Mahasiswi
1 tahun lalu · 238 view · 4 menit baca · Lingkungan 60182.jpg
dailymail.co.uk

Kesenjangan Manusia dengan Alam

Orang Utan dan Penyelamatan Fauna Indonesia

Kalimantan dengan segala keindahannya, tersemat  banyak nama yang menggambarkan pulau Ini dengan Julukan Zamrud katulistiwa, paru-paru Dunia dan kota seribu sungai. namun Julukan bagi pulau kalimantan yang sekarang hanya menjadi sebuah nama kenangan, kenangan tentang kalimantan yang lawas. 

Wajah hutan kalimantan tak Indah seperti beberapa tahun silam dimana Luas hutan kalimantan adalah yaitu sekitar 40,8 juta hektar.  Namun beriringan dengan laju deforestasi di Kalimantan. Menurut data yang dikeluarkan Departemen Kehutanan, Angka deforestasi di Kalimantan pada 2000 sampai dengan 2005 mencapai sekitar 1,23 juta hektar.  Artinya sekitar 673 hektar hutan di Kalimantan mengalami deforestasi setiap harinya pada periode tersebut. Sementara itu menurut Greenpeace, hutan di Kalimantan hanya tersisa 25,5 juta di tahun 2010, Bukan Prestasi yang membanggakan.

Hutan Kalimantan tempat bernaung berbagai macam satwa salah satunya adalah Orangutan dengan nama latin Pongo pygmaeus beserta sub-spesiesnya Pongo pygmaeus morio adalah spesies Orangutan yang bertubuh lebih kecil. salah satu spesies primata Langka yang di Lindungi oleh Undang-Undang karena populasinya merosot sehingga Semua sub-spesies orangutan Borneo adalah spesies langka dan sepenuhnya dilindungi oleh Undang-Undang di Indonesia. Spesies ini diklasifikasikan oleh CITES ke dalam kategori AppendixIspesies yang dilarang untuk diperdagangkan secara komersial internasional karena sangat rentan terhadap kepunahan.

Deforestasi dilakukan untuk memperluas pembangunan dan Industri besar terutama kelapa sawit yang sebenarnya ikut berkontribusi merusak habitat satwa di alam liar, dengan hutan yang terus tergerus oleh pembangunan menggeser habitat satwa sehingga terjepit diantara Masyarakat dan konflik tidak dapat begitu saja di hindari karena perebutan wilayah.

Beberapa tahun berfokus pada berita pelestarian fauna tentunya kalimantan dan Orangutan menjadi salah satu Primadona yang selalu dinantikan kabarnya, Kabar konflik antara manusia dengan Orangutan yang penyebab utamanya adalah wilayah, saya akan mulai saja sekarang untuk membahas ini. 

Beberapa penjelasan di atas mengenai kondisi Hutan Kalimantan yang semakin lama menggerus Habitat asli Primata Pintar ini adalah faktor Utama kenapa konflik terjadi, Setiap mahluk yang hidup tentunya perlu mengisi perut. bedanya manusia perlu tiga hal yaitu Sandang, Pangan dan Papan Sedangkan Orangutan yang hanya membutuhkan dua hal yaitu Pangan dan papan, maka dalam hal ini Makanan yang di dapat bergantung pada Rumahnya yang artinya Rumah adalah sekaligus tempat mencari makan si Primata Pintar ini.  jika rumahnya hancur maka tidak ada makanan lagi. 

Dan ahirnya Orangutan yang lapar seringkali memasuki wilayah manusia dan mencuri makanan dari Hasil kebun, karena wilayahnya sangat berdampingan manusia yang tidak bisa mentolerir tindakan ini pastinya berang dan melakukan tindakan untuk mengusir bahkan sampai bisa membunuh Primata yang di Lindungi ini seperti kasus di Kampung Parit Wadongkak, Desa Wajok Hilir, Pontianak, Kalimantan Barat, Orangutan yang masuk ke daerah penduduk tidak sengaja ikut terbakar, niat warga ingin mengusir dan menakut-nakuti dengan membakar pohon Justru mencelakai Primata malang tersebut dengan luka bakar yang cukup parah. Tim dari BKSDA (Badan Kelestarian Sumber Daya Alam) setempat berhasil mengevakuasi namun sayangnya Primata malang tersebut mati kerena Dehidrasi dan Stres.

Kemudian beberapa kasus lainnya adalah Orangutan yang menjadi santapan Warga di kalimantan mungkin ini sering terjadi namun yang tertangkap hanya tiga kasus dalam tiga tahun berturut, tidak hanya menjadi santapan warga Orangutan seringkali di jadikan sasaran tembak pemburu amatiran yang berburu untuk kesenangan ataupun untuk dimakan. dari perburuan liar yang sudah pasti ilegal ini ternyata belum selesai dari sekedar menjadikan Orangutan sasaran Tembak yang menewaskan Orangutan dewasa, seringkali Induk Orangutan yang masih menggendong bayi, bayinya di ambil dan di jual dengan harga Fantastis untuk para Kolektor satwa langka secara ilegal, lokal maupun jaringan Internasional dengann cara Penyeludupan. 

Dan penyeludupan secara ilegal ini tentunya tidak memenuhi syarat keselamatan sehingga pada kasus tertangkapnya penyeludupan beberapa selamat dan beberapa mati karena Dehidrasi, yang paling ironis sempat tersebar  kabar angin di telinga saya bahwa satu kepala Orangutan dihargai 5 juta rupiah oleh produsen kelapa sawit karena keberadaannya yang sering menjadi hama untuk perkebunan kelapa sawit. kemudian kasus Orangutan yang terbakar hidup-hidup di Indonesia menjadi pusat perhatian Dunia.

Padahal Orangutan Berkontribusi sebagai Seed Disperser, memegang peranan penting untuk Regenerasi tanaman di hutan melalui biji-bijian yang telah dimanaknnya. Ini merupakan manfaat orangutan yang paling penting dari peranannya bagi kehidupan manusia. Orangutan dapat membantu Regenerasi berbagai jenis tumbuhan yang ada di dalam hutan. 

Orangutan ketika memakan tumbuhan ataupun buah akan membuang biji tanaman dan buah tersebut itu di sembarang tempat di dalam hutan dan jatuh ke tanah lalu menjadi Tumbuhan yang berperan penting untuk Oksigen, mengurangi efek rumah kaca dan Reboisasi hutan secara alami. Hal ini tentunya akan menguntungkan manusia juga namu sayangnya manusia masih belum mengerti cara Alam bekerja.

Berangkat dari semua yang telah saya Uraikan saya menilai dari kedua sisi yaitu Peran Masyarakat dan Kinerja Pemerintah setempat.

  1. Kurangnya Lembaga/Organisasi dalam melibatkan masyarakat secara langsung pada sosialisasi konservasi
  2. perlunya ada evaluasi mengenai perizinan Industri kelapa sawit dalam skala kecil maupun Besar dan Industri yang lain memerlukan lahan
  3. Penegakan hukum yang jelas dan tegas untuk pelanggar
  4. pos penjagaan di daerah yang bersebelahan dengan hutan 
  5. peningkatan sosialisasi kepada masyarakat secara langsung 

Baiklah, dari semua yang saya sampaikan. antara pemerintah dengan masyarakat perlu ada kerjasama yang baik. pemerintah butuh masyarakat untuk menjalankan otoritasnya tapi masyarakat juga butuh ketegasan dari pemerintah untuk mengatur lahan dan lingkungan.