Di akhir pembelajaran semester ganjil yang lalu, merupakan hari yang berbahagia bagi keempat siswa yang tinggal di pelosok daerah yang mendapat kendala daring, karena pihak sekolah tempat saya mengajar berhasil menginisiasi pertemuan menggunakan video confrence via Google Meet antara mereka dengan wali kelasnya.

Setelah berhasil terhubungnya semua personal, akhirnya acara tersebut berhasil dibuka jam 13.30 Wib. Saat terjadinya daring tersebut, semua siswa sedang berada di lokasi yang mereka berjuang untuk mendapat akses internet, seperti ada siswa sedang berada di atas pohon setinggi 6 meter, ada juga sedang berada di suatu tempat yang harus berdekatan dengan tower yang ditempuh dengan medan yang cukup sulit, berada di tempat yang dirancang untuk belajar dengan ketinggian  3 meter di sekitar rumahnya, bahkan ada juga salah satu siswi berada di Gunung Pola. Inilah suasana pembelajaran daring yang selama ini mereka lakukan untuk bisa ikut melanjutkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) walau dalam keterbatasan. Mereka sesekali bersedih karena tidak bisa mengikuti pembelajaran daring disebabkan kondisi cuaca buruk yang menyebabkan medan yang mereka harus tempuh cukup sulit untuk dilalui.

Kemudian terjadi diskusi antara wali kelas dan para siswa, ada rasa gembira terpancar dari wajah mereka dari diskusi tersebut ketika mereka satu persatu menceritakan kondisi yang sebenarnya saat mereka PJJ selama ini. Di tengah-tengah acara tersebut, beberapa wali kelas mengapresiasi  atas perjuangan mereka yang tetap melakukan pembelajaran jarak jauh walau dalam keterbatasan karena betapa banyaknya siswa yang di tinggal di kota-kota yang semua sudah tersedia fasilitas yang lengkap namun masih ada di antara mereka yang masih bermalas-malasan dan tidak mau belajar.

Sebenarnya para siswa masih ingin berkomunikasi lebih lama dengan wali kelas mereka, namun seorang siswa yang sedang berada  di sebuah gunung bernama Gunung Pola sedang terjadi hujan sehingga acara video confrence itu segera diakhiri. 

Di akhir acara tersebut, seorang wali kelas yang juga guru agama berpesan agar mereka tetap bersabar dan jangan putus asa karena kondisi yang mereka yang sulit dan guru tersebut mendoakan mereka semoga apa yang mereka lakukan mendapat kemudahan dan diberkahi oleh Allah dan mengabulkan apa yang mereka cita-citakan. Akhirnya acara tersebut ditutup pada pukul 14.40 Wib.

***

Kisah di atas menggambarkan upaya untuk memperlihatkan perjuangan beberapa siswa yang tinggal di pelosok-pelosok daerah untuk mendapatkan jaringan internet.  Berbagai cara mereka tempuh dan harus berpindah  tempat mulai dari memanjat pohon sampai mendaki gunung agar bisa melakukan PJJ di saat pandemik Covid-19. Hal ini mereka lakukan sebagai tanggung jawab sebagai seorang siswa dan tidak ingin mengecewakan orang tua mereka. Mereka masih bisa melakukan PJJ walau dalam keterbatasan.

Sangat berbeda dengan siswa yang tinggal di daerah perkotaan yang sudah mempunyai sarana dan prasarana yang cukup memadai untuk mendukung sistem PJJ.  Hal ini tentunya berdampak positif kepada sebagian besar siswa karena  pembelajaran daring ini memberikan pengalaman yang baru bagi pendidik dan peserta didik. Namun ada sebagian siswa yang tidak memanfaatkan fasilitas tersebut untuk  hal yang mendukung pembelajaran daring, bahkan mereka gunakan untuk hal yang negatif seperti judi online, kecanduan game online, melihat video porno yang menyebabkan rusaknya mental dan menyebabkan melakukan kejahatan lainnya.

Ini bisa dilihat dari fenomena sering berkumpulnya yang diduga adalah siswa-siswi karena tidak memakai pakaian sekolah, di sebuah cafe di siang hari. Seperti yang diceritakan dari pelayan kafe, bahwa sering terlihaat beberapa orang laki-laki dan perempuan dengan usia 16-17 tahun dengan memakai pakaian biasa yang nongkrong bercanda ria di tempat tersebut mulai dari buka jam 11.00 sampai jam 18.00. Kita tidak tahu apa yang dikerjakan mereka yang pasti mereka tidak ikut belajar saat PJJ diberlakukan kembali di semester genap ini.

Informasi dari rekan mengajar bahwa tingkat ketidakkehadiran siswa saat PJJ yang lalu juga  sangat tinggi bahkan ada beberapa siswa yang tidak pernah ikut sama sekali saat pembelajaran daring selama 1 semester. Hal ini bisa diketahui dari pelaporan guru kepada wali siswa. Upaya pemanggilan siswa yang bersangkutan bahkan pemanggilan orang tua untuk mencegah anak dari prilaku moral yang kurang baik tidak berlanjut.

Salah satu penyimpangan moral saat PJJ di kota lainnya adalah maraknya judi online melalui game. Sebagaimana diceritakan Nelliani, M.Pd seorang Guru SMA Negeri 3 Seulimeum, Aceh Besar  bahwa di samping virus Covid 19 juga merebaknya virus game judi online mewabah di Aceh khususnya menimbah kalangan anak-anak remaja Game judi online asal China ini sangat cepat popular di kalangan pengguna HP Android. Game ini sangat mudah dimainkan sehingga membuat penggunanya mudah sekali kecanduan. Ibarat virus, game ini berdampak buruk bagi penggunanya, mulai dari memburuknya kesehatan, menyebabkan gangguan kejiwaan, dampak finansial sampai menyerang masalah akidah. Fenomena kecanduan game online menambah daftar panjang persoalan moralitas dikalangan remaja dan pelajar selama pandemik Covid 19.

***

PJJ sudah berlangsung satu semester, dan saat ini tetap berlanjut mengingat penyebaran Covid-19 terus meningkat bahkan korbannya juga terus meningkat.  Siswa-siswa tetap melakukan pembelajaran dari rumah mereka, baik yang tinggal kota atau di pelosok daerah yang masih tetap melaksanakannya walau dalam keterbatasan.

Dari gambaran diatas  nampak sekali kesenjangan pelaksanaan PJJ antara di kota dan di pelosok desa, kemudian sampai kapan kesenjangan tersebut berakhir.

Penulis, Guru SMK Telkom Medan & Dosen Politeknik Ganesha Medan