : Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mahayana, Maman. (2005). 9 Jawaban Sastra : Sebuah Orientasi Kritik. Jakarta : Bening