Sayang sekali Paman Farhat, sebelum dihadapkan pada para Pejabat, Paman harus lebih dulu berhadapan dengan review Ponakan Pejabat, dan Ponakan Pejabat itu adalah aku Paman. Apakah Paman sudah siap?

Tertanda, Ponakan Pejabat Negara!!

***

Kemunculan parpol PANDAI di blantika perpolitikan Indonesia kian meramaikan riuhnya persiapan Pilpres 2024. Warna baru yang menjadikan "Rendah hati" sebagai identitas mereka dan hal ini dapat dilihat melalui tulisan pada logo PANDAI itu sendiri.

Lantas bagaimana kemunculan PANDAI berikut dengan Farhat Abbas selaku Ketum dalam sudut pandang saya?

Ada 2 hal penting yang akan saya sampaikan melalui tulisan ini terkait sosok Farhat Abbas beserta PANDAI-nya dan tentu saja keduanya tidak luput dari damage positif dan damage negatif seperti sebelum-sebelumnya saya memberikan sudut pandang.

Menurut saya, Farhat ini merupakan sosok yang "Idealis dalam berpikir". Selain itu, saya melihat Farhat sebagai seseorang yang "Belum matang dalam bertindak". Sekarang, saya akan merincikan secara satu persatu.

Kenapa Farhat adalah sosok yang Idealis dalam berpikir?

Ketika dirinya diundang ke salah satu podcast youtuber terkenal di Indonesia, tanpa ragu-ragu Farhat menyampaikan visi beserta misinya jika kelak terpilih menjadi Presiden RI 2024. Saya memang tidak langsung bertepuk tangan, namun dibuat menggangguk "Okey juga nih" mendengar pemaparan tersebut.

Pertama, Farhat ingin mengubah sistem pemilihan Walikota/Bupati dan Gubernur yang ada di Indonesia. Di sini lelaki tersebut menyampaikan bahwa,

"Saya maunya Walikota/Bupati itu dipilih langsung oleh Gubernur, dan Gubernur itu  dipilih langsung oleh Presiden. Karena ketika Walikota/Bupati dipilih oleh Rakyat, lalu korupsi ya mereka santai tinggal mengembalikan uang rakyat menjalani hukuman. 

Tapi jika Walikota/Bupati dipilih oleh Gubernur, Walikota/Bupati tersebut korupsi, ya Gubernurnya harus ikut bertanggung jawab. Karena telah memilih pemimpin yang salah. Begitu juga untuk Gubernur. Intinya tujuan kita apa? Agar yang di atas tidak salah memilih siapa yang akan menjabat!

Pada statement ini, saya merasakan ada suatu trobosan yang cukup "Responsible" namun "Danger"! Barangkali bukan hanya saya, tetapi rakyat yang ada di seluruh Indonesia juga merasakan hal yang sama. Ini good idea, namun juga berbahaya.

Kedua, Farhat bersama dengan PANDAI-nya telah menjanjikan 50% kursi untuk kaum perempuan. Dimana pada parlemen umumnya kaum perempuan hanya boleh menduduki kursi maksimal 30% saja.

Sebagai seorang perempuan saya masih memandang ini sebagai sesuatu yang positif, bahkan saya belum menemukan bahaya apa pun pada statement ini. Tapi jika para pembaca barangkali melihat ini dari sudut pandang mentalitas, kejiwaan dan lain-lain, sungguh saya ingin sekali berdiskusi lebih lanjut.

Ketiga, Farhat mengumpulkan orang-orang dari berbagai kalangan dan menampung mereka di dalam PANDAI-nya dengan alasan ingin mewujudkan "Negara yang berdaulat, serta keadilan berketuhanan" seperti,

Menampung Saiful Jamil dengan alasan "Tuhan saja maha pengampun, kenapa kita yang sesama manusia tidak memberi kesempatan?" Bahkan pada statement ini Farhat justru menyalahkan KPI.

