Posisi "tubuh" perempuan sekian waktu masih diperdebatkan di publik.

Tubuh perempuan semestinya anugerah insani di mana manusia berhak mengatur, merdeka, dan berkuasa sepenuhnya. Namun, keterputusan cerita kehidupan; sejarah, ilmu pengetahuan, agama, dan lain-lain, menyudutkan perempuan untuk berjuang mengembalikan fitrah kemanusiaannya sendiri.

Ada keistimewaan utama diberikan pada perempuan; tidak pada laki-laki. Takdir Allah swt menghendaki demikian. Perbedaan penciptaan ini tidak bisa diubah sampai kapan pun.

Perbedaan ini adalah kepemilikan “rahim”, yang secara biologis perempuan memiliki kemampuaan untuk melahirkan. Meski secara kodrati, kondisi langka yang disebut persistent Müllerian duct syndrome (PMDS), seorang laki-laki terlahir dengan alat kelamin laki-laki, tapi punya organ reproduksi internal perempuan, rahim ditemukan.

Bagaimana dengan hamil dan melahirkan? Apakah hanya seorang perempuan saja yang bisa menjalankan tugas itu?

Seperti yang dikutip dari wikipedia.org, teori ectopic pregnancy menunjukkan bahwa secara teoritis, laki-laki memiliki kemampuan untuk mengandung, disebabkan kehamilan bisa terjadi di luar dinding uterus. Di sisi lain, walaupun teori tersebut logis, hingga saat ini belum pernah dibuktikan karena bisa membawa dampak yang serius bagi kedua orang tua dan bayi.

Contoh dua kasus di atas, karena langka dan sangat jarang terjadi, maka secara hukum hal itu tidak bisa dijadikan sandaran hukum. Bahwa suatu yang langka dianggap “tidak ada”. Oleh sebabnya, laki-laki secara pasti diciptakan tidak untuk melahirkan. Hal ini hanya menunjukkan ayat bukti kebesaran kekuasaan sang Maha Pencipta, Allah swt.

Diberikannya rahim pada perempuan mengisahkan perjalanan hidup manusia yang panjang. Kehamilan merupakan saat di mana manusia mengawali dunia jasadi yang fana. Proses demi proses dilalui, tobaqot-tobaqot alam penciptaan terjadi saat itu. Fase-fase penurunan kesucian (baca, ruh), dari alam-alam penciptaan sampai terberinya ruh qudsi, berjalan di dalam rahim seorang perempuan.

Dalam segi bahasa, organ reproduksi perempuan “rahim” memiliki akar kata yang sama dengan nama Allah: “ar-Rahim”, Maha Belas-Kasih. Pemberian organ serta nama, yang oleh Allah swt, diambilkan dari sifatNya, menandakan perempuan memiliki kesucian dan belas kasih yang luas sekali. Sudah bisa dibayang bagaimana susahnya seorang perempuan jika sifat Allah yang berbelas-kasih tidak disematkan pada diri perempuan melalui rahim.

Walau terkesan menyederhanakan, masa-masa sulit perempuan dimulai manakala ikatan perkawinan dilaksanakan. Jika dipandang pernikahan sebatas seks "وطء", ikatan ini tak ubahnya peradaban hewani belaka, di mana yang kuatlah yang berkuasa. Dilanjutkan pada perkembangbiakan yang melahirkan kekuasaan-kekuasaan yang lain dan yang lain lagi, seterusnya. Apakah seperti itu?

Tentu jawabannya, tidak! Islam mengangkat derajat kemanusiaan seorang perempuan. Peradaban-peradaban lama yang menempatkan perempuan sebagai subordinat; cacat kesukuan, penambah beban, objek penistaan, dan lain-lain menemukan pembelaannya kala islam hadir.

Dalam kajian tasawuf, seni pendekatan diri pada sang Pencipta Yang Maha Indah, pertemuan laki-laki dengan perempuan merupakan capaian spiritualitas yang tinggi sekali. Kegundahan cerita Adam tanpa kehadiran Hawa di surga adalah bagian kekurang-sempurnaan Adam (laki-laki) sebagai manusia, sehingga wujud Hawa (perempuan) merupakan kesempurnaan lain di luar diri Adam yang mesti ada, untuk menyempurnakan Adam dan sebaliknya.

