Siapa saja yang pernah membaca buku-buku Pidi Baiq pasti setuju bahwa orang ini suka iseng. Cobalah baca buku-bukunya yang judulnya drunken-drunken-an itu.

Bagi yang belum pernah membacanya, saya akan kutipkan salah satu adegannya (tapi saya lupa ini ada di buku yang mana).

Suatu malam Piqi Baiq memanggil tukang nasi goreng yang lewat di depan rumahnya. Sebenarnya hanya ia sendiri yang akan makan nasi goreng. Tapi dia pesan dua piring.

Nasi goreng yang kedua yang ia pesan bukan sebagai makanan tambahan bila ia merasa kurang kenyang dengan nasi goreng pertama. Itu juga bukan nasi goreng untuk istrinya. Nasi goreng itu ternyata diberikan kepada si tukang nasi goreng supaya dimakan saat itu juga bersama dengannya. Supaya ia punya teman makan nasi goreng. Mau tak mau, si mamang tukang nasi goreng memakan masakannya sendiri.

"Masa saya makan sendiri sementara si mamang tidak?" kata Pidi Baiq yang kerap dipanggil ayah atau surayah.

Keisengan-keisengan menyenangkan semacam itu kerap dilakukan Pidi Baiq, setidaknya itu yang saya tahu setelah membaca buku-bukunya. Dan sifat iseng itu juga secara tidak sadar (atau malah sadar dan disengaja?) bermunculan di novel larisnya yang berjudul Dilan itu.

Sifat Dilan yang iseng (selain tentu saja romantis) di dunia fiksi sepertinya setali tiga uang dengan kepribadian Pidi Baiq di dunia nyata. Menurutnya, bermain-main itu perlu dilakukan selama menjalani kehidupan di dunia karena hidup akan sangat monoton bila dijalani semuanya dengan sangat serius dan biasa-biasa saja.

Maka, ketika ia menulis novel serius berjudul Helen dan Sukanta tentang sejarah ketika Indonesia masih bernama Hindia Belanda, saya penasaran dengan isinya. Dalam hati saya bertanya, bisakah Pidi Baiq serius bercerita tentang sejarah (atau lebih tepatnya sesikit potongan sejarah) Hindia Belanda, khususnya tahun 1930 sampai 1940-an yang menjadi setting waktu ceritanya? Atau sama saja seperti buku-bukunya yang lalu yang banyak mengeksplorasi keisengan yang melahirkan gelak tawa.

Helen dan Sukanta

Pada dasarnya novel Helen dan Sukanta adalah novel dengan tema cerita cinta terlarang. Helen Maria Eleonora sang remaja keturunan Belanda yang lahir dan besar di Tjiwidei (Ciwidey) yang saat itu masih bagian dari Hindia Belanda dan merupakan daerah jajahan Belanda. 

Helen dibesarkan di keluarga Belanda penganut Katolik yang karena berasal dari Eropa dan menjunjung tinggi nilai Eropa secara status sosial kala itu berada jauh di atas pribumi. Tapi cinta tak memandang status sosial. Helen jatuh cinta pada pria pribumi bernama Sukanta yang biasa dipanggil Ukan yang beragama Islam.

Awalnya hubungan Helen dengan Ukan hanya sebatas teman. Seiring berjalannya waktu, hubungan pertemanan itu berubah menjadi jalinan asmara. Helen pun tidak ragu-ragu mengungkapkan perasaannya kepada Ukan (hlm 146), meski Ukan tidak pernah secara terang-terangan mengucapkan perasaannya kepada Helen.

Helen jatuh cinta pada Ukan karena ia memberikan pengalaman-pengalaman menakjubkan dan menyenangkan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Naik bukit, berenang di pancuran dan sungai, naik kerbau, makan belalang, makan petis, makan sambal terasi, membangunkan orang untuk sahur, mencari belut, dan sejumlah pengalaman seruai adalah hal-hal yang tidak pernah dilakukan bahkan tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Helen akan bisa ia alami karena keluarganya menerapkan aturan ketat agar Helen tidak keluar rumah apalagi bergaul dengan pribumi kecuali untuk sekolah.

Hubungan Helen dan Ukan tentu saja ditentang oleh papa Helen bernama Adriaan dan juga pamannya Bijkman. Mereka tidak suka Helen bergaul dengan si anak kampung itu karena akan memengaruhi posisi kelas sosial mereka. 

