Penikmat kopi
3 minggu lalu · 454 view · 3 min baca · Budaya 50445_71931.jpg
foto: ozy

Kita Imigran di Indonesia

Berdasarkan genetik, kita adalah imigran. Tidak ada manusia Indonesia asli. Hal itu dikatakan Herawati Sudoyo dalam penelitiannya yang melibatkan ilmuwan antropologi, arkeologi, budaya, bahasa, dan teknik informatika.

Upaya rekonstruksi sejarah asal-usul masyarakat Indonesia berdasarkan genetik ini sangat menarik. Mengingat rasisme atas nama kesukuan dan etnis kerap terjadi di Indonesia. Pelakunya bukan hanya kalangan awam, akan tetapi mereka yang mengeklaim sebagai intelektual bahkan konstitusi negara.

Salah satu contohnya, syarat menjadi presiden harus Indonesia asli. Setelah mengalami amandemen, barulah syarat menjadi presiden lebih rasional. Pasal 6 ayat (1) diubah menjadi harus warga negara Indonesia. Syarat ini masih menjadi polemik. Namun dengan hasil penelitian ini, hendaknya polemik dihentikan.

Penelitian ini juga bermanfaat bagi kita yang merasa paling asli sementara yang lain imigran. Kenyataannya, kita semua imigran, sama halnya dengan etnis yang datang belakangan. Dikotomi penduduk asli dan pendatang atau warga negara keturunan sebaiknya dihentikan.

Jangan sampai kita kelihatan bodoh karena kekurangan rujukan. Kita tinggal mengimplementasikan hasil penelitian dalam kehidupan bernegara. Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa yang mulai terpolarisasi karena etnis dan kesukuan.

Orang-orang yang berpotensi memimpin bangsa ini jangan sampai terganjal karena kebodohan kita. Sebut saja Anies Baswedan yang merupakan keturunan Arab atau Ahok yang merupakan etnis keturunan Cina. Dan yang sedang menjadi polemik terkait rektor dan dosen dari luar negeri.


Jika tujuan mereka meningkatkan mutu pendidikan tinggi, mengapa harus diributkan? Bukankah warga negara Indonesia yang berkualitas juga mengajar di luar negeri? Jangan takut bersaing dengan warga negara asing. Bukankah selama ini sudah diberi kesempatan membangunan perguruan tinggi kita?

Keinginan impor SDM guna meningkatkan mutu pendidikan tinggi hendaknya disyukuri. Para guru besar kita barangkali dinilai gagal meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Sebaiknya evaluasi dilakukan, bukan malah membenci perubahan.

Jangan menjadi imigran yang sombong. Akui saja orang lain lebih mampu meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Saya kira bukan hanya di bidang politik dan ekonomi, di bidang pendidikan pun kita harus berani bersaing.

Mengasingkan diri dari percaturan dunia internasional tidak akan memajukan sebuah negara. Kita dijadikan bersuku dan berbangsa-bangsa untuk saling kenal, saling mengisi kekurangan masing-masing. 

Pergaulan internasional tidak lagi memandang kesukuan, etnis, bangsa, yang terpenting kualitas seseorang. Prestasi dan inovasi yang menjadikan kita dipandang. Jangan lagi mengandalkan nasab meski nasab tak boleh dilupakan. 

Menyadari diri sebagai imigran di nusantara ini akan memacu kita untuk meraih prestasi. Jika merasa paling berhak atas negeri ini, sebaiknya diimplementasikan dalam bentuk prestasi. Bukan dalam bentuk membenci identitas yang berbeda. 

Sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, kita diberi kesempatan yang sama. Menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain maupun sebaliknya. Menjadi imigran yang bijak berarti dapat bekerja sama dengan identitas yang beda, bersaing secara fair

Sesama imigran, sebaiknya saling menghargai dan menghormati. Para leluhur telah melakukan itu sehingga lahirlah negara ini. Sebuah negara yang majemuk, secara kesukuan maupun agama. Sebuah negara yang bercita-cita memimpin negara lain di atas muka bumi ini.

Setelah kita ketahui asal-usul secara genetik, maka tak perlu lagi kita debatkan hal-hal yang dapat memecah belah bangsa. Sebaiknya kita fokus membangun negeri ini. Setiap warga negara Indonesia memiliki hak yang sama. 

Hak diberikan sesuai kapasitas bukan berdasarkan nasab. Makin berkualitas seseorang, makin besar peluang dirinya meraih apa yang inginkan. Tentu saja keinginan itu tidak boleh melanggar hak orang lain.


Kesadaran asal-usul harus menjadi kesadaran kolektif. Kita imigran yang diberi kesempatan berkarya bahkan mengeksploitasi sumber daya alam di negeri ini. Sehingga sentimen Arab, Cina, maupun bangsa lain sebaiknya dihentikan jika ingin negeri ini lebih baik.

Rasisme yang makin mengkhawatirkan dapat mengganggu instabilitas negeri. Fanatisme identitas hanya menciptakan konflik horizontal. Kita tak pernah fokus berkarya hanya karena merasa sebagai suku dan bangsa superior.

Kita gemar menghujat demi identitas yang pada dasarnya kita menghujat identitas sendiri. Itulah mengapa Allah Azza Wa Jalla melarang muslim menghina Tuhan agama lain. Sebabnya, menghina Tuhan agama lain akan dibalas dengan hinaan padaNya. 

Begitu pula ketika kita menghina etnis Arab, Cina, serta etnis lainnya. Pada saat yang sama, mereka membalas hinaan tersebut. Akhirnya bangsa ini dihina bangsanya sendiri. Begitulah fakta hari ini, entah disadari atau tidak.

Penemuan ilmiah ini sekaligus membantah diksi pribumi yang sempat booming ketika Anies berpidato pada pelantikannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Saya kira pemerintah juga harus menjelaskan duduk persoalan asal-usul bangsa ini berdasarkan penelitian. Jangan sampai isu rasisme selalu muncul di tahun politik.

Semoga kita tidak menjadi imigran yang sombong. Merasa paling berhak atas negeri ini. Ini semua titipan generasi mendatang. Sudahi sentimen etnis dan kesukuan. Kita semua imigran di Indonesia.

Artikel Terkait