Rembulan kian surut, menghadirkan secercah cahaya matahari yang berwarna merah, kita menyebutnya dengan fajar. Pagi hari selalu mengingatkan kepada manusia bahwa waktu berjalan tanpa terasa. Maka, setiap tahun mengundang beberapa kebosanan yang kita hadapi.

Akhir tahun menjadi waktu yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang, karena dalam kurun waktu tersebut terdapat jeda waktu liburan panjang yang diawali oleh perayaan Natal dan akhir tahun. Dimana-mana orang sedang rehat sejenak dalam kesibukan mereka masing-masing.

Banyak faktor yang menyebabkan liburan akhir tahun menjadi sesuatu yang dinantikan oleh orang-orang. Faktor utama hal tersebut ialah orang-orang menjadikan akhir tahun sebagai pelampiasan dalam mengarungi waktu setahun yang telah berlalu.

Bagaimanapun, awal tahun ialah sebuah masa di mana orang-orang kembali berharap dengan harapan yang lebih baru dan tentunya lebih baik. Harapan yang menjadikan orang-orang untuk kembali hidup, gairah akan tandusnya kehidupan yang selama ini datang bertubi-tubi.

Piknik ketika liburan menjadi salah satu pilihan bagi orang-orang untuk menikmati sisa waktu yang tersedia di kala rutinitas menjadi momok yang membosankan. Piknik ke tempat wisata bersama orang-orang terdekat merupakan tujuan dalam menghabiskan waktu liburan. Momen tersebut terhitung sebagai suatu hal yang langka.

Rutinitas pekerjaan telah membelenggu orang-orang untuk sekedar bersantai, melepaskan lelah dan stress agar tahun depan dapat dijalani dengan semangat. Meskipun tahun depan tetap memiliki misteri tersendiri yang siapapun tidak tahu tentang apa yang akan terjadi.

Namun hal tersebut hanya dilakukan oleh orang-orang yang telah mapan, orang-orang yang berekonomi menengah ke atas. Berbeda halnya dengan orang-orang ekonomi ke bawah. Mereka akan tetap bekerja. Tidak ada hari libur bagi mereka. Kebutuhan hidup yang kian sulit, membuat mereka untuk menikmati hidup dengan bekerja.

Realita ini memang benar-benar terjadi. Orang-orang yang tinggal dalam perumahan, akan berlibur ke tempat di mana mereka akan menemukan orang-orang yang tetap bekerja di hari libur. Mereka akan menghabiskan uang mereka dengan bersenang-senang menikmati liburan, dan orang-orang ekonomi menengah ke bawah akan bekerja agar orang-orang yang berasal dari kota merasa nyaman.

Lalu setelah itu, buah hati mereka akan menulis kisah liburan mereka dengan riang gembira. Betapa mengasyikkan menjadi mereka, memiliki keluarga yang sanggup liburan ke mana saja, tanpa perlu merasa pusing ketika isi dompet mereka menipis.  Namun yang perlu diingat ialah hal tersebut hanya terjadi di perkotaan.

Berbeda halnya dengan para anak kecil di pedesaan. Mereka akan menghabiskan waktu liburan mereka dengan bermain di sawah, menangkap ikan, maupun sekedar melihat film-film di televisi yang hanya tayang ketika liburan. Maklum, di pedesaan tidak ada bioskop seperti di kota. Apalagi taman-taman yang penuh dengan tempat bermain.

Namun, ada yang lebih miris lagi, yakni anak-anak kecil yang ketika liburan diharuskan membantu orang tuanya dalam mencari nafkah, ikut berladang, menggembalakan hewan ternak, maupun berjualan di pasar. Mereka akan tetap melakukan hal tersebut sampai menginjak usia dewasa.

Lalu ketika mereka merengek menginginkan liburan ke tempat-tempat wisata kepada orang tuanya, walaupun hanya sebentar. Namun hal tersebut cukup membuat orang tua mereka merasa pusing, orang tua yang menggelengkan kepala tanda tidak setuju, meskipun hati kecil mereka ingin rasanya menuruti keinginan buah hati mereka.

Bahwa mereka sebenarnya ingin berterus terang bahwa dompet mereka hanya sekedar cukup untuk makan sehari-hari.

Saya menyadari bahwa liburan merupakan salah satu pembeda dalam menilai kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat. Kesadaran kita akan hal ini memang masih minim, karena kita mampu untuk merasakan bahagianya liburan bersama keluarga. 

Namun, kita enggan untuk memikirkan keinginan-keinginan bocah kecil yang harus tetap mengamen di jalanan. Padahal mereka juga berhak selama hidupnya untuk merasakan liburan.

Namun keinginan itu terhalang oleh nasib yang mereka bawa sejak lahir, yang tidak ada siapapun peduli dengan nasib menyedihkan mereka. Bahkan untuk makan saja mereka mencarinya dengan bersusah payah. Berbeda dengan kita yang terjamin dalam segala hal.

Saya hanya mempunyai impian, tentang membahagiakan manusia dengan adil dan menyeluruh. Dengan senyuman-senyuman yang mekar, yang melahirkan rasa senang ketika memandangnya, senyum yang tulus. 

Entah bagaimana caranya, yang pasti saya akan berusaha dengan cara yang saya pilih, agar manusia-manusia yang hidupnya hanya berisi tentang pekerjaan yang tidak mengubah hidupnya, merasa bahagia, dan tentu saja berharga.

Tempat-tempat wisata itu, hanya diperuntukkan bagi mereka-mereka yang mempunyai penghasilan yang berlipat ganda dengan cepat. Bagi mereka, menghabiskan liburan dengan bersenang-senang merupakan hal yang lumrah. Saya tidak menemukan gairah terhadap orang-orang seperti itu, mereka hanyalah orang-orang jahat yang tidak memiliki belas kasihan dalam mencari pundi-pundi rupiah.

Mereka bekerja dengan mengeksploitasi orang-orang yang takkan pernah lahir kembali, membuangnya ketika telah tidak berguna dalam rutinitas semu. Dan semestinya, saya yakin Anda dapat menilai bahwa kesenjangan kebahagiaan itu nyata adanya. Dengan demikian, liburan yang baik ialah dengan memperbaiki kesibukan.