3 minggu lalu · 71 view · 5 menit baca · Hiburan 33766_35608.jpg
mrsunshinenetflix

Kesetaraan dalam Mencintai Negeri

Mr. Sunshine

Salah satu Drama Korea yang menjadi perbincangan tahun 2018 adalah Mr. Sunshine yang ditayangkan melalui TvN dan Netflix. Tidak seperti Drama Korea lain yang mengambil setting Dinasti Joseon, kisahnya lebih sebagai fiksi dan harapan masyarakat Korea modern terhadap perjuangan kemerdekaan.

Sebagai drama yang disiarkan melalui TV kabel, ia terbilang sukses karena aktornya Lee Byung-hun mendapat penghargaan Grand PrizeThe 6th APAN Star Awards, Kim Tae-ri mendapat Best New Actress, dan Kim Min-jung mendapat Best Supporting Actress

Selain itu, Lee Byun-hun juga mendapatkan penghargaan Best Actor dan Yoo Yeon-seok mendapatkan penghargaan Best Supporting Actor pada 2nd The Seoul Awards.

Rating Drama ini tinggi untuk ukuran TV kabel, sebesar 18.129% (nationwide) dan 21.828% (Seoul) pada episode terakhir.

Mr. Sunshine berfokus pada seorang Eugene Choi (Lee Byung-hun) yang dilahirkan sebagai anak budak yang kehilangan kedua orang tuanya karena praktik jual beli jabatan di era Kaisar Gojong (bertahta 13 December 1863 - 21 January 1907).

Status ibu Eugene Choi sebagai budak dalam masyarakat Joseon yang menganut sistem kasta Yangban membuat ia akan “dipersembahkan” kepada salah satu pejabat Joseon sebagai ganti kenaikan pangkat majikannya.

Karena menolak, ayah Eugene Choi dibunuh dan ibunya bunuh diri. Eugene Choi muda melarikan diri ke Amerika Serikat berkat bantuan seorang misionaris. 

Tepat di tahun itu 1871, Amerika Serikat mengadakan ekspedisi ke Korea yang disebut Shinmiyangyo. Ekspedisi tersebut berusaha memaksa Korea untuk membuka diri terhadap dunia luar, terutama terhadap kekuatan Barat. Tentunya, disertai bentrokan senjata yang memakan kedua belah pihak, baik Amerika Serikat dan Joseon.

30 tahun kemudian, Eugene Choi kembali ke Joseon sebagai Kapten Korps Marinir Amerika Serikat yang bertugas di Joseon. Dia bertemu dan jatuh cinta dengan putri seorang bangsawan, yaitu Go-Ae shin (Kim Tae-ri) yang merupakan anggota Pasukan Kebenaran.

Drama ini menggambarkan bagaimana masyarakat Korea awal abad 20 menghadapi dominasi asing di negerinya. Terutama Jepang di bawah Perdana Menteri Ito Hirobumi yang berambisi menguasai seluruh Asia.

Dalam beberapa aspek mengangkat pertentangan dan paradoks kasta masyarakat. Hal ini digambarkan pada Eugene Choi, seorang tentara asing berdarah Korea tetapi memiliki asal usul seorang budak tidak bisa menikahi seorang gadis cantik dari asal-usul terpandang, di mana kakeknya adalah mentor sang Kaisar (walaupun pada akhirnya mereka menikah demi sebuah misi).

Sulitnya kehidupan seorang anak jagal yang dianggap sebagai kasta yang hina bahkan harus bersimpuh pada rakyat jelata seperti Gu-Dong Mae (Yoo Yeon-seok) dan menjadi antek Jepang agar bisa bertahan hidup.

Selain itu, fakta Ito Hirobumi (Kim In-woo) berasal dari kasta samurai yang rendah yang naik menjadi Perdana Menteri Pertama Jepang. Lee Wan-ik (Kim Eui-sung) keturunan petani dan juru Bahasa yang menjadi tokoh politik berpengaruh Pro-Jepang membolak-balikkan konsep kelas yang dianut masyarakat Joseon.

Drama ini menggambarkan tradisi konfusius dalam perjanjian pernikahan antara Kim Hee-sung (Byun Yo Han) dan Go-Ae shin, hukuman menulis analek, arsitektur, out-fit pejabat, dan prosesi pemakaman.

Meskipun demikian, terdapat penetrasi budaya Barat dalam gaya hidup masyarakat, kuliner, pakaian pejabat yang kritis terhadap Kaisar, dan infrastruktur kota Hanseong (Sebutan Seoul zaman itu).