"Seseorang kalau sudah keluar dari penjara, sudah menjalani proses hukuman ya kenapa setelah bebas tidak boleh kembali seperti semula, KPI salah, namanya orang mau cari rezeki di mana lagi kalau tidak boleh tayang di televisi."

Selain Syaiful Jamil, Farhad juga menampung Dr. Lois di dalam PANDAI-nya. Dokter yang terskandal lantaran mengatakan bahwa Covid itu tidak ada. Kemudian lagi-lagi Farhat berujar,

"Kalau soal itu, setiap Dokter-kan melakukan penelitian dengan cara yang berbeda-beda dan mendapat hasil yang berbeda juga. Jika memang hasil penelitiannya seperti itu ya kita harus menghargai."

Saya melihat pada statement ini bahwa,

"Menerima segala perbedaan antar individu, setiap kekurangan individu, setiap kasus yang menimpa individu, itulah yang menjadi 'Senjata terdigdaya' bagi Farhat dan PANDAI-nya dalam merekrut masa".

Selanjutnya, kenapa Farhat adalah sosok yang belum matang dalam bertindak?

Kilas balik sejenak, terkait pencapaian-pencapaian Farhat Abbas sebagai seorang pengacara dalam menangani berbagai kasus hukum di Indonesia.

Pertama, sebut saja kasus antara dirinya, Dul (Bungsu dari musisi ternama, Ahmad Dhani) ketika terjadinya kecelakaan di tahun 2013. Tidak tanggung-tanggung "Cuap-cuapnya" di akun twitter hingga menjadikan Ahmad Dhani emosi, lantas menuntut Farhat secara hukum.

Sebagai seorang pengacara, semestinya Farhat menyelesaikan kasus, bukan mencari-cari kasus.

Kedua, kasus yang melibatkan Fairus, Galih Ginanjar, Rey dan Pablo yang lebih dikenal dengan "Kasus Ikan asin". Semula, Farhat berperan sebagai pengacara Galih, Rey dan Pablo yang mengumbar aib Fairus. 

Sedang dalam waktu yang bersamaan, Fairus menggandeng Hotman Paris sebagai pengacaranya. Secara kasus, Fairus sudah jelas benar dan secara pembelaan Hotman Paris jelas lebih kuat.

Farhat kemudian dipecat sebagai pengacara Galih, Rey dan Pablo. Tentu saja itu menjadi catatan buruk dan merusak performa Farhat terkait profesinya.

Ketiga, seolah tidak terima dengan kekalahannya pada "Kasus Ikan asin", Farhat kembali mempermalukan dirinya dengan mencari-cari kesalahan Hotman Paris di mana lelaki itu menyeret Hotman Paris dalam kasus video pornografi yang pada akhirnya tidak terbukti.

Hotman Paris justru balik menuntut Farhat atas kasus pencemaran nama baik dan itu pun, Farhat akhirnya mengajak berdamai.

Berdasarkan beberapa kasus di atas, terlihat bahwa memang Farhat belum sampai pada "Kasus yang meng-jayakan dirinya" dalam dunia hukum. Itulah kenapa saya mengatakan bahwa lelaki ini masih belum matang dalam bertindak.

Dengan cara "Bertindak yang seperti ini, dan cara berpikir yang seidealis itu" saya belum melihat "Kesiapan" dari dalam diri Farhat Abbas sendiri. Siap dalam artian, mewujudkan apa yang telah direncanakan.

Bukan! Saya juga tidak mengatakan bahwa saya sudah yang paling paham dan benar dalam mengambil tindakan, karena "Sebagai makhluk hidup, seumur hidup bagi saya adalah proses untuk terus belajar".

Tapi tidak masalah, kesempatan dalam berbenah diri tetap akan saya berikan kepada siapa pun, barang kali semasa 2021, 2022, 2023, hingga 2024, banyak perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri Farhat hingga menjadi layak menduduki singgasana Presiden Republik Indonesia.

***

Semangat dan peace Paman, haha!!