Muriel Maufroy (2005), misalnyadalam novel Kimya Sang Putri Rumi, tokoh perempuan bernama Kimya, diceritakan menapaki tangga tasawuf. Pengalaman Kimya sebagai salik tidak akan sempurna tanpa bimbingan Syekh Syamsuddin dari Tabriz, guru, dan sahabat dekat Rumi, dan kemudian menjadi suaminya. 

Singkat cerita, Kimya mendapat perjalanan ruhani yang tak terkira manakala terjadi hubungan biologis bersama suaminya yang juga guru spiritualnya itu.

Setidak-tidaknya, pertemuan laki-laki dan perempuan adalah media mencapai ektase keilahian menuju kesempurnaan. Kehadiran tuhan diproyeksi dari keyakinan wujud di luar yang tampak di dunia. Sehingga, dengan mempertemuan dua kutup kekuatan kehidupan, laki-laki perempuan, realitas ketuhanan yang berbeda sama sekali dengan realitas materi tertemukan.

Maka, ironis sekali jika perempuan disubordinasikan di bawah laki-laki. Apalagi dengan unsur “keterpaksaan” ataupun “dipaksakan” menuruti kehendak laki-laki dalam hubungan seksualitas maupun spiritualitas. Karena secara ruhani, dua makluk ini memiliki keterseimbangan yang sama.

Kesucian Tuhan harus diperoleh dengan media yang suci pula. Ibadah pernikahan yang suci, ditunjang hubungan suami-istri yang ma’ruf suci pula, melahirkan kemuliaan dalam realitas kesucian kehambaan. Akhirnya, eksistensi wujud transenden dari tuhan sebagai yang Maha Rahasia akan tersingkap. Allah ‘allam.

Selain itu, derajat perempuan meningkat tinggi dalam Islam, seiring diterimanya nama “ibu”. Subjek yang tidak ternilai kemuliannya, di hadapan Allah swt dan makhluknya. Bahkan, dalam Alquran, dari sekian macam dosa-dosa kepada Allah swt, tidak ada satu pun cacat dosa yang dikiblatkan atas kesalahan seorang ibu.

Belbagai cacat dalam Alquran, dosa misalnya; subjek suami direpresentasikan Firaun pelakunya, istri adalah istri Nabi Luth as, bapak adalah bapak Nabi Ibrahim as, anak adalah Kan’an anak nabi Nuh as. 

Namun tidak dengan ibu. Bagaimana mulia dan sucinya Siti Maryam, nama seorang perempuan yang diabadikan dalam Alquran di samping Asia istri Firaun. Perempuan mulia yang didampingkan dengan nama-nama yang mulia; nabi dan rasul.

Jika kondisi ibu, seperti yang diterima Siti Maryam, terjadi hari ini, maka sekian stereotip negatif akan diterima seorang ibu. Tidak demikian di Alquran, subjek ibu tidak pernah menerima kesalahan/dosa, ibu suci dalam tugas dan penciptaannya. 

Alquran mengambarkan kesucian ibu dengan peristiwa Siti Maryam. Di perempuan-perempuan lain, ibu nabi Musa as, dan perilaku keibuan pada Asia istri Firaun adalah sederet cerita suci dalam Alquran.

Di akhir tulisan ini, penulis berasumsi bahwa sampai hari ini, RUU PKS belum disahkan, bukti belum masifikasinya perjuangan hak-hak perempuan di Indonesia. Antara mereka yang berharap segera disahkan dan yang menolak tentu memiliki cara pandang yang dipengaruhi oleh agama, akademik, budaya yang menyisahkan sedikit ruang kebersamaan.

Penulis berharap, sedikit ruang kebersamaan ini semoga cepat tercapai, sehingga tujuan mengangkat derajat kemanusiaan perempuan yang “masih” tersubordinasi segera menerima embarkasih keberpihakannya. Semoga.