Ukan juga membawa dampak buruk karena Helen menjadi seorang pembohong dan suka membantah perintah orang tua. Apalagi papa Helen mau menjodohkan anak semata wayangnya itu dengan Cornelis yang merupakan anak dari keluarga Belanda teman papanya.

Maka, skenario agar Helen dapat dipisahkan dengan Ukan dibuat. Ukan dilenyapkan dari Tjiwidei oleh paman Bijkman tanpa ada siapa pun tahu di mana rimbanya, termasuk embu, ibu Ukan. Sementara Helen dikirim studi ke Bandung agar tidak pernah bisa bertemu sering-sering dengan Ukan.

Skenario itu rupanya berhasil. Ukan hilang entah ke mana. Helen meyakini Ukan sudah mati. Akhirnya Helen mengikuti saran ayah dan pamannya untuk melanjutkan sekolah di Bandung. 

Di sana Helen secara perlahan mulai bisa mengisi hari-harinya dengan kesibukan sekolah dan bergaul dengan teman-temannya tanpa memikirkan Ukan lagi. Bahkan secara perlahan ia menjalin hubungan dengan teman prianya yang kaya raya bernama Hans. Meski perasaan yang dimiliki Helen terhadap Hans lebih pada perasaan kasihan dibandingkan sayang, namun saat itu Hanslah yang paling gigih mendapatkan perhatian dan cinta Helen.

Tiba-tiba secara mengejutkan Ukan muncul di hadapan Helen setelah sekian lama menghilang. Ukan bercerita bahwa ia harus berpindah-pindah tempat agar tidak ditemukan oleh orang-orang suruhan paman Bijkman yang menginginkan nyawanya. Bahkan ia tidak berani ke Bandung untuk sekadar memberi tahu kabar kepada Helen karena yakin orang-orang Bijkman juga memantau Helen. Baru setelah Bijkman tidak lagi bekerja di perusahaan papa Helen di Tjiwidei, Ukan berani muncul dan menampakkan diri.

Hancurnya rumah tangga paman Bijkman dengan istrinya membukakan mata papa Helen bahwa yang selama ini ia yakini benar ternyata keliru. Ia telah salah mengatur kehidupan anaknya. Ia sadar anaknya Helen tidak bahagia dengan aturan yang dibuatnya, termasuk melarang berhubungan dengan Ukan. Maka sejak saat itu papa dan mama menyetujui hubungan Helen dan Ukan. Helen dan Ukan akhirnya menikah (hlm 303) dan setelahnya Helen hamil.

Di saat-saat semua kesedihan dan kesusahan berubah menjadi kebahagiaan, tentara Jepang datang dan menjajah Hindia Belanda. Suasana Hindia Belanda menjadi kacau. Helen dan Sukanta pun terpisah untuk selamanya karena situasi perang. Sampai Helen dipulangkan ke Belanda ketika rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaan dan kedaulatannya dan tidak ingin lagi kehidupan masyarakatnya diatur oleh orang-orang Belanda.

Maka, setelah membaca seluruh novel Helen dan Sukanta, saya terkejut. Bagaimana bisa Pidi Baiq yang selama ini menulis cerita-cerita pribadi kesehariannya dengan selengean, iseng, dan penuh kekonyolan berubah menjadi pencerita yang serius dengan riset yang tidak main-main? Bagaimana pula dia yang selama ini menulis novel Dilan dengan banyak dibumbui hal-hal selengean dan konyol bisa menulis novel lain dengan serius dan menuliskannya dengan sabar dari awal sampai akhir?

Bila dibandingkan, novel Dilan dan novel Helen dan Sukanta yang dibuat Pidi Baiq seperti lagit dan bumi. Jauh berbeda. Perbedaan ini bukan dalam konotasi negatif namun positif. Saya ingin bilang, Pidi Baiq tidak hanya berhasil mengemas cerita konyol dan lucu seperti buku drunken-drunken-an dan Dilan, tetapi dia juga bisa menulis sesuatu yang serius dengan mengesankan.

Data Buku

  • Judul: Helen dan Sukanta
  • Penulis: Pidi Baiq
  • Penerbit: The Panas Dalam Publishing
  • Tebal: 364 halaman