Saya sangat menyukai sepak terjang pahlawan dari kalangan perempuan, yakni R. A. Kartini. Dia bukan sekadar perempuan biasa, tetapi dia berani menunjukkan dirinya di depan banyak orang, bahwa perempuan itu setara dengan kaum laki-laki. Kisah hidupnya sungguh menginspirasi kaum perempuan hingga saat ini.

Pahlawan perempuan Indonesia ini menyadari akan kehebatan pemikiran perempuan Eropa, hingga akhirnya ia berani untuk mengemansipasi dirinya dengan membaca buku-buku, di antaranya buku-buku karya Louis Coperus yang berjudul De Stille Kraacht, buku Augusta de Witt karya Van Eeden.

Ia juga membaca roman-roman beraroma feminis dalam bahasa Belanda, tidak luput pula Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta dari Multatuli. Motif keberanian yang dilakukan oleh Kartini berangkat dari kesadaran akan kesetaraan dengan perempuan Eropa.

Apa yang dilakukan oleh Kartini pada waktu itu adalah hal yang luar biasa. Situasi zaman yang masih kuat dengan aroma paternalistic berhasil ditembusi Kartini. Dia berani membongkar konstruksi zaman yang dibangun oleh laki-laki. Kartini hanya hendak mengatakan kepada dunia, khususnya Indonesia, bahwa perempuan juga bisa! Benar. Perempuan juga bisa.

Mengapa seorang Kartini bisa belajar? Mengapa Kartini, seorang perempuan pribumi, bisa mengeyam pendidikan di Belanda? Bukankah hanya laki-laki saja yang bisa melakukan hal itu? Jawabannya adalah karena semua kaum adalah setara!

Jacques Rancière, seorang pemikir Prancis yang akhir-akhir ini tengah naik daun dalam dunia akademik, membantu kita untuk menelisik makna sesungguhnya dari kesetaraan itu. Pemikiran Rancière tentang kesetaraan berbeda dengan para pemikir lainnya.

Rancière memiliki sebuah credo bahwa semua orang bisa berpikir (everyone can think). Antara seorang dosen di sebuah universitas ternama dan seorang tukang ojek pengkolan memiliki kapasitas untuk berpikir. Antara seorang peneliti sains dan seorang ibu-ibu rumah tangga memiliki kapasitas untuk berpikir. 

Demikian pula antara laki-laki dan perempuan. Keduanya memiliki kapasitas untuk berpikir. Dan, kemampuan untuk berpikir ini sudah ada dalam diri setiap manusia, sejak dari kandungan ibu.

Berpikir adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh subjek. Kemampuan untuk berpikir inilah yang melahirkan emansipasi. Dan, setiap orang atau subjek memiliki kemampuan untuk beremansipasi. 

Dalam Politics, Identification, and Subjectivization, Rancière menjelaskan bahwa emansipasi merupakan merupakan praktik akal budi yang sadar bahwa setiap orang adalah setara dengan yang lain dan di saat bersamaan menjadi suatu tindakan untuk memverifikasi kesetaraan (Rancière, 1992:58-59).

Kesetaraan menjadi tema sentral bila kita berbicara soal kesetaraan gender. Akan tetapi, sayang sekali. Pemikiran kita masih terkurung dalam mindset bahwa kesetaraan gender harus diberikan oleh laki-laki kepada perempuan. Pemberian kesetaraan memungkinkan perempuan setara dengan laki-laki. Seakan-akan, perempuan adalah pengemis kesetaraan, sehingga harus diberikan kesetaraan itu. Ini mindset yang salah.

Kebanyakan pemikir melihat bahwa kesetaraan adalah sesuatu yang terberi dari negara atau suatu institusi tertentu (Todd May, dalam Deranty, 2010:70). Sebagai misal, kita bisa melihat para perempuan di Arab Saudi yang kini diberi kebebasan untuk bisa menyetir mobil dan diberi kebebasan untuk tidak menggunakan hijab dalam aktivitas mereka. Dalam arti ini, Muhammad bin Salman-lah yang memberi mandat itu kepada perempuan Arab Saudi.

Tampak bahwa kesetaraan muncul atas inisiatif dari yang memegang kuasa, sedangkan yang dikuasai hanya bisa terus menunggu kapan inisiatif dari pihak penguasa untuk membebaskan mereka dari posisi ketidaksetaraan. Maka, hanya dari pemberian itu kesetaraan terjadi.

Sedangkan dari pihak Rancière, kesetaraan digambarkan dengan cara lain. Kesetaraan bukanlah sebuah pemberian dari pihak yang berkuasa kepada pihak yang dikuasai, melainkan kesetaraan itu sudah ada pada semua orang dan semua orang itu setara. Kesetaraan sudah ada dalam diri masing-masing orang.

Kesetaraan yang diserukan oleh Rancière merupakan titik tolak atau titik berangkat baginya untuk berbicara tentang demokrasi. Dalam pada itu, asumsi Rancière bahwa semua orang setara memberi jalan baru bagi orang-orang, khususnya mereka yang bukan bagian dalam bagian (Rancière menyebut mereka ini dengan istilah The Wrong), untuk berpolitik.

Dalam politik itu, mereka perlu berbicara bahwa mereka setara dengan yang lain yang ada dalam police. Politik menunjukkan kepada police dan kepada mereka yang ada, yang muncul, dan yang mendapat ruang dalam police, bahwa ada orang-orang yang selama ini hidup dan tinggal dalam police, namun mereka itu tidak terlihat, tidak terhitung. Dengan demikian, untuk membawa mereka ke permukaan police, mereka perlu berpolitik.

Tindakan politik hanya mungkin terjadi apabila orang bertolak dari kesadaran bahwa dirinya setara dengan yang lain. Rancière mengatakan bahwa politik merupakan instrumen atau cara mereka yang tak terlihat, tak terhitung untuk memverifikasi kesetaraan. Mereka bukannya tidak setara. Justru sebaliknya, mereka sudah setara.

Bersama Rancière, politik tidak melulu dilihat sebagai sebuah aktivitas mengurus negara, misalnya ikut Pemilu atau menjadi seorang anggota legislatif (sayang sekali, kebanyakan kita masih melihat politik sebatas itu). Politik dalam pemikiran Rancière dilihat sebagai suatu gerakan untuk memverifikasi kesetaraan, dan itu berarti, politik adalah gangguan atas tatanan yang ada.

Dalam banyak arti, perempuan adalah the wrong. Mereka adalah yang tak terlihat dan tak terhitung. Mereka lebih sering tidak mendapat tempat dalam kehidupan bersama. Logika biner kita menempatkan perempuan dalam posisi lemah, tak berdaya, yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Untuk itu, perempuan semestinya perlu bergerak (dalam bahasa Rancière, berpolitik). Tidak perlu lagi berdiskusi panjang lebar soal kesetaraan gender. Karena memang, antara laki-laki dan perempuan sudah setara. Perempuan bisa berpikir, bisa mengemansipasi diri. Karena setara, perempuan harus berani speak up dan bertindak untuk mengganggu tatanan berpikir yang ada!