Seperti era zaman bergerak di Indonesia, media massa seperti koran memainkan peran penting dalam propaganda dan membentuk opini masyarakat. Koran menjadi suara rakyat bahwa mereka tertindas oleh agresi Jepang sekaligus juga sebagai media propaganda bahwa Korea harus menyerah terhadap Jepang.

Joseon jatuh menjadi proteksi Jepang setelah Jepang memenangkan perang atas Rusia pada tahun 1905, di mana kemenangan Jepang oleh bangsa Indonesia dijadikan inspirasi kebangkitan bangsa Asia melawan bangsa kulit putih.

Eugene Choi yang tidak memiliki tujuan hidup, antara harus mengabdi kepada Amerika Serikat atau bersimpati terhadap keruntuhan Joseon, akhirnya memutuskan membantu Go-Ae shin. Antara hasrat cinta kepada Go-Ae shin dan simpati pada nasib “tanah airnya”.

Beberapa kali Eugene Choi membuat tindakan berani, seperti mengembalikan warkat milik kaisar, membunuh warga Amerika Pro-Jepang, menembak tentara Jepang, melatih tentara Korea, menyelamatkan anggota Pasukan Kebenaran, hingga menyelamatkan Go-Ae shin dari kejaran Black Dragon Society.

Akibat tindakannya, menyelamatkan Go-Ae shin dalam misinya di Tokyo dan menembak Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tokyo, Eugene Choi dipenjara dan diberhentikan secara tidak terhormat.

Cinta beda status dan beda kewarganegaraan mereka tidak pupus. Eugene Choi kembali ke Korea di saat situasi memburuk tiga tahun kemudian. Pasukan Kebenaran diberangus dan institusi tentara Korea dihapus. Rakyat tidak punya topangan dan Kaisar dipaksa turun tahta.

Tentara Jepang menguasai segala lini kehidupan rakyat Joseon, memburu Pasukan Kebenaran yang tersisa, termasuk Go-Ae shin. Misi terakhir Eugene Choi pun terjadi di dalam kereta menuju Manchuria. Eugene Choi wafat setelah menyelamatkan Go-Ae shin dari kepungan tentara Jepang.

Eugene Choi pada akhirnya tetap dipandang bukan kKorea, juga diragukan sebagai orang Amerika. Terkubur dalam derap perjuangan kaum revolusi kemerdekaan, terbaring “piknik” dalam tanah Korea.

Mr. Sunshine disajikan unik dengan sinematografi apik. Kualitasnya layak ditayangkan oleh Netflix.

Yang menarik tidak adegan kissing sepanjang 24 episode. Cara mengungkapkan cinta dibalut surat, kotak musik, kata love, sad ending, dan bedil.

Membaca Mr. Sunshine, yaitu Eugene Choi secara reflektif, mengingatkan pada para pejuang seperti Tan Malaka yang berakhir tragis. Ia diperlakukan tidak tepat dan dicap sebagai liyan karena berbeda pandangan politik dan dieksekusi. Padahal memiliki andil dalam pergerakan kemerdekaan.

Pramodya Ananta Toer yang membuka kenyataan pertentangan kelas masyarakat Jawa dan bergerak sebagai seniman ber-afiliasi kiri diberangus dan diasingkan di Pulau Buru, karya-karyanya dilarang semasa Orde Baru. Padahal ia-lah yang secara apik mendokumentasikan secara sastrawi sosok Tirto Adhi Soerjo.

Bahkan salah satu Pendiri NU, seorang ulama progresif berpikiran ke depan, KH. Mas Alwi Abdul Aziz Azmatkhan Basyaiban menerima perlakuan buruk dari konstruksi sosial masyarakat awal abad 20 di Jawa.  Ia ikut berlayar untuk melakukan riset mengenai pergerakan Islam di dunia di Eropa dicoret dari silsilah keluarga dan dikafirkan.

Masyarakat Jawa ketika itu memandang orang yang berlayar sarat dengan perbuatan nista, seperti zina dan minum-minuman. Seorang bangsawan Ampel Surabaya seperti Mas Alwi tidak sepantasnya melakukan hal tersebut.

Dari fiksi dan refleksi sejarah antara dua bangsa yang memiliki tanggal kemerdekaan yang hampir bersamaan, kita harus berpikir bahwa tujuan kita mewujudkan masyakarat yang memiliki potensi sama untuk menyumbangkan yang terbaik bagi bangsa, apa pun latar belakangnya. 

Tentunya dengan ikut mengangkat pendidikan, tingkat literasi, mengentaskan kemiskinan, menjadi bangsa yang diharapkan oleh para pahlawan kita, Mr. dan Mrs. Sunshine kita.